Masihkah Kita Menyalibkan-Nya?

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Tue, 9 May 2017 - 16:37 | Dilihat : 233
gambar-sapaan-gembala-6.jpg

Jumat Agung adalah hari yang sangat bersejarah bagi orang Kristen. Setiap tahun dirayakan untuk mengingat dan merenungkan betapa baiknya Tuhan dan betapa luar biasanya penderitaan yang dialami Anak Domba Allah, Tuhan Yesus Kristus. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"(Gal.3:13).

 

Dalam Perjanjian Lama, Salib ialah, kayu sulaan atau balok yang didirikan tegak, sebagai alat untuk menghukum dan menghukum mati seseorang. Tak jauh berbeda di Perjanjian Baru, salib berbicara menyalibkan penjahat dalam keadaan hidup ‘menggantung’. Dan mayat yang demikian dianggap terkutuk dan harus diambil dan dikuburkan sebelum malam. Melihat dan membaca sejarah Yesus Kristus, maka kita akan tercengang dan malu, betapa tidak mudahnya jalan salib itu. Kristus lahir dikehinaan, dikehidupannya, Ia ditolak, dikematiannyapun Ia tersalib. Kehinaan dan keterkutukan diterimanya demi menyelamatkan manusia dari murka Allah yang kekal.

Menanggung murka Allah, Kristus rela terpaku, tergantung diatas kayu salib. Maka tidak heran, betapa luar biasa penderitaanNya. Semestinya kita yang ada disana, tetapi kasihNya yang besar, Kristus menerima siksaan itu. Salib melambangkan penghinaan, salib adalah tempat penghukuman seorang penjahat. Siapa yang sanggup menghadapi dan menerima kenyataan seperti ini. TIDAK ADA!. Tidak ditemukan satupun kejahatan yang dilakukanNya, tetapi Ia harus disalibkan. Sang Penasehat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai. Ia disesah, dipukul, diludahi, dimahkotai duri, dipaku dan disalibkan. Sungguh ironis!

Betapa mengerikan penderitaan yang dialaminya. DikematianNyapun, manusia tidak berhenti menyiksanya. Tombak yang tajam menusuk lambungnya. Tubuh yang terluka, darah yang tertumpah menjadi akhir jalan salib bagiNya. Penderitaan dan kematian diterima dan ditanggungNya, menjadi awal perjalanan kehidupan yang baru bagi kita orang yang percaya kepadaNya. Ia membayar lunas hidupku dan hidupmu dengan darahNya, masihkah kita menyalibkanNYA?

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk.9:23). Salib bukanlah hal yang mudah, tetapi salib adalah penderitaan seumur hidup. Kita sebagai orang percaya, tidak lagi memikul salib untuk ke Golgota, tidak lagi dicambuk, diludahi dan dimahkotai duri bahkan tersalib. Namun kita dituntut untuk mengikuti jalanNya dengan ketaatan tanpa membantah. Disanalah kita berjuang menyalibkan keinginan daging kita, disanalah kita menangis, merintih, menderita, dan kadang tak berdaya. Memang tidak mudah, tapi tidak ada pilihan lain.

Hidup di jaman modern, kita dituntut menjadi pribadi-pribadi yang dewasa, mengenal Kristus secara pribadi. Bukan lagi berdasarkan apa kata orang, tetapi mengalaminya dalam ketertundukan kepadaNya. Dengan demikian, salib Kristus menjadi semangat yang baru, salib Kristus memberi kekuatan baru, untuk kita berani hidup baru. Tuhan memberkati. Pdt. Julius Mokolomban

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top