HENRY MARTIN

Sat, 8 July 2017 - 12:05 | Dilihat : 225
gambar-tokoh-15.jpg

MELAYANI DENGAN TIDAK MENGENAL LELAH

 

Henry Martyn dilahirkan dari keluarga mapan dalam finansial, ayahnya bekerja sebagai pedagang. Dalam status sosial masyarakat, beliau juga berasal dari kelurga yang terhormat. Pria yang gemar mempelajari ilmu matematika ini, hidup dalam keluarga yang senantiasa mengisi waktu luangnya dengan persekutuan doa. Kecerdasan, kecepatan dalam berpikir dan kecintaannya dalam belajar merupakan hal yang Martin warisi dari ayahnya. Manusia tidak dapat memilih lahir dari keluarga dan orang tua yang bagaimana dan seperti apa? Apakah orang tua kaya atau miskin, terhormat dan tidak terhormat serta sehat maupun sakit. Di satu sisi Martin memang beruntung memiliki seorang ayah yang bisa mewariskan hal-hal yang terbaik bagi dirinya, tetapi disisi lain dia anak yang kurang beruntung karena ia mewarisi kondisi kesehatan yang buruk dari ibunya. Penyakit TBC yang membunuh ibunya dan dua saudara perempuannya.

Meskipun begitu, ayah Martin memiliki harapan besar kepada Martin, karena sang ayah melihat mereka memiliki kesamaan. Martin seorang anak yang cerdas, memiliki prestasi yang baik dan kemampuan yang tinggi. Meskipun ada kalanya dia gagal karena kemalasannya, tetapi dia bisa bangkit dan menonjol dalam prestasi akademisnya. Dia dikenal di kampusnya (Cambridge) sebagai seorang yang tidak pernah melewatkan satu jam pun dengan sia-sia”. Seorang panutannya bernama John Kempthorne yang memacunya demikian. Kempthorne menasihatkan Martin bahwa ketika menempuh studi, Martin seharusnya mencari pujian dari Allah, bukan dari manusia. Bagi Martin, itu hal yang kelihatannya masuk akal. Itu terjadi pada waktu Martin berumur 18 tahun, sebelum ia menyadari bahwa pengetahuan tentang Allah mampu memengaruhi seluruh aspek kehidupannya.

Sebagai seorang yang cerdas, Martin pun bertumbuh sebagai seorang yang sombong dan tidak peduli dengan hal rohani. Namun ada tiga peristiwa besar yang memengaruhi pertobatannya, yakni adik perempuannya, kematian ayahnya, dan bimbingan dari John Kempthorne. Adik perempuannya sering menasihati dan mendoakan Martyn. Kematian ayahnya sewaktu Martin berumur 19 tahun membuatnya tergerak dengan segala perkataan ayahnya ketika ayahnya masih hidup. Ia sadar tentang dunia setelah kematian, dan akhirnya tidak bisa konsentrasi lagi di matematika dan membuka Alkitabnya karena dia berpikir bahwa saat yang serius ini lebih cocok memikirkan masalah agama. Sejak saat itu melalui Kempthorne, dia merasakan Kitab Kisah Para Rasul memikatnya semakin mendalam. Martin mulai berdoa dan membaca Alkitab dengan rajin. Allah yang sebelumnya bagi dia merupakan sebuah ide, sekarang menjadi nyata dan dapat memanggil-Nya “Bapa”. Ia mulai berdoa, menikmati waktu doanya, dan menaklukkan diri dengan sukacita menaati kehendak Allah.

Setelah bertobat dan lulus dalam ilmu matematika, dia pun mulai mencari panggilan profesinya. Dia mulai tertarik belajar hukum, tetapi juga memperoleh pengetahuan betapa pentingnya pelayanan sebagai pendeta. Di dalam dilema itu, dia dikuatkan oleh Kitab Yesaya yang dibacanya, sehingga dia membuat keputusan untuk menyerahkan hidupnya sebagai pelayan Tuhan. Keinginannya sekarang adalah hanya melayani Tuhan. Tuhan mengatur potensi pelayanannya melalui Pendeta Simeon, sehingga Martyn dijadikan pendeta pembantu di Trinity Church. Sekalipun itu menyukakan hati Martin, ia tahu bahwa ia akan banyak kehilangan popularitas dan penghargaan. Ia sempat malu bahwa dia adalah hamba Tuhan yang membantu Simeon. Sebab pada waktu mengambil keputusan itu, dia adalah seorang yang terpelajar dan dikenal masyarakat. Lulusan matematika, sarjana klasik yang menonjol, penguji di universitas, dan tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui kecemerlangannya. Akan tetapi, semua pencapaian itu tidak berarti lagi bagi Martin. Dia hanya ingin fokus melayani Tuhan.

