Sapaan Gembala

Kebenaran Musuhnya Pendosa

Penulis : Pdt Netsen | Wed, 7 September 2016 - 10:02 | Dilihat : 834

Pada Minggu lalu, tepatnya 28 Agustus 2016, berita tentang peristiwa bom bunuh diri di Gereja

St. Yosef, Jl. Dr. Mansur Medan. Tampaknya, Pastor yang sedang berkhotbah, menyampaikan Kebenaran Firman Tuhan di altar gereja menjadi target utama dari si pelaku. Berita tentang bom yang meledak ini langsung tersiar melalui berbagai media dan postingan atau pesan yang di broadcast, entah itu lewat BBM maupun lewat WA. Rasa cemas, panik dan takut mungkin menjadi bagian yang dialami oleh umat yang sedang melangsungkan Misa kala itu.

Upaya peledakan bom ini tentu bukan peristiwa yang baru, juga bukan gerakan radikal yang baru. Namun merupakan pengulangan dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dari gerakan-gerakan yang telah ada dan bahkan sedang ada. Hal-hal tersebut mereka lakukan sebagai upaya untuk meberangus Kebenaran dari muka bumi. Kebenaran dipandang sebagai ancaman yang berbahaya bagi manusia berdosa. Ketika manusia berdosa, manusia menjadi takut dan bersembunyi dari kebenaran (band. Kej. 3).

Oleh sebab itu, yang ditakuti oleh manusia di dalam dunia ini, sejatinya bukan bom, bukan terorisme, bukan gerakan radikal, bukan bahaya-bahaya lainnya, melainkan Kebenaran. Mengingat Kebenaran bukan sekedar membuka aib manusia di dunia, tetapi membinasakan jiwa manusia hingga di kekekalan. Sedemikian berbahayanya Kebenaran, maka segala upaya harus dilakukan untuk meniadakannya. Ia harus disingkirkan. Ia harus didiamkan. Ia harus direndahkan. Ia harus dipojokkan. Ia harus diberi nama buruk. Ia harus disalibkan. Ia harus dikubur. Ia harus mati. Segala upaya harus dilakukan asalkan satu hal: Kebenaran tidak boleh muncul ke permukaan, menampakkan wajahnya. Dalam upaya meniadakan Kebenaran, maka penguasa kerajaan dunia pernah memerintahkan untuk membunuh anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16).

Kebenaran itu sangat berbahaya… Berbahaya bagi budaya sopan-santun munafik manusia. Kebenaran adalah musuh kebodohan. Kebenaran adalah bahaya bagi nafsu-nafsu rendahan kita. Kebenaran menerangi bagian paling gelap dari kehidupan kita yang kita tidak ingin seorang pun mengetahuinya. Kebenaran menyingkapkan kecenderungan hati kita yang paling jahat. Kebenaran menyingkapkan segala kebohongan. Kebenaran menerobos masuk ke dalam hati yang paling keras seperti halnya hati seorang teroris Yahudi masa lampau bernama Paulus yang membuatnya tersungkur dan bahkan memberikan seluruh hidupnya untuk Kebenaran.

Kebenaran itu berbahaya karena ia tidak memerlukan teriakan-teriakan histeris di jalan-jalan. Sebaliknya mereka yang menganggap Kebenaran sebagai bahaya yang mematikan menghasut khalayak ramai untuk menyerukan dengan teriakan lantang “salibkan Dia” (Mrk. 15:14). Kebenaran itu berbahaya karena bahkan ketika ia dihina dan direndahkan, disiksa dan dianiaya, Ia malah mengungkapkan satu kalimat teragung dalam sejarah: "Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Sungguh Kebenaran ancaman berbahaya bagi manusia berdosa, karena Ia tidak akan pernah memberi stempel sah kepada kejahatan dalam bentuk apapun. Kebenaran akan menelanjangi perilaku dosa manusia sekalipun manusia bersembunyi dalam baju budaya, baju tahta, dan bahkan baju agama. Kebenaran akan mengusik mereka. Karena itu manusia terus berupaya untuk menihilisasi Kebenaran dari tengah-tengah dunia. Namun sayangnya, upaya manusia gagal total. Karena Kebenaran tidak dapat mati. Ia hidup sebelum segala sesuatu ada dan terus ada sampai selama-lamanya. Dialah Yesus Kristus, Tuhan yang ditakuti oleh manusia, disepanjang sejarah. Disegala abad dan segala tempat. Amin.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top