Tokoh

Meister Eckhart, Teolog Dan Mistikus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 13 July 2012 - 14:16 | Dilihat : 1421
Meister Eckhart, Teolog dan Mistikus

Jiwa manusia itu bisa menyatu dengan Tuhan. Meskipun Allah adalah satu-satunya sumber segala yang ada, namun dalam dirinya, manusia mempunyai cetusan hakikat-hakikat ilahi dalam rupa hati nurani. Oleh sebab itu, manusia perlu mengosongkan diri agar ia menjadi sadar akan kehadiran Allah di dalam dirinya.
Itu adalah pernyataan Meister Eckhart, seorang teolog dan mistikus abad ke-14. Fenomena rohani yang dialami, juga karirnya sebagai penasihat rohani para suster membuat dia berkenalan dengan sesuatu yang sifatnya supranatural. Pengalaman itu juga yang mendorong profesor bidang Teologi di Paris dan penasihat serta pendamping biara-biara di wilayah Jerman Selatan pada masanya itu tertarik untuk mempelajari mistik, sekalipun dirinya mengaku bukan seorang visioner.
Pria kelahiran Hocheim, Thuringia, pada tahun 1260 nasibnya tidak jauh berbeda dengan para teolog yang “membelot” dari dogma kristen. Dengan tuduhan menyebarkan ajaran-ajaran sesat melalui khotbah-khotbah yang disampaikannya rahib Dominikan yang berasal dari Jerman ini dimejahijaukan. Tak tanggung-tanggung, perjalanan peradilan atas dirinya bahkan hingga menuju tahta kepausan. Hal ini lantaran ketidakpuasannya dan upaya membela diri dengan mengajukan tesis pembelaannya. Untuk menghampiri nasibnya, Eckhart kemudian pergi ke Avignon, Prancis untuk menghadap pengadilan Kepausan terkait persoalan dirinya yang dianggap mengajarkan ajaran sesat. Namun sayang dalam perjalanannya menuju Avignon Eckhart kemudian meninggal dunia. Sementara itu, keputusan pengadilan atas perkara Eckhart baru dijatuhkan tahun 1329, satu tahun setelah ia meninggal.
Sebagai seorang teolog Dominikan semestinya Eckhart kuat dengan pengaruh filsafat Aristoteles, seperti pada umumnya seorang dominikan. Tapi misitikus satu ini lebih tertarik pada Neoplatonisme yang kental dengan pengajaran mistik (tasawuf Timur). Aliran yang digeluti Eckhart ini berupaya menggabungkan antara ajaran Plato dan Aristoteles. Neoplatonisme sebenarnya merupakan semacam sintesa dari semua aliran filsafat sampai saat itu, dimana Plato diberi tempat istimewa.
Ide-ide mistik Eckhart umumnya disampaikan melalui khotbah-khotbah yang dibawakannya. Beberapa tema sentral dalam khotbah Eckhart meliputi soal kehadiran Allah dalam jiwa manusia, dan kemuliaan jiwa orang benar. Dalam salah satu khotbah, Eckhart menganjurkan agar setiap orang dapat mengosongkan diri dari segala sesuatu, dan manusia harus kembali pada kebajikan Allah. Dalam pesannya Eckhart juga menganjurkan agar manusia memiliki kemurnian sifat ilahi.
“Ketika manusia kehilangan perhatian pada apa yang tidak ada, ia menjadi satu dengan Dia yang ada. Saat manusia berasa pada tingkat kesadaran yang paling tinggi, manusia menjadi sangat dekat dengan Allah bahkan tidak dapat dibedakan lagi dengan Allah.”
Eckhart kerap menulis tentang pokok besar metafisika dan psikologi spiritual, menarik secara ekstensif pada citra mitis. Kedalaman wacana mistiknya sangat sedikit orang yang bisa menghargai, konon hanya mereka yang dikatakan memiliki kelebihan dalam kehidupan kerohanian yang sepenuhnya dapat menghargai. Meskipun tulisan-tulisan Eckhart tidak menyajikan sebuah sistem yang terhubung dan dipelajari, yang oleh karenanya orang enggan menyebut dia filsuf, namun dalam studi-studi yang dilakukan Henry Denifle, pemikiran Eckhart tidak kalah dengan ide-ide dan pengajaran para filsuf. Henry menyebut Eckhart sebagai orang yang sangat pantas disebut teolog unggul. - Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top