Mengenal Alkitab

Permainan Yang Dipermainkan

Penulis : Admin | Fri, 24 August 2012 - 17:28 | Dilihat : 2372

(Luk 22: 21-23) Dalam perikop ini kita membaca perihal percakapan Kristus dengan murid-muridNya setelah makan malam. Mereka berbicara perihal orang yang akan mengkhianati Yesus, yang adalah orang yang turut hadir juga pada saat itu.

Lalu Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa pengkhianat itu adalah salah satu dari mereka (ay.21). Lalu selanjutnya Ia menubuatkan bahwa pengkhianatan itu pasti akan terjadi dengan berkata (Ay. 22): Anak manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, pergi ke tempat Ia akan diserahkan karena Ia akan diserahkan oleh rancangan dan sepengetahuan Allah, sebab kalau tidak, Yudas tidak akan mampu menyerahkan Dia. Kristus tidak dipaksa untuk menerima penderitaanNya, sebaliknya dengan penuh sukacita Ia mendatangi penderitaan itu dengan berkata: "Sungguh, Aku datang".

Lalu Ia mengancam si pengkhianat: Celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan. Perhatikanlah, kesabaran orang-orang kudus dalam penderitaan mereka serta rancangan Allah perihal penderitaan mereka tidak akan menjadi alasan untuk memaafkan orang-orang yang menimbulkan penderitaan itu atau yang menganiaya mereka. Meskipun Allah telah menetapkan bahwa Kristus akan diserahkan dan Ia sendiri dgn penuh sukacita menyerahkan diri kepada penderitaan itu, dosa atau hukuman Yudas sama sekali tidak akan berkurang.

Dengan mengatakan bahwa orang itu adalah salah satu dari antara mereka tanpa menyebut nama yang bersangkutan (Ay.23), Ia menimbulkan ketakutan para murid lainnya sehingga mereka mempersoalkan dengan memeriksa diri sendiri, siapa diantara mereka yang akan berbuat demikian, yang sedemikian hina sampai mau melakukan yang seperti itu terhadap Guru yang begitu baik. Pertanyaannya bukanlah kamukah itu? Atau apakah orangnya seperti anu? Tetapi, apakah itu aku?

SIKAP YANG IRONI

Hal inipun sering terjadi di kehidupan banyak umat Kristen sekarang ini, dimana mereka melakukan dosa, yang mereka sudah tahu bahwa itu tidak menyenangkan hati Tuhan dan bahkan seringkali mereka mengulangi kesalahan yang sama. Sehingga sesungguhnya mereka sadar sudah mempermainkan Tuhan. Mereka melakukan ini seperti orang-orang yang sudah tidak takut sama Tuhan lagi dan tidak percaya bahwa Allah itu Mahatahu sampai jauh di dalam lubuk hati mereka. Dan hal ini kalau tidak segera sadari mereka sudah tergolong kepada umat-umat yang tidak dipilih Tuhan karena hati nuraninya sudah tumpul, yang tidak mau ditegur dan tidak mau terima Anugerah pengampunanNya.

APLIKASI

Untuk itu berhati-hatilah dengan Tuhan yang Maha Tahu itu, karena jangan pikir kita bisa mempermainkan Tuhan, karena ketika kita mencoba mempermainkanNya, justru sebaliknya kitalah yang sedang dipermainkan olehNya. Dan belajarlah bersikap jujur akan apa yang ada di dalam sikap hati kita yang paling dalam kepada Tuhan, karena dengan demikianlah kita sungguh-sungguh hidup takut akan Tuhan, sekalipun Ia tidak kelihatan. Karena dengan tegas Tuhan menyatakan prinsipnya bahwa Ia akan tetap menghukum orang-orang yang bermain-main dengan dosa. Untuk itu, janganlah kita hidup dengan mempermainkan Tuhan, tetapi bertekunlah hidup di dalam kehendakNya. Amin, Imanuel. - GI. Roy Huwae

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top