Tokoh

Johann H. Bullinger, Tolak Campur Tangan Negara Dalam Gereja

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 17 March 2011 - 18:19 | Dilihat : 3249
Tags : Gereja Negara
ADA banyak tokoh reformator yang turut dalam pembaharuan gereja, namun sangat disayangkan nama mereka tak seterkenal tiga tokoh reformator seperti Martin Luther, John Calvin atau Zwingli. Satu di antara tokoh reformator itu adalah. Johann Heinrich Bullinger yang lebih dikenal sebagai murid, sekaligus pengganti Zwingli dalam pembaharuan gereja di Zurich, Swiss.

Sebagai teolog yang turut memikirkan kondisi spiritual umat, dan bagaimana menyelaraskan teologi Alkitab dengan konteks, Johann betul-betul bekerja dengan keras, diiringi dengan kebijak-sanaan, kesabaran, dan ketabahan, yang luar biasa. Sejak di bangku kuliah pun Johann sudah menunjukkan kesungguhannya dalam belajar teologi, bahkan tak segan-segan belajar otodidak untuk menda-lami satu ilmu tertentu. Putra kelima dari Hein-rich Bullinger dan Anna Widerkehr ini untuk pertama kali mengenyam pendidikan teologi di sebuah sekolah di Emmerich, kemudian melanjut ke Kolese Bursa Montis di Cologne, pada 1519. Di tempat ini Johann mendalami Teologi Skolastik sembari mengisi waktu luang dengan mempelajari Perjanjian Baru dan Patristik secara otodidak.

Juga secara mandiri membaca tulisan-tulisan Luther serta karangan Melanchthon, Loci Communies, yang kelak mengantarkannya kepada ketertarikan dengan gerakan reformasi gereja.

Pada 1529 Johann menyatakan diri beralih ke reformasi. Hal ini diresponi baik oleh dewan kota yang secara aklamasi memilihnya untuk menjadi pendeta di Grossmnster. Di tempat inilah Johann kemudian memulai kariernya untuk lebih baik lagi bergulat dengan pergumulan gereja dan reformasi gereja. Hampir setiap hari waktunya tersita untuk berkhotbah dan menampung para pelarian utusan Injil yang dikejar pemerintah Perancis, yang tidak menyukai pembaharuan gereja. meskipun ia pernah berkirim surat meminta kepada raja Perancis untuk melindungi kaum Huguenot di Perancis dan golongan Waldensian.

Sebagai pembelaan atas jiwa orang Kristen, Johann juga menulis banyak karya yang persifat apologia seperti: Lima Puluh Khotbah tentang Ajaran Kristen dan Mengenai Ke-sempurnaan Kristen yang dipersem-bahkannya untuk Hendrik II, raja Perancis. Selain itu ia juga pernah menulis tentang Sejarah Reformasi hingga 1535 yang kelak menjadi sumber utama bagi penulisan sejarah gereja modern. Ada satu karyanya yang sangat fenomenal Confessio Helvetica Prior (Pengakuan Iman Helvetia I), pada 1536, yang kemudian diterima oleh gereja-gereja di Swiss dan Jerman. Demikian juga dengan Confessio Helvetica posterior (Pengakuan Iman Helvetia II) adalah edisi revisi dari karya sebelumnya.

Pandangan teologis Johann memang tak jauh berbeda dari pandangan guru dan seniornya dalam reformasi Zwingli, namun banyak orang menyebutnya lebih mendalam dari pandangan Zwingli. Mengenai Perjamuan Kudus misalnya, Johann berpendapat bahwa setiao orang Kristen harus yakin betul dengan suatu misteri dalam Perjamuan Kudus. Roti yang digunakan bukanlah roti biasa melainkan roti yang mulia, suci, roti sakramental, yang di dalamnya terdapat jaminan rohani kehadiran yang sungguh dari Kristus bagi orang percaya.

Menururt Johann dalam Perjamuan Kudus, tubuh Kristus yang ada di surga itu dapat dilihat oleh mata jiwa orang percaya. dengan perumpama-an sinar matahari Johann menjelaskan hal ini agar lebih mudah dipahami. Seperti matahari yang ada di langit, namun terang dan kehangatan panasnya, dapat dirasakan di bumi. Demikian juga Kristus yang duduk di surga hadir dalam Perjamuan Kudus yang dapat dirasakan secara spiritual oleh umat.

Selanjutnya menyikapi soal hubungan gereja dengan negara, Johann lebih keras dan tegas dibanding dengan Zwingli. Ia sama sekali tidak menghendaki campur tangan negara dalam urusan-urusan gerejawi. Johann tidak mau sama sekali memakai tangan negara untuk membawa orang kepada gerakan reformasi.

Bergelut dengan gerakan pembaharuan gereja memang sangat melelahkan bagi Johann. Baginya tidak ada waktu untuk istirahat selain memikirkan kemajuan pelayanan bagi Kristus. Hampir setiap hari dia memikirkan kemajuan gerakan reformasi dan bagaimana caranya agar orang dapat menerima hal ini. Itulah sebabnya kesehatannya selalu terganggu. Dalam sebuah surat kepada temannya, Johann sempat mengungkapkan kesibukannya, dan merasa sangat lelah sehingga ia meminta kepada Tuhan Allah untuk memberinya waktu istirahat, jikalau hal itu tidak berlawanan dengan kehendak-Nya. Tuhan pun mengijinkan hal itu dengan memanggil Johann bersama-Nya dalam istirahat yang panjang pada 17 September 1575. Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top