Engkaulah El-Roi

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 16 September 2016 - 19:29 | Dilihat : 433
see-myself-as-god-sees-me.jpg

Di dalam bukunya A Grief Observed, C.S. Lewis pernah membagikan pengalaman bagaimana ia bergumul dan berdoa kepada Tuhan agar istrinya Joy, yang sangat dikasihinya itu disembuhkan dari penyakit kankernya.  Namun ternyata Tuhan menjawab “Tidak.”  Kematian istri tercinta memunculkan kepedihan yang mendalam, ia mengalami suatu keadaan kekecewaan yang begitu luar biasa.  Bagi Lewis kepedihan itu merupakan suatu tantangan yang sangat kuat bagi imannya.  Namun hal itu tidak menghancurkan imannya kepada Tuhan melainkan hal tersebut memaksa dia untuk lebih ingin mengenali siapa Tuhan itu sebenarnya dan apa kedudukan-Nya dalam hidupnya.  Di satu sisi ia merasa selama ini dia telah mengenal Tuhan, namun pada sisi yang lain ia merasa sangat sulit memahami siapakah Dia sebenarnya? Hal ini menyadarkan kita tentang suatu sikap yang perlu bahwa betapa pun kita kecewa pada Tuhan ketika mengalami suatu keadaan di mana rasanya Allah tak mudah di mengerti dan seakan absen dalam kehadiran-Nya, hal itu mestinya tidak harus berakhir dengan kehancuran iman tetapi justru menjadi persekutuan yang lebih dalam dengan Dia. 

Pengalaman hidup seringkali menjadi suatu pencetus yang sangat mudah untuk kita memberikan suatu gambaran atau penamaan tentang siapakah Allah itu.  Di dalam Kejadian 16:1-15, kita diajarkan tentang suatu kebenaran yang sangat penting bahwa Tuhan adalah El-Roi yang berarti Allah yang melihat (ay.13).  Di dalam segala situasi hidup, semua ciptaan, termasuk manusia ada dalam perhatian-Nya. Di padang gurun itu,  Tuhan telah melihat pergumulan Hagar.  Perjumpaan Hagar dengan Tuhan justru saat terjadi suatu “kemalangan” dalam hidupnya. Bagi Hagar perjumpaan ini adalah suatu perjumpan yang sangat istimewa dan luar biasa. Sebelumnya ia tidak pernah berdoa dan berharap untuk berjumpa dengan Tuhan. Namun siapa sangka ternyata, perjumpaan itu menjadi momentum yang sangat penting dan membuat Hagar memberi kesimpulannya tentang Allah, “Engkaulah El-Roi.” Apakah Allah hanya melihat Hagar pada kondisi ini saja dan ada kejadian hidup yang terjadi pada Hagar yang tidak Tuhan lihat? Tentu saja tidak, Allah melihat Hagar dari sebelum ia ada dan bahkan sampai akhir kehidupannya.  Allah bahkan melihat bagaimana keadaan hidup Ismael ke depan akan seperti apa dan akan menjadi apa? Mata Tuhan melihat tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan karena Tuhan melihatnya, itulah yang membuat Hagar bahagia. Itu juga berarti ketika ia berada di dalam rumah nyonyanya dalam kondisi yang tidak menyenangkan sekalipun Tuhan melihatnya.  Itu sebab ketika mendengar permintaan Malaikat Tuhan itu kepadanya untuk kembali kepada nyonyanya meski akan mengalami penindasan, Hagar mau mengikuti dengan taat.  Dalam hal ini Hagar dibawa untuk melihat bukan hanya fenomena tentang pekerjaan Allah tetapi Ia melihat tentang siapakah Allah itu? Itu sebab Ia tidak ragu untuk mengikuti perintah-Nya untuk kembali.  Baginya Allah adalah Allah yang selalu dapat dipercaya di dalam perkataan-Nya dan janji-janji-Nya. Keadaan yang pahit, yang tidak ia suka, yang tidak menyenangkan, tidak membuatnya kecewa dan marah kepada Allah.  Terlalu banyak orang Kristen yang melihat Allah secara fenomena saja, namun tidak mengenal dan mengalami-Nya secara pribadi. Hidup keber-Allah-an hanya dipenuhi dengan koleksi-koleksi mujizat, karunia rohani dan kesaksian-kesaksian hidup saja namun minus pengenalan yang utuh akan Dia. Sehingga ketika mereka bertemu dalam pengalaman hidup yang tidak menyenangkan mereka menjadi segera kecut dan kecewa.  Semoga kita terus membangun diri dalam pengenalan yang utuh akan Dia, sehingga kalau pun warna hidup tak sejalan dan Tuhan seakan berada dalam ke-tiadaan tak membuat kita mempertanyakan-Nya.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top