Di dalam ketertarikan Martin kepada pelayanan misi, misionaris David Brainerd muncul dalam pergumulannya. Dia membaca buku hariannya dan sangat tergerak mengetahui bahwa Brainerd pernah mengabarkan Injil kepada orang-orang Indian dalam ketidaknyamanan dan penderitaan. Brainerd meninggal karena penyakit TBC dalam usia 29 tahun. Martin berkata, Saya merasa hati saya terajut dengan pria tersebut dan merasa bersukacita ketika saya memikirkan akan bertemu dengannya di sorga. Saya rindu menjadi seperti dia; biarkan saya melupakan dunia, dan tertelan habis oleh kerinduan untuk memuliakan Allah.” Perjalanan Martin menjadi misionaris, juga bukanlah hal mudah. Martin mengalami kesulitan dan penderitaan, tetapi panggilannya memiliki dasar yang kokoh sehingga dia bisa bertahan menghadapi semua rintangan yang ada. Pada umurnya yang ke-21, perlahan-lahan dia yakin bahwa Allah memanggilnya untuk pekerjaan misi di luar negeri. Martyn harus menjadi seorang misionaris.

Dia memulai pendekatan pertama kepada lembaga misi The Society for Missions to Africa and East. Martin mulai mendaftarkan diri dan memiliki kesempatan untuk mendaftar sebagai pendeta di East India Company yang memberikan penghasilan besar. Di perusahaan tersebut, dia bukan hanya bisa melayani orang Eropa, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melayani orang-orang India. Namun sebuah keputusan tidak terduga bahwa Martin menolak tawaran tersebut, meskipun akhirnya selama beberapa waktu Martin menjadi pendeta di East India Company agar Martin tetap dapat berada di India. Alasan dia menolak sebagai pendeta di EIC adalah, Prospek kebahagiaan dunia lebih memberikan kesakitan kepada saya daripada kesenangan, saya akan jauh lebih senang pergi ke luar sebagai seorang misionaris yang miskin seperti Kristus dan murid-murid-Nya.” Inilah perkataan seorang yang dua tahun sebelumnya masih tidak setuju untuk miskin demi Kristus! Kesulitan yang dialami Martyn dimulai sejak keberangkatannya dari Inggris ke India. Mulai dari pelabuhan, lautan, dan daratan; kesusahan demi kesusahan dialami oleh Martyn. Ketika dia meninggalkan Inggris, dia memikirkan semua orang yang dicintainya, keluarganya, teman-temannya, dan seorang wanita yang dicintainya, Lydia Grenfell. Lydia adalah seorang wanita yang sejak pertobatannya, menjadi saleh dan aktif dalam pelayanan Kristen. Ia mengunjungi orang miskin dan orang sakit di wilayah sekitar gerejanya, memberikan pertolongan praktis dan membaca Alkitab serta berdoa bersama mereka. Teman Martin mengatakan Lydia adalah seseorang yang sangat tepat bagi Martin. Ketika Martin berumur 23 tahun, Martyn pernah menghabiskan waktu bersama Lydia. Mereka berjalan-jalan, mengunjungi orang sakit bersama-sama, dan membicarakan hal-hal rohani. Bahkan ketika bersama Lydia dan bercakap-cakap dengannya, Martin mengalami pergumulan bahwa dirinya sedang memberhalakan Lydia. Sebab perasaan keterikatannya dengan Lydia menyebabkan hilangnya perasaan akan kehadiran Allah. Namun Martin jelas sekali bahwa dia mencintai wanita ini. Martin ingin melamarnya, dan ingin agar Lydia ikut ke India juga. Di tengah perasaan yang seperti ini, Martin harus pergi ke pelabuhan dan meninggalkan Lydia untuk selama-lamanya.

