MISSIONARIS KE TANAH CINA (JONATHAN GOFORTH )

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 11 November 2016 - 12:40 | Dilihat : 304
gambar-tokoh-4.jpg

Jonathan Goforth, anak ketujuh dari delapan bersaudara, dilahirkan di Western Ontario pada tahun 1859. la bertobat pada usia 18 tahun dan mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan setelah membaca kenangan pada Robert Murray M’Cheyne. Tetapi panggilannya untuk misi tidak terjadi setelah itu, ketika ia digerakkan oleh daya tarik Dr. George Mackay, seorang veteran misionaris dari Formosa. Selama kurang lebih dua tahun Mackay berkeliling Kanada mencari dan memanggil para pemuda untuk dibawanya dalam melaksanakan pekerjaan yang ia telah mulai. Namun tak satupun pemuda terbeban dan mengikuti Mackay. Selanjutnya Pesan Mackay menyengat kesadaran Goforth muda. Goforth diliputi rasa malu, lalu sejak saat itu, ia menjadi misionaris luar negeri.

Dalam persiapan pelayanannya, Goforth menghadiri Knox College, di mana ia telah berharap untuk menemukan persekutuan Kristen yang hangat dari sarjana-sarjana Alkitab yang berhasrat. Sebaliknya, anak desa yang lugu dan berpakaian sederhana dan kumal ini mendapatkan sendirian dalam kegairahannya untuk misi-misi. la dengan segera menjadi sasaran populer untuk humor kampus, khususnya setelah ia mengabdikan dirinya untuk pekerjaan misi; tetapi dengan berlewatnya waktu sikap-sikap mereka berubah, dan pada saat lulus, Goforth telah menjadi salah satu murid paling dihormati di kampus.

Setelah lulus dari Knox College, Goforth mendaftar ke China Inland Mission (CIM), karena gerejanya sendiri, gereja Presbiterian Kanada tidak memiliki pekerjaan misi di Cina. Sebelum ia menerima tanggapan dari CIM, murid-murid Presbiterian dari Knox berkumpul untuk kepentingannya dan berikrar untuk mengumpulkan uang sendiri dan mengirimnya ke Cina. Sebelum berlayar, Goforth berkeliling di Kanada, berceramah untuk misi. Pesan-pesannya begitu kuat dan di mana-mana ia pergi ia menyaksikan kehidupan yang berubah.

Pada tahun 1888 keluarga Goforth berlayar ke Cina untuk melayani propinsi Honan, di mana mereka memulai kehidupan yang penuh kesulitan dan perpisahan yang sepi. Mereka sering menderita sakit dan mereka lihat lima dari sebelas anak mereka mati ketika masih kanak-kanak. Api, banjir dan pencurian menghabiskan barang-barang mereka dan dalam beberapa situasi mereka menghadapi kejadian yang mengancam kehidupan mereka. Pencobaan paling menakutkan yang mereka hadapi adalah pelarian mengerikan sejauh seribu mil untuk menyelamatkan diri dari kegilaan Boxer pada tahun 1900. Melalui semuanya itu, visi mereka untuk jiwa yang terhilang tidak pernah pudar.

Sejak tahun-tahun awalnya di Cina, Goforth dikenal sebagai penginjil yang penuh kuasa, kadang-kadang berbicara kepada puluhan ribu orang. Pesannya adalah sederhana: “Yesus Kristus dan penyaliban-Nya.” Pengunjung-pengunjung dari jarak bermil-mil datang, lalu berkeliling rumah dalam kelompok-kelompok kecil. Sebelum memulai setiap tur, Goforth memberikan pesan Injil, dan kadang-kadang para pengunjung tinggal untuk mendengar lebih banyak. Sedangkan isterinya, Rosalind melayani para wanita, yang berkumpul di halaman mereka. Jenis penginjilan semacam inilah yang membuka jalan bagi pelayanan masa depan Goforth untuk berkeliling dari kota ke kota mengadakan kebangunan rohani. Meski tidak semua rekannya setuju dengan cara Goforth, tapi, itulah cara Goforth menjalankan misi pemberitaan Injil Kristus.

