KEINDAHAN HIDUP UMAT ALLAH

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 13 September 2016 - 09:27 | Dilihat : 368
kupukupubypoogi.jpg

(Efesus 2:15-16)

Pada bagian ayat 11-12 Paulus telah mengingatkan kepada orang percaya di Efesus tentang siapa mereka. Secara jasmaniah mereka bukan orang Yahudi menurut daging. Mereka adalah orang asing, tidak terasuk orang yang bersunat yang dikerjakan oleh tangan manusia seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Secara spiritual, mereka tanpa Allah. Secara pengharapan, mereka adalah orang yang sangat malang dan suram. Sebab mereka merupakan pendosa yang berada dalam murka Allah. Mereka digambarkan sebagai orang yang jauh dari Allah. Seteru Allah. Terpisah dari Allah. Ada tembok pemisah antara mereka dengan Allah. Mereka sudah mati oleh karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa (Ef. 2:1). Tembok pemisah itu adalah dosa.Dari berbagai worldview manusia maka mereka bukan orang yang bisa diperhitungkan untuk hidup dalam damai sejahtera Allah.

Paulus juga mengingatkan orang percaya di Efesus. Bahwa mereka bukan saja pernah terpisah dan jauh dari Allah. Tetapi juga terpisah dan jauh dari sesama manusia. Ada tembok pemisah juga di antara orang-orang Yahudi dan gentiles. Mungkin secara territorial mereka tinggal di dareah dan kota yang sama, tetapi sejatinya mereka jauh dan seteru bagi sesama. Secara umum, kondisi politis dan religius dengan berbagai ritualnya telah menjadi tembok yang membatasi antara orang Yahudi dan gentiles. Mengapa bisa? Lagi, konsekuensi dari dosa. Bagaimana semuanya itu dapat diatasi dan siapa yang bisa mengatasinya?

Sekarang Paulus menjelaskan bagaimana Allah telah mendekatkan mereka dengan-Nya dan menjadikan mereka satu umat. Perseteruan Allah dengan orang percaya di Efesus dan antara mereka dengan orang-orang Yahudi telah dirubuhkan oleh kurban darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Perseteruan telah didamaikan. Kristulah kurban damai perseteruan antara manusia dan Allah, juga antara manusia dengan sesama (ayat 14). Tidak hanya tembok pemisah antara manusia dan Allah yang rubuh, tetapi tembok pemisah antara orang-orang Yahudi dan gentiles pun dihancurkan.

Dalam kedua ayat ini (15-16), Paulus menegaskan beberapa hal penting yang dikerjakan oleh Kristus di kayu salib. Pertama, Yesus membatalkan hukum Taurat.  Dalam konteks bacaan ini, “sunat” disebutkan. Sunat yang adalah lambang perjanjian Allah kepada Abraham dan keturunannya dimana darah dicurahkan. Kini sunat itu telah dikerjakan dan digenapi dalam atau oleh Yesus Kristus yang telah mencurahkan darahNya yang kudus, satu kali untuk selamanya. Bukan lagi sunat lahiriah, tetapi penanggalan tubuh yang berdosa (Kol. 2:11). Kristus adalah penggenapan akan hukum Taurat. Kedua, Tuhan Yesus menciptakan satu umat yang baru. Umat yang terdiri dari Yahudi dan gentiles (orang-orang Efesus) yang percaya kepada Yesus Kristus, mereka dipersatukan menjadi satu umat di dalam dan oleh Yesus. Yaitu umat kepunyaan Allah. Dan, Ketiga, Yesus mendamaikan orang pilihanNya dengan Allah, dan mendamaikan orang Yahudi dan gentiles (dengan sesama). Tentang janji damai sejahtera ini, Yesaya telah menubuatkan,“damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat” (bdk. Yes. 57:19). Tidak ada lagi perseteruan antara Allah dengan manusia berdosa yang telah diperdamaikan oleh Yesus Kristus dengan Allah. Hal ini juga semestinya membawa kedamaian dalam diri manusia sehingga diperdamaikan juga dengan sesama. Sungguh, penggenap perjanjian Allah direalisasikan dalam persekutuan yang hidup dari anggota keluarga Allah yang didasari oleh pewartaan janji Allah melalui para nabi PL dan kesaksian para rasul tentang Kristus. Bila kita mampu menemukan dan menghidupi bagian ini, maka sungguh indah hidup individu orang percaya dan sungguh indah persekutuan dengan sesama atau gereja. Amin.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top