Merdeka Karena Kebenaran

Penulis : GI Nikodemus Rindin | Fri, 26 May 2017 - 17:31 | Dilihat : 245
gambar-sapaan-9.jpg

Kebenaran dan kemerdekaan adalah satu hal yang erat dan mengikat satu sama lain. Bahwa mereka yang memiliki kebenaran mereka itulah yang merdeka sebaliknya mereka yang merdeka merekalah yang memiliki kebenaran. Namun banyak juga yang merasa memiliki kebenaran namun tidak mengalami kemerdekaan. Apa sesuungguhnya yang terjadi? Bahwa orang demikian sebetulnya tidak benar-benar merdeka meski merasa merasa sudah merdeka karena kemerdekaan diperoleh di dalam kebenaran Kristus sebab Dialah sumber kebenaran itu.

Beragama Kristen, menjadi keturunan Abraham, menjadi pelaku Taurat bukan berarti sudah merdeka karena kemerdekaan itu terjadi bila Kristus melakukan kemerdekaan atas hidup kita. Dan inilah yang diungkapkan oleh Yohanes 8:30-36. Apa sebetulnya yang membuat orang tidak mengalami kemerdekaan yaitu karena mereka sudah terikat dengan dosa. Ikatan tersebut berusaha mereka lepaskan dengan perbuatan baik, dengan beragama, dengan melakukan hukum moral dan hukum yang tertulis saja. Semuanya itu memang baik namun perjumpaan dengan Kritsus dan hidup karena anugerah-Nya itulah yang sangat perlu untuk dikerjakan. Itu sebab di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa, ini adalah suatu kenyataan yang sangat benar.

Kebenaran dan kemerdekaan yang sejati yang Yesus lakukan membawa dampak bagi tiap-tiap orang percaya. Mereka menjadi manusia baru dan diperkenan-Nya. Dosa menjadi hal yang tak lagi menarik untuk mereka lakukan, kalau pun mereka jatuh dalam dosa, Roh Kudus akan menginsyafkan mereka tas dosa itu sehingga mereka dimampukan untuk berbalik kepada jalan yang seharusnya. Mereka bukanlah menjadi penggemar dosa tetapi mereka menjadi penggemar kebenaran dan tentu hal tersebut berkembang secara progresif, semakin meningkat dan semakin menuju kepada kehidupan yang lebih mulia. Dosa bukan hanya tidak lagi menarik tetapi juga tidak lagi berkuasa atas mereka karena telah diputuskan di atas kayu Salib karena Kristus. Lalu kemudian terbangun persekutuan dengan Allah Bapa, ada hubungan yang erat antara mereka dan hubungan tersebut tak sekedar aktivitas atau rutinitas ibadah gereja namun hubungan yang terjadi secara personal karena kuasa penebusan itu. Ini tentu menjadi sukacita yang mulia karena dulunya manusia terpisah dan berseteru dengan Allah kini tehubung kembali hubungan yang manis bersama-Nya. Karena kebenaran dan kemerdekaan itu maka manusia menikmati hubungan bukan hanya dengan Allah namun juga dengan sesama-Nya.

Kasih kepada Allah itu baik namun juga perlu kasih kepada sesama manusia, itu yang Alkitab juga sampaikan. Sehingga kasih kepada sesama manusia menjadi ekpresi syukur dan sukacita karena telah menerima kasih dari Allah Bapa. Di sana seorang belajar untuk menguatkan, belajar untuk saling melayani dan berbagi, belajar untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan. Dan hal tersebut sudah dicontohkan oleh Jemaat mula-mula bagaimana mereka menghidupi keberimanan mereka di dalam kehidupan keseharian sehingga mereka rela berbagi kepada yang tidak punya karena mereka tahu apa yang semua semata karena kasih karunia Bapa di surga. Inilah ekspresi dari kehidupan orang yang telah mengalami kebenaran dan kemerdekaan, kiranya kita ditolong oleh Tuhan untuk menerapkannya dalam keseharian. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top