BAHAYA KEKRISTENAN PRAKTIS TANPA PARADIGMA YANG BENAR

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 4 October 2016 - 13:41 | Dilihat : 589
paradigma.png

Stephen R. Covey, bukan nama yang asing dipendengaran kita. Beliau bukanlah seorang Kristen dengan teologi ortodoks, melainkan seorang penganut Mormonisme. Sebagai seorang konsultan bisnis tingkat dunia, ia menuliskan; "Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi bila Anda ingin membuat perbaikan besar yang amat berarti, lakukan sesuatu pada paradigm, persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau kacamata yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna." (Stephen R. Covey  "The 8th Habith").

Pernyataan Covey dalam nasihatnya kepada para pembisnis di atas tampaknya merupakan sebuah prinsip atau bijaksana yang diambil dari Alkitab. Covey bukan satu-satunya orang yang tidak percaya Alkitab tetapi mengambil prinsip Alkitab untuk dijadikan bahan ajar guna memotivasi banyak orang. Ada banyak motivator lain mengambil hal serupa, meski mereka sendiri tidak hidup di dalamnya. Tidak perlu terkejut dengan hal ini.

Kembali kepada dasar iman Kristen. Kekristenan tidak pernah memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu bagi Kristus, tanpa terlebih dahulu memanggilnya untuk mengalami kelahiran baru dan pertobatan, bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang benar (Yer. 9:23-24; Yoh. 17:5). Pertobatan di sini berbicara mengenai "perpalingan" atau "perubahan hidup" dalam segala aspeknya atas dasar pengenalan yang benar akan Allah. Dan Kelahiran baru adalah totalitas karya Allah pada manusia berdosa.

Melihat dari pengajaran Rasul Paulus, sungguh, betapa pentingnya paradigma yang benar. Di dalam surat-surat Rasul Paulus, ia memberikan paraenesis, yaitu nasihat-nasihat praktis kepada penerima dan pembaca suratnya. Namun kita perlu memperhatikan komposisi setiap surat Paulus dengan baik. Dimana Rasul Paulus selalu mengawali surat-suratnya dengan berbicara mengenai ajaran-ajaran (doktrin) terlebih dahulu. Ia senantiasa meletakkan pengajaran Kekristenan sebagai dasarnya. Atas dasar ajaran-ajaran tersebut, Paulus kemudian mengambil implikasi-implikasi praktisnya. Dengan kata lain ajaran yang benar melahirkan nasihat-nasihat praktis yang benar. Misalnya, Roma 12:1-2 yang diawali dengan "karena itu". Karena apa? Karena "Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang berdosa". Roma 1 -11, Paulus sudah menyampaikan pengajarannya tentang Injil dan karyanya bagi manusia berdosa. Ketika Paulus menasihati orang-orang Kristen di Roma untuk mengalami pembaruan akal budi dan mempersembahkan seluruh hidup mereka, atas dasar doktrin-doktrin di atas. Hal yang sama juga dilakukan Paulus dalam surat-suratnya yang lain.

Bila melihat kekristenan masa kini, bukankah sering kita temukan kecenderungan adanya yang menekankan mengenai hal-hal praktis, tetapi abai pada biblical teaching. Bukankah ini menyedihkan kita. Anti doktrin. Anti pengajaran. Yang penting praktis. Fenomena seperti itu merupakan hasil peleburan antara Postmodernisme dan sebagian ajaran Alkitab. ini adalah sinkretisme. Kepada Timotius, Paulus mengingatkan fungsi ajaran (Firman Tuhan) atas sikap hidup praktis (2 Tim. 3:16). Awasilah dirimu dan ajaranmu (1 Tim. 4:16), itulah sikap hidup dan panggilan hidup orang percaya. Benar dalam ajaran dan benar dalam praktis hidup adalah satu kesatuan yang utuh dan nilai iman Kristen. Amin 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top