Mengenal Alkitab

Palu Meremukkan Gelas Tetapi Menguatkan Baja

Penulis : Pnt Sugihono Subeno | Mon, 15 August 2016 - 09:59 | Dilihat : 816

Kalimat di atas merupakan sebuah peribahasa dari Rusia. Mengambil arti dari kejadian hidup sehari-hari yang dapat kita lihat. Satu alat yang sama tetapi memiliki dua fungsi yang bertolak belakang. Ada manfaat yang berbeda dari sebuah alat yang sama.

Di keseharian kita, ada banyak hal yang seperti demikian. Satu hal yang sama, tetapi yang satu dapat menjadi kebaikan, yang satu lagi dapat menghancurkan. Sama-sama belajar di sekolah teologia, ada yang berhasil menjadi hamba Tuhan yang hebat, tetapi ada yang melawan Tuhan sampai akhir hidupnya. Tidak ada yang salah dengan sekolah teologianya, tetapi mengambil intisari yang keliru menghasilkan buah yang berbeda.

Sama-sama memberikan persembahan, yang satu orang untuk memuliakan Tuhan dan yang satu orang lainnya bukan, sehingga persembahannya ditolak Tuhan. Itulah peristiwa Kain dan Habil, juga peristiwa orang Farisi dan janda miskin. Sama2 mengikut Tuhan Yesus, para rasul menjadi berkat bagi umat, tetapi tidak demikian dengan Yudas Iskariot. Demikian pula dengan kehidupan kita. Beribadah di satu gereja yang sama tetapi belum tentu menghasilkan buah kehidupan yang sama. Bisa jadi malah berlawanan dengan apa yang Alkitab ajarkan.

Di dalam Yakobus3:9-10 ditulis demikian: "Dengan lidah itu kita memuji Tuhan yaitu Bapa, dan dengan lidah itu juga kita mengutuki manusia yang dijadikan atas teladan Allah. Daripada mulut itu juga keluar puji-pujian dan kutuk. Perkara yang demikian ini, hai saudara-saudaraku, tiadalah patut.".

Ada yang patut dan ada yang tidak patut untuk kita kerjakan di dalam hidup ini. Mengingat kita bukan orang-orang yang berkepribadian ganda. Apalagi sebagai umat yang telah ditebus oleh Kristus, kita dituntut untuk hidup berstandard Firman Tuhan. Seharusnya hidup kita konsisten, tidak bercabang hati dan tidak menerapkan standard ganda. Kita sebagai pribadi yang satu di hadapan Tuhan, hendaklah mengingat bahwa Lidah kita, bisa menjadi bahaya yang besar di tengah kemungkinan bahagia yang besar. Lidah kita dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang menjadi berkat, menegor, menguatkan dan mengajar orang lain mengenai kebenaran... Tetapi lidah yang sama dapat dipergunakan untuk memaki, mengumpat, mengeluh, bahkan mendukakan hati Tuhan.

"Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan." (Amsal 12:18).

Marilah kita belajar untuk selalu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu atau berkata-kata. Sebab penyesalan selalu datang lebih lambat ketimbang apa yang kita lakukan. Mempersedikit penyesalan di dalam hidup, akan membuat hidup kita lebih berarti.

Semoga hidup kita semakin berharga di hadapan Tuhan, dan manusia. Menjadi teladan, memberi pengaruh positif bagi lingkungan kita, membawa semangat baru yang menyejukkan sesama.

Lihat juga

Komentar


Group

Top