Mengenal Alkitab

Yang Dimurkai, Yang Dirahmati

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 4 August 2016 - 08:44 | Dilihat : 785

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahankesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan”

(Ef 2:4-5)

RASA “Manusia Lama” sangat tepat mewakili kondisi manusia seperti digambarkan oleh Paulus pada ayat sebelumnya. Bagaimana manusia dengan natur lamanya itu berbuat sekehendak hatinya, lebih menuruti hawa nafsu. Lebih menuruti kehendak kedagingan

dan tunduk atawa taat pada pikiran yang jahat. Sebuah lukisan manusia yang menururt Paulus sudah barang tentu patut dan layak untuk dimurkai. Menariknya pernyataan itu tidak saja ditujukan kepada orang lain. Tapi dipakai Paulus untuk menggambarkan bagaimana keadaan dirinya sendiri. “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain,“ demikian kata Paulus (Ef 2:3). Ganjaran sebesar apa yang patut diberikan untuk orang yang patut dimurkai. Bukankah kebinasaan kekal adalah ganjaran yang sudah sangat tepat? Tetapi betapa luarbiasa Allah yang kaya dengan rahmat; dan oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada manusia binasa, yang menurut KBBI berarti rusak sama sekali; hancur lebur; musnah, justru diselamatkan (Ef 2:4). Allah yang luarbiasa besar kasihnya itu justru menghidupkan manusia. Manusia yang telah mati oleh kesalahan-kesalahannya sendiri, oleh kasih karunia Allah diselamatkan. Oleh karya Allah manusia dipersatukan kembali dalam Kristus.

Pada bagian ini (2:4-5) melukiskan sebuah kontras yang begitu jelas tentang bagaimana sikap manusia yang selalu menentang Allah dan mati karena perbuatannya itu, dengan bagaimana Allah yang welas asih itu justru menunjukkan anugerah yang begitu besar terhadap manusia. Karya dan perbuatan Allah terhadap manusia berbanding terbalik dengan apa yang manusia perbuat terhadap Allah. Manusia oleh perbuatannya patut dimurkai. Tetapi Allah justru memberikan rahmatNya kepada orang yang harusnya diberi ganjaran setimpal (binasa) atas perbuatannya itu. Bicara tentang Allah menyelamatkan, Paulus menggambarkan dengan sangat menarik, Allah yang KAYA RAHMAT, dengan KASIH-NYA YANG BESAR, kemudian MELIMPAHKAN itu semua kepada manusia, untuk menghidupkannya. Menunjukkan betapa luarbiasa Kasih Allah.

Tidak saja kontras yang ditunjukkan, bagian ini juga menegaskan tentang siapa yang aktif dan siapa yang pasif. Seperti telah disinggung juga diatas, dengan kondisinya yang rusak sama sekali; dan hancur lebur, manusia tidak mungkin bertindak aktif menyelamatkan diri. Seperti orang yang tidak bisa berenang tenggelam di sungai dalam, tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri selain berteriak dan meronta. Hanya pertolongan orang lain yang bisa berenang saja yang bisa meraih dan menolongnya. Begitu juga manusia berdosa yang telah binasa. Apa yang bisa dilakukan oleh orang dalam kebinasaan (rusak sama sekali; hancur lebur; musnah). Tidak satupun hal yang bisa dikerjakan oleh orang yang sudah binasa. Hanya orang hidup yang bisa mengusahakan sesuatu. Itulah gambaran manusia yang berdosa. Tidak satu pun hal yang bisa dilakukannnya untuk menyelamatkan diri. Masihkah orang kemudian bisa menepuk dada sembari berkata “Aku Bisa!”. Tidak, tidak satu pamrih diri manusia yang bisa menyelamatkannya dari kebinasaan. 

Lihat juga

Komentar


Group

Top