Mengenal Alkitab

Anda Kawan Atau Lawan Di Dalam Melayani-Nya?

Penulis : Admin | Tue, 24 July 2012 - 09:07 | Dilihat : 2463
Tags : Melayani

(Luk 22: 1-6) Kisah yang menyedihkan pada perikop ini, dari  salah seorang 12 murid Yesus, yaitu Yudas Iskariot, yang berkhianat kepada Yesus karena dirasuki oleh iblis. Lalu ia pergi kepada imam- imam kepala dan kepala- kepala pengawal Bait Allah hendak berunding dan bermufakat, untuk bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Hal ini persis seperti di dalam dunia politik, tidak ada kata kawan atau lawan, yang ada ialah perbedaan kepentingan. Maksudnya perbedaan kepentingan bisa membuat seseorang menjadi lawan bagi yang lain. Tetapi bila ada kepentingan yang sama, posisi lawan akan berubah menjadi kawan. Di dalam perikop ini Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kepala-kepala pengawal Bait Allah memiliki kepentingan yang sama yaitu ingin membunuh Yesus.

SIKAP YANG IRONI

Sungguh ironis, bukan? Para pemimpin agama mendalangi pembunuhan! Lebih ironis lagi, Paskah sebagai perayaan kemerdekaan Israel menjadi momen untuk merampas kemerdekaan seseorang. Mereka merasa terancam dengan keberadaan Yesus, padahal mereka punya kekuasaan besar dalam struktur masyarakat. Semenjak kehadiran-Nya popularitas mereka sebagai pemimpin agama berubah menjadi merosot dan mereka pun tidak menyukai perkataan-perkataan Yesus.

Tetapi yang jadi masalah, mereka takut pada orang banyak yang selalu ada di sekitar Yesus. Bila Yesus ditangkap, dikuatirkan akan memancing kericuhan yang bisa mengundang intervensi militer Roma. Itu sebabnya mereka mencari cara yang tidak mengganggu stabilitas keamanan di Yerusalem.

Dan akhirnya tanpa di luar dugaan, siapa sangka bila kunci jawaban masalah itu ada di tangan salah seorang dari murid-murid Yesus sendiri: Yudas Iskariot! Ia membiarkan dirinya dipakai Iblis! Ia berunding dengan para pemimpin agama tentang penangkapan Yesus, Gurunya, dengan imbalan sejumlah uang. Dan akhirnya kendala ketakutan terhadap orang banyak disingkirkan dengan mudah oleh pengkhianatan seorang murid!

APLIKASI

Yudas menjadi contoh bagaimana murid Tuhan mungkin saja menjadi pengkhianat. Disebutnya Iblis dalam kisah ini bukan meniadakan tanggung jawab Yudas atas kesalahannya. Iblis toh tidak memaksanya. Sesungguhnya kejatuhan Yudas tidak terjadi begitu saja, karena pengkhianatannya telah terjadi jauh sebelumnya (Yoh 12:6). Ini jadi peringatan bagi kita untuk memeriksa diri: masih adakah hal-hal tersembunyi yang merupakan pengkhianatan kita padaNya? Bereskan segera! Mohonlah ampun dan taatilah Dia dalam segala segi hidup!

Disisi lain kebersamaan di dalam melayaniNya menjadi hancur, karena lahirnya seorang pengkhianat yang  ternyata bukan timbul dari luar tetapi justru dari dalam. Sama halnya ketika kita sebagai gereja menjalankan pelayanan bersama. Menjadi lebih mudah jika kita berkawan tetapi sangatlah tidak mudah ketika kita melayani Tuhan bersama. Apalagi jika kita memiliki kepentingan-kepentingan pribadi di dalam pelayanan. Yang sesungguhnya masing-masing hanyalah mencari kepopularitasan, tanpa mau mengukur diri dan berbesar hati mengakui apa yang menjadi kelebihan sesama tubuh Kristus sesuai dengan talenta dan karunia yang Tuhan percakan kepada masing-masing.

Sehingga jika masing-masing memainkan perannya sesuai dengan porsinya akan menjadi sebuah kesatuan dan keutuhan yang indah di dalam melayaniNya. Belum lagi jika kita terjebak masuk dalam keributan-keributan hal-hal yang tidak prinsip.Yang akhirnya seringkali kita mengatasnamakan Tuhan keluar dari pelayanan. Padahal jika kita sungguh-sungguh sadar bahwa semua kekurangan yang Allah perlihatkan kepada kita di dalam dunia pelayanan, itu justru merupakan sebuah kesempatan yang Allah mau supaya kita kerjakan, dan bukan untuk dilecehkan. Supaya sungguh betul kita berjalan seiring sebagai satu tubuh di dalam kristus untuk saling mengisi dan bukan saling menindih, menyimpang atau malah bersebrangan. Sehingga sepertinya kita melayani Tuhan, padahal kita melayani diri sendiri namun saja dibungkus dan tertata rapi dengan mengatasnamakan Tuhan. Untuk itu belajarlah dimanapun Tuhan tempatkan kita, untuk menyangkal diri dan utamakanlah kehendak Tuhan diatas segalanya. Sekalipun hal itu menyakitkan dan kita tidak sukai.

Justru seharusnya kita tidak perlu kaget dan aneh lagi jika hal-hal seperti itu terjadi di dalam dunia pelayanan karena Yesus sendiri pernah berkata: bahwa kita sebagai murid-muridNya akan diutus seperti domba ditengah serigala dan Ia pun berkata barangsiapa yang mau mengikut Aku: sangkal dirimu dan pikul salibmu dan ikutlah Aku. Ini wajib, mutlak, dan tidak bisa ditawar-tawar di dalam hal mengiringNya. Untuk itu, selamat menemukan, mengalami dan menjalankan pelayanan yang sejati, menurut cara dan waktunya Tuhan. Imanuel. - GI Roy Huwae

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top