Sapaan Gembala

Suara Kenabian

Fri, 24 August 2012 - 16:04 | Dilihat : 6872
Tags : Nabi

Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. (Matius  3:3)

Praktik ’Perdagangan Suara’ (vote trading) sudah merupakan suatu hal yang biasa, terlebih setelah diberlakukan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung. Perdagangan Suara ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari mereka yang memburu jabatan sebagai pembeli suara, para perantara pesan suara, dan para penjual suara yang sekaligus berperan sebagai pemilih. (Kompas, 30 Juli 2012). Para penjual suara ini tidak mempergunakan hak suaranya dengan benar malahan menarik keuntungan darinya. Apakah fenomena ini juga muncul dalam kehidupan orang percaya?

Orang orang percaya mendapat panggilan dari Tuhan untuk menjalankan fungsi kenabiannya. Mandat kultural yang diemban orang percaya adalah menyuarakan kebenaran firman Tuhan sebagai pijakan yang melandasi tindakannya. Yang terjadi justru kebalikannya.  Mereka enggan bersuara ketika ketidak-benaran, ketidak-adilan, kemunafikan berlangsung di hadapan mereka. Mungkin faktor keamanan atau kerugian finansial penyebabnya. Bagaimana berani menyatakan hal yang sebenarnya, jika pernyataannya dapat menyebabkan uang tidak mengalir ke dalam pundi pundinya ? Yohanes Pembaptis merupakan contoh nyata seorang nabi yang tidak berkompromi dengan ketidak-benaran. Sementara banyak yang rakus, egois, dan mencari sanjungan, ia mencari hal hal yang diperkenan Allah. Tugasnya mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus, menyebabkan ia berseberangan dengan para pemimpin. Tetapi hal itu tidak membuatnya gentar. Pernyataannya sering membuat semua golongan tanpa kecuali, telinga panas dan muka merah. Kepada orang Farisi dan orang Saduki, ia mengatakan mereka keturunan ular beludak, karena ketidakbenaran hidup mereka. Ia berani menegur Herodes Antipas karena merebut Herodias, istri Herodes Filipus. Mereka berdua adalah anak anak Herodes Agung, yang berlainan ibu. Memang dari posisinya sebagai rakyat jelata, Yohanes melanggar ’peraturan’, karena berani menegur penguasa pemerintahan dan penguasa agama. Namun dari sudut pandang kebenaran, keberanian Yohanes patut diacungi jempol. Sayangnya, kejujuran dan kebenaran sering tidak dihargai di dunia ini. Suara kenabian dan kejujuran biasanya dijauhkan oleh dan dari penguasa. Yang ada di sekitar mereka – para penguasa - umumnya para penyanjung dan pemuja - pemuji yang memabukkan. Kalaupun ada orang yang baik dan jujur, biasanya cenderung memilih diam agar selamat.

Kita mungkin tidak bisa melakukan hal yang persis sama seperti yang Yohanes lakukan. Karena hanya dia yang dianugerahi tugas agung itu, mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus. Namun kita dapat mencontoh keberaniannya menegur siapa pun yang masih hidup bergelimang dalam dosa. Dan kita harus merefleksikan kebenaran firman Tuhan yang disampaikannya, sehingga firman Tuhan itu dapat menyentuh hati nurani setiap orang. Di samping itu, kita patut memelihara persekutuan dengan Tuhan di manapun ; di rumah, di tempat kerja, atau di tengah masyarakat. Siapkan hati bagi teguran, sekalipun itu membuat gerah. Jangan tergesa gesa mematikan suara itu. Siapa tahu itu adalah suara Tuhan yang memerintahkan agar jalan kita yang bengkok diluruskan. Hidup tidak lagi berpura pura, namun menjunjung tinggi kebenaran dan memunculkan suara kenabian. - Pdt. Yusuf Dharmawan

 

Lihat juga

Komentar


Group

Top