Pelita

Antara Kejujuran Dan Dusta

Penulis : Ibu Juaniva Sidharta | Sat, 21 January 2017 - 10:13 | Dilihat : 1080
Tags : Dusta Kejujuran

Pernahkah Bapak/Ibu/Sdr mengalami peristiwa dimana tergoda untuk bersikap tidak jujur? Dalam peristiwa apa? Seberapa sering merasa “tergoda”? Saya mengutip pernyataan alm. Gus Dur yang menjadi kesan tersendiri untuk saya pribadi yaitu, “Di Indonesia ini hanya ada 3 polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng ( = mantan Kapolri kelima, Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso).”

Bapak Hoegeng dikenal sebagai polisi paling jujur dan teladan antikorupsi hingga saat ini. Lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Menjadi Kapolri 9 Mei 1968 sd 2 Oktober 1971. Beliau selalu menolak bentuk gratifikasi; contohnya, semasa bertugas di Medan, beliau pernah membuang semua barang pemberian bandar judi. Saat menjadi kepala bea cukai, Bpk. Hoegeng membersihkan semua suap dan sogokan.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. Di tempat bertugas, beliau membersihkan anak buahnya. Yang tidak jujur dikeluarkan atau dikontrol sedemikian rupa sehingga tidak tahan dan memilih keluar. Tepatlah pernyataan mantan Presiden RI ke 4 itu! Pernyataan ini sekaligus menjadi bahan introspeksi untuk kita semua, apakah kita sudah termasuk orang-orang yang berperilaku jujur dalam hidup sehari-hari?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejujuran adalah sikap tidak berbohong (berkata apa adanya); tidak curang, misalnya mengikuti aturan yang berlaku dalam sebuah permainan/perlombaan. Jujur juga dipakai untuk menunjukkan sikap moral yang dikontraskan dengan kebohongan, dusta, penipuan (bdk Mat 22:15-18).

Di FK Temple University pernah diadakan penelitian tentang kebohongan, dengan cara membentuk 2 kelompok: Kelompok 1 diminta menceritakan kebohongan dan kelompok 2 diminta untuk berkata benar. Selama aktivitas itu, respons otak masing-masing kelompok dianalisa dengan mesin MRI. Apa yang terjadi?

Ternyata hasilnya mencengangkan!! Para “pembohong” mengaktifkan 9 area di otaknya, sedangkan orang yang berkata jujur hanya memakai 4 area, apa artinya? Terbukti bahwa berdusta itu mahal ongkosnya, tidak hanya melelahkan otak, tetapi juga menambah dosa serta menimbulkan masalah dengan orang lain!

Bapak/Ibu/Sdr...berdasarkan hal ini dapat kita pelajari, bahwa: kejujuran itu sangat berharga dan ibarat mata uang, ia berlaku dimana-mana. Kejujuran itu juga sebagai suatu sikap yang harus dimulai dari rumah; dimana seorang anak harus belajar sikap tersebut pertama-tama dari orang tua mereka (Ams 1: 8; 13: 1). Pertanyaannya untuk kita semua...siapkah kita menjadi pribadi yang jujur? Selamat mempraktikkannya mulai dari sekarang, God bless. Juaniva Sidharta

Kejujuran itu keindahan yg disukai oleh setiap orang, bahkan seorang pembohong pun pasti menyukai kejujuran.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top