Memelihara Kesatuan

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 7 February 2017 - 14:51 | Dilihat : 526
Tags : Efesus 436
gambar-mengenal-alkitab-7.jpg

Efesus 4:3-6

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. Efesus 4:3-6

 

Menjadi suatu hal yang sangat penting ketika berbicara tentang kesatuan. Persatuan adalah kekuatan sementara perpisahan atau perceraian adalah kelemahannya. Namun yang menarik adalah kesatuan orang percaya bukan dilakukan dengan kekuatan usaha manusia namun semata karena karya Kristus di kayu salib. Itu sebab Paulus mengingatkan bahwa perbedaan karunia tidaklah harus menjadi penyebab kerenggangan atau keterpisahan namun kuasa Roh yang telah memberikan karunia itu justru harus menjadi kekuatan yang menyatukan. Memang jebakan yang paling mudah adalah ketika berbeda kita merasa perlu untuk memisahkan diri.  Namun menarik bahwa Paulus mengingatkan jemaat agar mereka berusaha dengan sungguh untuk memelihara kesatuan Roh dalam suatu ikatan damai sejahtera. Karena itu, apa yang menjadi kebanggaan di dalam Jemaat Tuhan? Yaitu ketika mereka bisa bersatu padu saling melengkapi, saling membangun dan memelihara kesatuan sebagai orang percaya.  Tentu hal ini bukan hanya sekedar tentang kenyamanan dan kenikmatan hidup tetapi ini menyangkut damai sejahtera sebagai orang percaya yang terikat dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan satu Allah. Yang di dalam semuanya kita hanya memiliki satu tujuan dan semangat yaitu memuliakan Dia.

Itu sebab kalau semuanya itu satu maka apakah yang harus memisahkan kita sebagai orang percaya? Memang lagi-lagi harus diakui seringkali keakuan dan kedagingan kita merasa bahwa kitalah yang paling hebat dan benar. Sehingga tidak heran kalau kemudian muncul perpecahan dalam gereja bahkan perpecahan gereja. Sebagai ilustrasi, saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh John Wesley, pendiri gereja Metodist, juga bingung karena banyaknya aliran gereja. Suatu hari ia bermimpi dan dalam mimpinya itu ia dibawa ke pintu gerbang neraka. Di sana ada seorang malaikat yang menjaga, dan ia lalu bertanya: ‘Apakah di sini ada orang Katolik?’. Malaikat menjawab: ‘Banyak’. John Wesley bertanya lagi: ‘Apakah ada orang Calvinist?’. Malaikat menjawab: ‘Banyak’. ‘Apa ada orang Baptist?’. ‘Banyak’. Akhirnya John Wesley bertanya: ‘Apakah ada orang Methodist?’. Malaikat menjawab: ‘Juga banyak’.

Lalu John Wesley dibawa ke pintu gerbang surga. Di sana ada malaikat lain yang menjaga, dan ia bertanya kepada malaikat itu: ‘Apakah di sini ada orang Katolik?’ Malaikat menjawab: ‘Tidak ada’. Ia bertanya lagi: ‘Apakah ada orang Calvinist?’ Malaikat menjawab: ‘Tidak ada’. ‘Apa ada orang Baptist?’ ‘Tidak ada’. Akhirnya John Wesley bertanya: ‘Apakah ada orang Methodist?’ Malaikat menjawab: ‘Juga tidak ada’. Dengan bingung dan putus asa John Wesley bertanya: ‘Kalau begitu siapa yang ada di dalam sana?’ Malaikat menjawab: ‘Orang yang percaya kepada Yesus’.

Kata kuncinya adalah percaya kepada Yesuslah yang menjadi alasan untuk kita dapat saling memelihara kesatuan. Bukan organisasi gerejanya apa tetapi apakah gereja itu berjalan seturut dengan kehendak Tuhan atau tidak.  Apakah firman Tuhan sebagai pegangan dan petunjuk hidup mereka atau tidak. Apakah Yesus sebagai Tuhan mereka atau tidak. Jadi tak perlu meributkan hal-hal yang tidak prinsip. GI. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top