Sapaan Gembala

Beribadah Menderita

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Thu, 1 September 2016 - 10:59 | Dilihat : 940

“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus

akan menderita aniaya”(2Timotius 3:12)

Dalam KBBI, ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan kata “beribadah” adalah menjalankan ibadah; menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah. Dalam konteks Alkitab, khususnya tulisan Paulus kepada Timotius beribadah berarti, memberi respons dalam ketaatan penuh, terhormat sebagai pribadi yang hidup berkenan kepadaNya.

Sebagai seorang Rasul senior, yang menjalani hidup dalam panggilan Allah, memang tidaklah mudah. Paulus sangat mengerti dan memahami arti hidup beribadah itu. Maka dengan sungguh-sungguh ia menasehati muridnya Timotius yang masih muda itu, untuk kuat memelihara iman dan menjaga prilaku hidupnya. Kegelisahan Paulus bagi Timotius adalah hal yang sangat wajar, karena kondisi keadaan orang-orang yang dihadapi muridnya penuh dengan pertentangan. Kehidupan keangkuhan, kemunafikan, hawa nafsu yang sesat menjadi perteduhan mereka. Hidup menolak kebenaran dengan berpaling kepada cerita-cerita dongeng semata (2Tim.4:3-4). Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!(2 Tim 3:5).

Paulus mengatakan “Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya”(2 Tim 3:11). Tuhan menolong tetapi pukulan, caci maki, diusir harus diterima. Tuhan melepaskanku tetapi penganiayaan, penderitaan harus dialaminya. Siapa yang mau hidup seperti ini? Merespons dalam ketaatan penuh, justru penolakan, penganiayaan menjadi imbalannya bahkan harus diseret keluar kota dan dilempari dengan batu (Kis.14:19). Sulit bagi kita (gereja) memikirkan apalagi menerima hal seperti ini.

Beribadah sama dengan menderita! Siapa yang menginginkannya? Memahami hidup beribadah di jaman modern ini, cenderung menjadi bias dan tak menentu. Setiap hari minggu kita berkumpul untuk ibadah, tetapi apakah kita beribadah? Dengan banyaknya kegiatan ibadah yang kita lakukan, apakah kita benar-benar beribadah? Sekarang ini, banyak orang Kristen, beribadah karena ditugaskan, datang lebih awal karena harus latihan, beribadah karena disuruh Pendeta/Hamba Tuhan. Lebih dari pada itu, hadir beribadah karena harus ikut rapat sesudah ibadah. Tidak berhenti disana, tetapi banyak yang datang beribadah karena sudah lama tidak hadir dalam gereja, dan masih banyak alasan-alasan lain ketika kita beribadah.

Hidup beribadah memang tidaklah mudah. Berani memberi waktu untuk focus kepada Tuhan, dengan mengabaikan sesaat seluruh kegiatan aktifitas rutinitas kerja setiap hari. Mempersiapkan hati dengan benar, tanpa memedulikan kesenangan-kesenagan sesaat disekeliling kita. Memberi diri untuk tunduk dalam ketaatan kepadaNya, dengan tidak diganggu oleh alat-alat elektronik dalam gengaman tanganmu. Kita memang tidak menderita secara fisik seperti Paulus dan teman-temannya, tetapi memberi waktu, memberi hati, memberi diri, kepada Tuhan dengan sungguh, menjadi penderitaan orang percaya saat ini. Selamat beribadah dengan sungguh!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top