Refleksi Panggilan Ilahi

Penulis : Slawi | Fri, 21 October 2016 - 13:56 | Dilihat : 359
panggilan.jpeg

Efesus 3:7-8

Bagian sebelumnya dinyatakan bahwa, oleh karena Injil orang-orang bukan Yahudi seperti jemaat di Efesus itu boleh mendapat anugerah luarbiasa turut menjadi ahli-ahli waris.  Orang-orang yang dahulunya jauh itu kini telah dibuat dekat oleh Allah.  Tidak hanya itu mereka kini juga memiliki pengharapan yang jelas di masa mendatang.  Masa depan dalam kekekalan bersama Tuhan, dan bukan dalam ketiadaan atau kosong seperti konsep akhir zaman yang Efesus, yang nota bene penganut ajaran Yunani percaya sebelumnya. 

Kini Paulus menegaskan kembali, sesungguhnya bukan kepada mereka saja Injil itu bekerja, tapi juga kepada dirinya.  Allah juga beranugerah luarbiasa, bukan saja memberi, tapi menggelontorkan kasih karuniaNya kepada Paulus.  Sebab, bukan saja  disentuh oleh Injil, tapi juga sekaligus dipilih Allah untuk menjadi alat Injil. Inilah luarbiasanya itu.  Paulus yang mengaku “paling hina di antara segala orang kudus”, bukan karena status sosial atau kedudukan di masyarakat, kalau bicara tentang hal itu dia jauh lebih unggul daripada banyak orang.  Dibagian lain di menyebut bukan saja orang dari keturunan Yahudi, tapi juga Farisi, bukan saja orang Farisi yang ketat dengan ajaran Tauratnya, tapi juga orang secara khusus belajar dibawah bimbingan gamaliel, sang guru besar luarbiasa dihormati da segani.  Paulus menyebut diri “paling hina di antara segala orang kudus” karena dia merasa orang yang paling tak tak layak mendapat anugerah luarbiasa dari Allah, mendapat pengampunan Allah.  Sebab, tangannya telah dibahasahi oleh lumuran darah para Martir orang percaya.  Dari tangannya banyak tertumpah darah orang percaya, itulah mengapa dia menyebut orang yang paling hina.  Tapi luarbiasanya Allah, justru kepada orang yang paling hina seperti dirinya, Allah justru menunjukkan anugerahNya. 

 “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah , yang dianugerahkan kepadaku” sebuah pengakuan yang jujur dari Paulus.  Berbeda dari banyak orang di kekinian yang mengaku diri pelayan, bukan karena dipanggil khusus, tapi memanggilkan diri. Pengakuan jujur bahwa Injil itu yang telah menyentuh, yang telah memantik dirinya untuk menjadi pelayannya, dan bukan karena “lahan basah” di ladang pelayanan.  

Pengakuan akan panggilannya ini bukan sebuah isapan jempol belaka, atau sesuatu yang dibuat-buat oleh Paulus.  Kejelasan Panggilan Injil yang telah diterima, rasakan dan hidupi Paulus juga nampak jelas dari bagaimana Allah memimpin Paulus, yakni, untuk memberitakan Injil itu kepada orang-orang bukan Yahudi. 

Dua bagian ayat ini mengingatkan kita klembali tentang panggilan khusus kita sebagai umat yang meresponi panggilan Injil dan pelayananNya.  Dua bagian ini juga menuntut kita untuk merefleksikan kembali sejauh dan sedalam apa kita sudah menghidupi panggilan itu.  Jangan-jangan Injil yang telah memanggil kita, bukan saja untuk percaya, tapi juga untuk menjadi pelayanaNya selama ini kita absen menghidupi dan memelihara. Jangan-jangan selama ini apa yang kita sebut sebagai panggilan itu bukanlah sungguh-sunggguh panggilan dari Allah, karena hanya kemauan dan ambisi kita pribadi.  Jika panggilan itu merupakan panggilan tuhan, maka perlu kita meminta kejelasan kembali di bagian mana atau untuk memperlengkapi bidang apa, atau kemana dan melayani apa kita dipanggil.  Kiranya Tuhan memberi pencerahan dan kejelasan pimpinannya.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top