Perjalanan laut merupakan perjalanan yang tidak nyaman dan sangat berbahaya. Martin menggunakan kapal dagang untuk ke India, dikawal dengan empat kapal perang di mana satu kapal perang memuat ribuan prajurit. Di sanalah Martin pertama kali merasakan medan pertempuran antara Inggris dan Belanda yang memperebutkan Cape Town di Afrika. Bukan hanya itu, Martin juga sempat ditetapkan sebagai pendeta kapal perang karena Martin satu-satunya pendeta di antara mereka. Ia hampir tidak dapat dikatakan cocok untuk jemaat di kapal itu. Jemaat kapal itu pun kurang menerima pelayanannya. Martin adalah seorang akademisi, dia begitu terpelajar, pandai matematika, tekun mempelajari berbagai bahasa, sehingga betapa pun ia berusaha menyederhanakan khotbahnya, itu masih terlalu sukar bagi pendengarnya. Awak kapal yang mengerti khotbahnya memberi saran untuk tidak bicara soal hukuman neraka dan menginginkan Martin berkhotbah tentang moralitas seperti yang biasa mereka dengar. Namun Martin tetap berkhotbah mengenai natur manusia yang berdosa, penghukuman, pertobatan, dan betapa pentingnya manusia untuk mengenal kasih dan murka Allah. Martin terus dengan setia melayani jemaat kapal perang tersebut. Dia mengunjungi prajurit yang sakit, luka akibat perang, narapidana, dan sebagainya. Dia menghadapi kotor dan baunya kapal tersebut, mengalami sakit penyakit dan kelelahan. Awak-awak kapal melihat Martin sebagai seorang antusias yang gila. Di tengah kesulitan pelayanannya itu, sering kali perlawanan dari orang sekitar membuatnya menarik diri. Ia merasa tidak mampu, takut, dan yang terberat baginya adalah dia sendirian di sana. Ketika hal itu terjadi, Martin benar-benar merasa perlu untuk meningkatkan rasa kebergantungannya yang penuh kepada Allah. Tuhan menyatakan penyertaan-Nya. Di tengah pelayanannya yang begitu sulit, Tuhan memberikan penghiburan. Pelayanan Martin menghasilkan buah yang nyata. Beberapa orang tertarik dan mereka mau bergabung dalam persekutuan kabin yang diadakan Martin secara rutin.

Di samping perjalanan laut yang dihadapinya, Martin berdoa untuk India. Dia sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Hindustan untuk mendukung pelayanannya di India. Ketika sampai di daratan India, pelabuhan Madras, Martin melihat pria, wanita, anak-anak yang semuanya pemuja berhala. Bagi Martin, itu adalah sebuah kegemetaran, seakan-akan dia berada di dalam kekuasaan pangeran kegelapan. Martin ingin melihat ketidaksukaan Allah terhadap kondisi orang-orang di India. Kemudian Martyn melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke Calcutta. Di Calcutta, Martin mempertahankan statusnya sebagai pendeta dan berkumpul dengan para pendeta lainnya. Akan tetapi para pendeta lainnya tidak pernah memikirkan orang India. Yang diinginkan Martin adalah terjun ke dalam komunitas orang-orang India dan mengabarkan Injil kepada mereka. Ketika Martin di India, Martin tidak henti-hentinya mempelajari bahasa Hindustan, Persia, dan Bengali. Dia juga berdiskusi, membagikan ratusan traktat, berdebat dengan para ahli agama Hindu maupun Islam di sana, dia juga sering kali mencatat burung dan hewan aneh di buku hariannya. Dia adalah seorang yang tidak pernah berhenti untuk belajar segala sesuatu dan tidak pernah berhenti untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang India dan sekitarnya.

