Tokoh

Douglas Macarthur, Doa Seorang Ayah

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Sun, 10 July 2016 - 10:58 | Dilihat : 1410

Douglas MacArthur lahir di Little Rock, Arkansas pada tanggal 26 Januari 1880 – 5 April 1964. Ayahnya adalah letnan jenderal Arthur MacArthur, Jr., penerima Medal of Honor, dan ibunya Mary Pinkney Hardy MacArthur dari Norfolk, Virginia. Douglas MacArthur adalah cucu dari politikus Arthur MacArthur, Sr. Ia dibaptis di Christ Episcopal Church pada 16 Mei 1880. Ayah MacArthur ditugaskan di San Antonio, Texas, pada 1893. Di sana, Douglas bersekolah di West Texas Military Academy dan kemudian United States Military Academy di West Point pada 1898.
Ia adalah Kepala Staf Angkatan Darat AS pada tahun 1930-an dan kemudian berperan penting dalam Perang Dunia II. Ia ditugaskan untuk memimpin invasi ke Jepang pada November 1945, dan kemudian menerima penyerahan Jepang kepada Sekutu pada 2 September 1945. selain itu, dia juga dijadikan kepala staf dan penasihat Angkatan Bersenjata Fillipina (1930). Selain sebagai seorang jenderal yang sangat ternama dimasa Perang Dunia II. Ia merupakan pemimpin yang sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan. Dan beliau adalah seorang bapak yang sangat baik dalam mendidik anaknya. Pada bulan Mei 1952 beliau menulis puisi yang sangat terkenal, merupakan doa dan harapannya pada sang anak yang pada saat itu masih berumur 14 tahun. Di dalamnya ia menaruh sebuah harapan besar kepada anaknya. Puisi tersebut diberinya judul “A Father's Prayer".
Ya Tuhan, bentuklah putraku, menjadi cukup kuat untuk mengetahui kapan ia lemah, dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri ketika ia takut, seseorang yang akan percaya diri dan mengakui dengan jujur kekalahannya, serta rendah hati dan lembut dalam kemenangan.
Bentuklah putraku, agar keinginannya adalah untuk tidak mengambil tempat dalam kumpulan pendosa, seorang anak yang mengenal Engkau, dan yang mengenal dirinya sendiri sebagai dasar dari segala pengetahuannya.
Aku mohon, tuntunlah ia, bukan di jalan yang mudah dan nyaman, tetapi di bawah tekanan dan desakan, kesulitan dan tantangan. Biarkan ia belajar untuk berdiri di tengah badai, biarkan ia belajar untuk mengasihi mereka yang gagal.
Bentuklah putraku untuk memiliki hati yang jernih, yang memiliki cita-cita luhur, seorang yang dapat memimpin dirinya sendiri sebelum dapat memimpin orang lain, seorang yang akan mencapai masa depan, tetapi tidak pernah melupakan masa lalu.
Dan setelah semua hal ini ia miliki di dalam dirinya, aku mohon, tambahkanlah, rasa humor yang cukup dalam dirinya, sehingga walaupun ia selalu serius, namun tidak pernah menganggap dirinya terlalu serius. Berikanlah ia kerendahan hati, sehingga ia dapat selalu mengingat kesederhanaan dari kebesaran yang sejati, pikiran terbuka atas kebijaksanaan, dan kelembutan dari kekuatan sejati.
Dengan demikian, aku, ayahnya, akan memberanikan diri untuk berbisik, "Hidupku ini tidaklah sia-sia!"
Oleh: Nikodemus Rindin/db

Lihat juga

Komentar


Group

Top