Sebagai seorang isteri, Rosalind sepenuhnya mendukung pengabdian suami nya pada Tuhan, secara alamiah ia juga kadang-kadang prihatin akan pengabdian suaminya kepada dia dan anak-anaknya. Tentu saja ke hendak Allah adalah yang terutama, tetapi apakah itu harus berseberangan dengan kepentingan terbaik bagi keluarga? Sebagai isteri, ia tidak pernah meragukan cintanya, tetapi kadang-kadang ia merasa kurang aman dengan posisinya. Sebelum ia dan anak-anak kembali ke Kanada sendirian pada tahun 1908, ia menanyai dirinya sehubungan dengan komitmen suaminya terhadap dirinya.

Saat Goforth melayani selama bertahun-tahun di Cina, masalah-masalahnya tidak berkurang. Konfrontasi-konfrontasi tetap berlanjut, gesekan meningkat khususnya pada tahun 1920-an ketika perselisihan Fundamentalis-Modernis yang terjadi di negeri asal merambat ke Cina. Para misionaris baru dengan kritik pedas tiba di lapangan dan Goforth “merasa tak berdaya mengatasi gelombang.” Jalan ke luar satu-satunya bagi dia hanyalah “berkhotbah seperti yang tidak pernah terjadi sebelumnya tentang keselamatan dan melalui salib Golgota dan menunjukkan kuasa-Nya.

Lama setelah sebagian besar misionaris menyerah pada penyakit atau pensiun, Goforth pada usia 73 tahun tetap mengadakan kebangunan rohani yang padat. Bahkan setelah dihinggapi kebutaan ia tetap melanjutkan pelayanannya dengan dibantu oleh seorang asisten Cina. Pada usia 74 tahun, ia kembali ke Kanada, di mana ia melewatkan waktu 18 bulan lamanya untuk berkeliling dan berbicara di hampir 500 pertemuan. Ia tetap melanjut kan sampai akhir, berbicara empat kali dalam satu minggu, sebelum ia mati dengan damai dalam tidurnya. la meninggalkan suatu kesaksian yang menyolok akan apa yang dapat dilakukan seseorang bagi Allah di antara jutaan orang Dunia Timur yang berkerumun.

Demikian kisah pelayanan Jonathan Goforth, misionaris, dan dari semua misionaris yang melayani di daerah Dunia Timur selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, tak seorang pun melihat respons cepat yang lebih besar dalam pelayanan pribadinya dibandingkan dengan Jonathan Goforth, ujar J. Herbert Kane, seorang penginjil Cina. (netsen.dbs)

Jonathan Goforth, anak ketujuh dari delapan bersaudara, dilahirkan di Western Ontario pada tahun 1859. la bertobat pada usia 18 tahun dan mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan setelah membaca kenangan pada Robert Murray M’Cheyne. Tetapi panggilannya untuk misi tidak terjadi setelah itu, ketika ia digerakkan oleh daya tarik Dr. George Mackay, seorang veteran misionaris dari Formosa. Selama kurang lebih dua tahun Mackay berkeliling Kanada mencari dan memanggil para pemuda untuk dibawanya dalam melaksanakan pekerjaan yang ia telah mulai. Namun tak satupun pemuda terbeban dan mengikuti Mackay. Selanjutnya Pesan Mackay menyengat kesadaran Goforth muda. Goforth diliputi rasa malu, lalu sejak saat itu, ia menjadi misionaris luar negeri.

Dalam persiapan pelayanannya, Goforth menghadiri Knox College, di mana ia telah berharap untuk menemukan persekutuan Kristen yang hangat dari sarjana-sarjana Alkitab yang berhasrat. Sebaliknya, anak desa yang lugu dan berpakaian sederhana dan kumal ini mendapatkan sendirian dalam kegairahannya untuk misi-misi. la dengan segera menjadi sasaran populer untuk humor kampus, khususnya setelah ia mengabdikan dirinya untuk pekerjaan misi; tetapi dengan berlewatnya waktu sikap-sikap mereka berubah, dan pada saat lulus, Goforth telah menjadi salah satu murid paling dihormati di kampus.

Setelah lulus dari Knox College, Goforth mendaftar ke China Inland Mission (CIM), karena gerejanya sendiri, gereja Presbiterian Kanada tidak memiliki pekerjaan misi di Cina. Sebelum ia menerima tanggapan dari CIM, murid-murid Presbiterian dari Knox berkumpul untuk kepentingannya dan berikrar untuk mengumpulkan uang sendiri dan mengirimnya ke Cina. Sebelum berlayar, Goforth berkeliling di Kanada, berceramah untuk misi. Pesan-pesannya begitu kuat dan di mana-mana ia pergi ia menyaksikan kehidupan yang berubah.