Di dalam proses pelayanannya, Martin tahu bahwa jika ingin benar-benar berdampak, maka dia perlu membuat terjemahan Alkitab ke dalam bahasa orang-orang India. Di momen itu, dia yakin bahwa tujuan utama dalam hidupnya adalah pekerjaan penerjemahan. Dengan kemampuan linguistik dan kecintaannya kepada bahasa, dia mampu menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Hindustan, Sanskerta, dan Persia. Proses penerjemahan ini pun bukan hal yang mudah, Martin harus benar-benar menguasai bahasa daerah tersebut agar terjemahannya dapat dimengerti. Tuhan memberikan jalan kepada Martin melalui beberapa orang temannya yang memiliki kemampuan bahasa, sehingga dia dapat berdiskusi ketika menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru. Di kemudian hari, ide untuk pergi ke Arab muncul dalam pikirannya. Ide untuk pergi ke Tanah Arab benar-benar memenuhi hatinya dan akhirnya Martin memutuskan untuk pergi ke Arab. Tidak hanya itu, dia menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab juga. Ketika akhirnya Martin memutuskan untuk pergi ke Arab, rekan Martin mengatakan, Kiranya api pelayanan Anda dapat bertahan lama dan berkobar lebih lama di Arab daripada di India.” Dalam semangat pelayanannya ke Arab, Martin mengatakan, Sekarang biarkan saya terbakar habis untuk Tuhan.” Pada tahun 1811, di usianya yang ke-30, ia segera naik kapal dari Bombay, meninggalkan India dan pergi ke Baghdad. Setelah perginya dari Bombay, ia hampir tidak pernah menggunakan bahasa ibunya lagi (bahasa Inggris).

Di daerah Timur Tengah, Martin menghadapi budaya dan masyarakat yang baru. Mayoritas umat Muslim dan orang-orang ini mendengar Yesus Kristus sebatas nabi yang di bawah nabi Muhammad. Ketika dia sampai di Persia (Iran), dia benar-benar seperti orang Persia dengan menggunakan pakaian Persia. Dia kemudian melakukan perjalanan menggunakan kuda ke tempat sarjana dan sastrawan Muslim (Shiraz) dan itu bukanlah perjalanan yang mudah. Di tengah panas terik siang hari dan dinginnya malam membuat keadaan fisik Martin semakin melemah. Sesampainya di Shiraz, Martin menghabiskan waktu untuk penerjemahan Alkitab dan memulihkan kondisi fisiknya. Dalam waktu 8,5 bulan Martin menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Persia, sambil mempersiapkan diri berangkat ke Arab. Martin menjadi berkat bagi orang-orang Muslim di Shiraz akibat diskusi dan kesalehan hidupnya.

Dari Shiraz, Martin rencana berangkat ke Konstantinopel (Turki) untuk melanjutkan pelayanannya, lalu ke jantung Tanah Arab. Akan tetapi tidak disangka, perjalanan ke Konstantinopel menjadi perjalanan terakhir dari kisah hidupnya. Dengan mengikuti rombongan orang-orang berkuda, Martin mengalami masalah kesehatan yang timbul berkali-kali, sering kali Martin terbaring dan tidak kuat berdiri, dan demam membuatnya menghambat rombongan. Martin dipaksa ketua rombongan untuk berdiri dan berangkat yang membuatnya tidak ada waktu untuk istirahat. Martin mengatakan, Saya hampir tidak tahu bagaimana harus mempertahankan hidup saya.” Di hari berikutnya, Martin tidak mengalami kesakitan dan kelelahan perjalanan lagi, karena kisah hidupnya sudah berakhir. Salah satu perkataan Martin yang berulang kali dia tuliskan dalam buku hariannya ketika penyakit mengancam jiwanya adalah, “Jika Allah mempunyai pekerjaan untuk saya lakukan, saya tidak dapat meninggal.” Di perjalanan ke Konstantinopel, Allah mengizinkan Martin meninggal, artinya pekerjaan Martin yang diberikan Allah sudah selesai. Orang-orang Kristen Armenian menguburkan pendeta Inggris yang tidak mereka kenal. Dunia bukanlah tempat yang layak bagi Martin. Perjalanan hidup Martin, tidak jauh berbeda dengan Brainerd, seorang misionaris yang mempengaruhi semangat dan panggilannya dalam melayani Tuhan. Umur mereka di dunia terpaut hanya dua tahun saja, Martyn meninggal di usia 31 tahun. Demikian Martin menginggal, oleh karena sakit yang telah diwarisi dari sang ibunya.

Setiap misionaris memang mengakhiri tiap kehidupan mereka di dunia dengan meninggal. Tapi karya Allah dalam mereka tidak pernah padam. Meskipun api kebangunan rohani sering kali pasang surut di dalam sejarah, tetapi pekerjaan Allah yang sesungguhnya tidak pernah padam! (Netsen/dbs)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top