Rembrandt, Seniman, Spiritualitas Dalam Estetika

Penulis : Slawi | Wed, 7 September 2016 - 09:59 | Dilihat : 345
rembrandt.jpg

HIDUP tak sekadar apa yang tampak oleh mata.  Kehidupan adalah sekumpulan misteri yang  penuh dengan beragam tanya dan arti yang tak dapat diurai dengan pandangan mata dan visualisasi.  Tak sekadar makna dan arti, hidup juga dipenuhi berjuta keindahan estetika yang layak dinikmati, bahkan digali untuk kemudian divisualisasi dan diekspresikan kembali, sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.  Hanya orang yang memiliki jiwa senilah yang mampu merasuk ke dalam misteri kehidupan, memandang beragam hal yang tak tampak oleh mata manusia, lalu menggoreskannya ke dalam media hingga dapat dinikmati dan memberkati banyak orang.  Tak sekadar karena keindahannya, tapi juga sekumpulan misteri yang ada.  Rembrandt Harmenszoon van Rijn, pria berdarah seni yang lahir sekitar tahun 1606 di Leiden, Belanda, adalah satu di antaranya. 

Banyak orang mengenal Rembrandt sebagai seorang seniman barok Belanda, satu di antara pelukis besar dalam sejarah seni dunia. Karirnya sebagai seorang seniman dimulai dengan belajar secara bersama-sama, dari studio satu ke studio lain, di bawah   asuhan  pelukis-pelukis hebat di masanya. Satu di antaranya adalah studio Jacob van Swanenburgh.  Di masa mudanya, Rembrandt juga dikenal sebagai seorang yang berjiwa pembelajar. Tak heran jika dalam waktu singkat, 6 bulan, ia sudah dapat menguasai apa yang diajarkan seniman seniornya, Pieter Lastman, seorang pelukis sejarah asal Amsterdam, Belanda.

Sekembalinya dari Belanda, Rembrandt kembali mengasah apa yang didapatkan dari senior-seniornya.  Alhasil lebih dari 600 lukisan, dengan kira-kira 60 buah di antaranya adalah lukisan potret pun berhasil diciptakannya.  Tak berhenti sampai di situ, pergelutan antara karya seni dan spiritualitas memaksanya  untuk merasuk jauh lebih dalam lagi ke dalam menggumuli persoalan ini.  Tak sekadar mengekspresikan spiritualitasnya ke dalam kanvas, menunjukkan kepada lebih banyak orang tentang subyektifitas makna yang multi dari satu obyek tertentu, tapi juga membawa orang yang mengamati obyek tersebut merasakan jiwa dan aspek ilahi dari apa yang digambarkannya.   

Contoh konkrit yang menggambarkan hal ini adalah mahakarya sempurna: "Kembalinya Anak Hilang". Ini menggambarakan secara apik tentang betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan, indahnya kasih Bapa dengan tulus ikhlas menerima keadaan anaknya yang telah lama terhilang dan kini kembali mengharap ampun pelukannya, bersamaan dengan komitmen pertobatan yang tak lagi mengulangi kesalahan yang dilakukannya.   

Kepiawaiannya dalam menggunakan teknik "chiaroscuro" – suatu  teknik yang mengontraskan latar belakang gelap dengan semburat cahaya yang menyinari obyek dalam gambar – yang sekaligus menjadi ciri khas Rembrandt, menjadikan karya lukisnya terlihat lebih bernuansa religius.  Dengan teknik ini pula Rembrant berhasil menggambarkan "The Raising of the Cross", yang meceritakan tentang  dosa manusia dengan sangat ekspresif.  Dalam lukisan ini Rembrant juga menjadikan dirinya sebagai model dalam  “membantu” menyalibkan Kristus. Hal ini ditunjukkannya untuk menunjukkan pada banyak orang bahwa semua orang memiliki potensi besar menyalibkan Tuhan dengan segala dosa yang diperbuatnya, tanpa terkecuali dirinya (Rembrant ) sendiri, si empunya lukisan tersebut.   Dalam lukisan tersebut,  Rembrant  juga menunjukkan bahwa semua orang, termasuk dirinya sendiri tak luput dari kebutuhan keselamatan pribadi dari Kristus Sang Juru selamat itu.

Itulah Rembrant, meskipun  di masanya  banyak perupa kerap melukiskan atau setidaknya mendekati kisah dalam Alkitab dari sudut heroik kepahlawanan dari tokoh Alkitab yang luar biasa, sebaliknya  Rembrandt justru menujukkan kemanusiaan sebagaimana adanya.  Penuh dengan  cacat cela, berdosa, dan membutuhkan keselamatan. Slawi

Lihat juga

Komentar

Top