Franois Charles Mauriac Membela Dan Menyuarakan Kaum Lemah Melalui Novel

Penulis : Pdt Netsen | Sat, 17 December 2016 - 09:09 | Dilihat : 271
gambar-tokoh-7.jpg

François Mauriac lahir di Bordeaux, sebagai putra bungsu dari Jean-Paul Mauriac, seorang pengusaha kaya. Ketika Mauriac belum genap berumur dua tahun, ayahnya meninggal, dan keluarga itu tinggal bersama kakek nenek mereka. Ibunya adalah seorang yang taat dalam hidup keberimanannya. Ia berpegang teguh pada pengajaran seorang teolog bernama Jansen.  Seorangt teolog Perancis yang pengajaranannya menekankan dosa asal, kejatuhan manusia, perlunya anugerah ilahi, dan predestinasi. Sejak usia tujuh tahun, Mauriac belajar di sekolah yang dikelola oleh ordo Marianite.

Setelah menyelesaikan studi di University of Bordeaux, Mauriac menerima lisensinya pada tahun 1905. Tahun berikutnya, ia pergi ke Paris, bersiap untuk memasuki École des Chartes, sebuah sekolah besar di Perancis yang mengkhususkan diri dalam ilmu sejarah, di mana ia diterima pada tahun 1908. Namun, Mauriac berada di sekolah itu hanya beberapa bulan dan kemudian memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya di bidang sastra. Hal ini membentuk dia menjadi novelis, pengarang esai, penyair, dramawan, wartawan Perancis, dan bahkan pernah menjadi pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra pada tahun 1952.

Mauriac dididik oleh beberapa penulis yang mempengaruhi karya-karyanya, salah satunya adalah Pascal, salah seorang pemikir yang paling penting baginya. Mauriac memiliki gaya yang puitis, penuh kesan yang halus. Mauriac percaya bahwa hanya puisi yang penting, dan bahwa hanya melalui unsur-unsur puitis yang terdapat di dalam sebuah karya seni dari genre apa pun yang bekerja dalam karya itu, yang layak untuk dipertahankan. Mauriac memulai karier sastra sebagai penyair bersama dengan Les Mains jointes pada tahun 1909. Karya Mauriac selalu menarik perhatian dari para kritikus dan juga masyarakat yang membaca.

Pria yang memperisteri Jeanne Lafon ini pernah bertugas di Balkan sebagai perawat rumah sakit Palang Merah pada perang dunia pertama. Ditugas yang dia jalani Mauriac terus mendapatkan kisah-kisah yang memilukan yang kemudian dia tulis menjadi novel, seperti

Le Baiser au Lépreux (Ciuman untuk Penderita Kusta, tahun 1922) itulah ia menemukan suara hatinya sendiri. Kisah tragis itu adalah tentang seorang pemuda kaya, tetapi berwajah buruk menyeramkan, yang hancur karena dijodohkan dengan gadis petani yang cantik. Novel Mauriac berikutnya Thérèse Desqueyroux (1927), yang ditulis berdasarkan kisah nyata sidang pembunuhan atas Madame Henriette-Blance Canaby, diakui sebagai salah satu novel Perancis terbaik. Wanita itu dituduh mencoba meracuni suaminya, tetapi suaminya menolak untuk bersaksi melawan istrinya. Dalam cerita itu, seorang istri muda, Thérèse, terdorong untuk membunuh suaminya, seorang tuan tanah yang kasar. Karya ini dipengaruhi oleh beberapa tema utama yang terdapat dalam seluruh fiksi Mauriac: kehidupan penindasan di daerah pedalaman Perancis, tekanan seksual, dosa asal, dan penebusan. Keindahan liar pedesaan di selatan Bordeaux memberikan latar belakang yang bertentangan dengan tokoh-tokoh yang digambarkan Mauriac. Terpesona oleh nasib Thérèse, Mauriac melanjutkan menulis dua cerita pendek dan satu novel lagi tentang perempuan itu.

Karya awal Mauriac menggambarkan pergumulan nafsu dan hati nurani, tetapi seusai krisis spiritual, ia menyelesaikan konflik ini dengan kemurahan hati: "Kekristenan tidak mendukung kedagingan. Kekristenan menekan hal itu". Sebagai buntut dari krisis agamanya, Mauriac menulis novel yang menekankan kekuatan kasih Allah, dan mengembangkan teknik, di mana suara penulis, seorang pengamat, yang bersifat seperti Tuhan mengungkapkan pendapatnya sendiri. Satu pengecualian adalah Le Nœaud De Vipères (1932, Viper's Tangle: Jeratan Ular Beludak), sebuah drama keluarga, salah satu novel terbesar Mauriac. Ditulis dalam bentuk rangkaian huruf dan diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, mengisahkan tentang seorang pria tua bernama Louis, seorang ateis dan misanthrophic, yang karena bertekad untuk menyembunyikan uang dari istri dan anak-anaknya sehingga mengawali suatu perlawanan terhadap dirinya. Sekali lagi, materialisme menciptakan kendala bagi pertumbuhan rohani. Kematian istrinya membuat Louis menyelidiki jiwanya.

Di kancah politik Mauriac mulai berkontribusi dalam surat kabar Perancis Le Figaro, di mana ia sering menyerang munculnya Fasisme. Suatu paham politik yang mengutamakan atau meninggikan kekuasaan yang absolut tanpa mengutamakan prinsip demokrasi, yang muncul selama masa perang dunia II. Ketika Para Jenderal Franco menyatakan bahwa mereka memimpin perang suci, yang dengan begitu menghubungkan kekristenan dan fasisme, Mauriac menyatakan kemarahannya dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tanggal 30 Juni 1938 dan menarik pujiannya untuk Mussolini dari sebuah artikel yang diterbitkan ulang pada tahun 1937.

Sebagian besar fokus Mauriac dalam tulisan-tulisannya nanti adalah tentang kehancuran dan mekanisasi dunia di sekelilingnya. Mauriac meninggal pada tanggal 1 September 1970, di Paris. Meski Mauriac adalah pendukung de Gaulle dan kebijakannya di Maroko, tetapi mengutuk praktik penyiksaan oleh tentara Perancis di Aljazair. François Mauriac seorang yang meneliti masalah tentang yang baik dan yang jahat dalam diri manusia dan di dunia, yang kemudian dia tuangkan dalam karya-karya tulisannya. (netsen/dbs)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top