Pelita

Tanggalkanlah Kasutmu

Penulis : Pnt Sugihono Subeno | Tue, 6 December 2016 - 10:49 | Dilihat : 683
Tags : Kasut Tanggalkan

Melepas sesuatu yang berharga dan merupakan kebutuhan mendasar hidup manusia, sungguh tidak mudah. Di dalam ketidaktahuan dan keyakinan diri bahwa apa yang diyakini itu benar, seringkali menyebabkan kita sulit untuk membuang yang sampah untuk sesuatu yang permata.

Mari kita menengok sepenggal kisah Musa yang mewarnai cara hidup Stefanus, saat dia harus menghadapi Mahkamah Agama yang sedang mengadilinya dan akan menghabisinya. Kita tidak meragukan ke-martir-an Stefanus di dalam mengabdikan hidup-Nya untuk Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib....bangkit dari kubur...dan naik ke sorga bagi keselamatan manusia. Stefanus, mati dirajam dengan batu oleh bangsanya sendiri karena dianggap telah menista agama Yahudi karena kesaksiannya mengenai Musa...yang adalah pemimpin besar agama mereka.

"Akulah Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Maka gemetarlah Musa, dan ia tidak

berani lagi melihatnya.

Lalu firman Allah kepadanya: Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." (Kisah Para Rasul 7:32-33)

Ada 2 hal besar yang dapat kita belajar dari Stefanus melalui kisah Musa di atas, sebagai berikut:

Pertama, Stefanus memahami dan meyakini bahwa kehadiran dan penyertaan Allah adalah hal yang utama. Kehadiran-Nya dapat membuat tanah tempat Musa berdiri - yang biasanya dilewati, diinjak, bahkan juga oleh ternak - menjadi tempat yang kudus dan sungguh special bagi Allah. Hal seperti inilah yang mengubah cara berpikir dan sikap hidup Stefanus di dalam melayani Tuhan. Sehingga bukan soal apa yang dia miliki, bahkan juga bukan hidupnya sendiri yang dia pikirkan. Membuatnya berani menghadapi Mahkamah Agama yang penuh dengan para imam dan ahli taurat, bersoal jawab dengan mereka. Karena bagi Stefanus, penyertaan Tuhan dihidupnya, membuatnya berani menanggalkan hidupnya sendiri untuk menyukakan hati Tuhan. Seperti Musa yang harus menanggalkan kasut alas kakinya, karena ada kehadiran Allah di tanah yang dia injak.

  1. bagi Stefanus, dirajam batu untuk sesuatu yang benar, justru membuatnya bisa mendoakan orang yang membunuhnya.

Kedua, Stefanus adalah salah seorang dari tujuh pelayan gereja yang dipilih untuk melayani jemaat yang memerlukan pertolongan. Dia menjadi Pelayan Tuhan yang pertama kali mati karena memberitakan Injil. Kesungguhannya di dalam melayani jemaat, dan kepandaian serta hikmatnya di dalam berdiskusi mengenai agama, membuat orang lain iri dan menginginkan kematiannya. Memelintirkan ucapan Stefanus dan menyampaikan fitnah dengan alasan menista agama yahudi, telah dipakai oleh orang-orang yang sudah panas hati dan tersinggung karena hidupnya dikoreksi oleh Stefanus. Mereka tidak siap menanggalkan jabatan keagamaan mereka. Mereka terlalu bangga dengan pengetahuan mereka tentang hukum taurat. Mereka tidak mau mendengar tentang kehadiran Tuhan yang disaksikan Stefanus, yang melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Mereka tidak mau menerima kehadiran Allah dihidup mereka, karena menganggap mereka memiliki hal-hal yang berharga, yang sebetulnya sampah.

Bagaimanakah dengan hidup kita? Apakah kita masih memilih kasut kita ketimbang menanggalkannya karena ada kekudusan Allah yang jauh lebih bernilai....yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun...?

Tuhan Yesus telah menyerahkan hidup-Nya untuk pengampunan dosa dan keselamatan hidup kita. Tanggalkanlah yang tidak penting, karena Allah mau hadir di dalam hidup kita. Pnt. Sugihono Subeno

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top