Pada tahun 1888 keluarga Goforth berlayar ke Cina untuk melayani propinsi Honan, di mana mereka memulai kehidupan yang penuh kesulitan dan perpisahan yang sepi. Mereka sering menderita sakit dan mereka lihat lima dari sebelas anak mereka mati ketika masih kanak-kanak. Api, banjir dan pencurian menghabiskan barang-barang mereka dan dalam beberapa situasi mereka menghadapi kejadian yang mengancam kehidupan mereka. Pencobaan paling menakutkan yang mereka hadapi adalah pelarian mengerikan sejauh seribu mil untuk menyelamatkan diri dari kegilaan Boxer pada tahun 1900. Melalui semuanya itu, visi mereka untuk jiwa yang terhilang tidak pernah pudar.

Sejak tahun-tahun awalnya di Cina, Goforth dikenal sebagai penginjil yang penuh kuasa, kadang-kadang berbicara kepada puluhan ribu orang. Pesannya adalah sederhana: “Yesus Kristus dan penyaliban-Nya.” Pengunjung-pengunjung dari jarak bermil-mil datang, lalu berkeliling rumah dalam kelompok-kelompok kecil. Sebelum memulai setiap tur, Goforth memberikan pesan Injil, dan kadang-kadang para pengunjung tinggal untuk mendengar lebih banyak. Sedangkan isterinya, Rosalind melayani para wanita, yang berkumpul di halaman mereka. Jenis penginjilan semacam inilah yang membuka jalan bagi pelayanan masa depan Goforth untuk berkeliling dari kota ke kota mengadakan kebangunan rohani. Meski tidak semua rekannya setuju dengan cara Goforth, tapi, itulah cara Goforth menjalankan misi pemberitaan Injil Kristus.

Sebagai seorang isteri, Rosalind sepenuhnya mendukung pengabdian suami nya pada Tuhan, secara alamiah ia juga kadang-kadang prihatin akan pengabdian suaminya kepada dia dan anak-anaknya. Tentu saja ke hendak Allah adalah yang terutama, tetapi apakah itu harus berseberangan dengan kepentingan terbaik bagi keluarga? Sebagai isteri, ia tidak pernah meragukan cintanya, tetapi kadang-kadang ia merasa kurang aman dengan posisinya. Sebelum ia dan anak-anak kembali ke Kanada sendirian pada tahun 1908, ia menanyai dirinya sehubungan dengan komitmen suaminya terhadap dirinya.

Saat Goforth melayani selama bertahun-tahun di Cina, masalah-masalahnya tidak berkurang. Konfrontasi-konfrontasi tetap berlanjut, gesekan meningkat khususnya pada tahun 1920-an ketika perselisihan Fundamentalis-Modernis yang terjadi di negeri asal merambat ke Cina. Para misionaris baru dengan kritik pedas tiba di lapangan dan Goforth “merasa tak berdaya mengatasi gelombang.” Jalan ke luar satu-satunya bagi dia hanyalah “berkhotbah seperti yang tidak pernah terjadi sebelumnya tentang keselamatan dan melalui salib Golgota dan menunjukkan kuasa-Nya.

Lama setelah sebagian besar misionaris menyerah pada penyakit atau pensiun, Goforth pada usia 73 tahun tetap mengadakan kebangunan rohani yang padat. Bahkan setelah dihinggapi kebutaan ia tetap melanjutkan pelayanannya dengan dibantu oleh seorang asisten Cina. Pada usia 74 tahun, ia kembali ke Kanada, di mana ia melewatkan waktu 18 bulan lamanya untuk berkeliling dan berbicara di hampir 500 pertemuan. Ia tetap melanjut kan sampai akhir, berbicara empat kali dalam satu minggu, sebelum ia mati dengan damai dalam tidurnya. la meninggalkan suatu kesaksian yang menyolok akan apa yang dapat dilakukan seseorang bagi Allah di antara jutaan orang Dunia Timur yang berkerumun.

Demikian kisah pelayanan Jonathan Goforth, misionaris, dan dari semua misionaris yang melayani di daerah Dunia Timur selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, tak seorang pun melihat respons cepat yang lebih besar dalam pelayanan pribadinya dibandingkan dengan Jonathan Goforth, ujar J. Herbert Kane, seorang penginjil Cina. (netsen.dbs)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top