PELAYAN YANG BENAR

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Sat, 22 July 2017 - 16:29 | Dilihat : 173
Tags : Benar Pelayan
gambar-sapaan-11.jpg

Lukas 9:23, ayat tersebut merupakan lukisan kisah tentang suatu fenomena yang tak mungkin terhindarkan adalah bahwa banyak orang yang ingin menjadi pelayan Tuhan dalam berbagai area kehidupan. Entah dengan motivasi yang benar atau salah, namun penting dipahami bahwa sejatinya identifikasi terhadap pelayan yang benar itu sudah sangat jelas diterangkan oleh Alkitab bahwa setiap orang yang mau mengikut-Nya, entah itu orang kristen, pelayanan rohani dan lain sebagainya ternyata tak sekedar jabatan yang diemban namun bagaimana kesaksian kehidupan itu yang harus diperhatikan. Seorang pelayan Kristus, terang dijelaskan bahwa mereka yang mau menyangkal diri. Peyangkalan diri adalah lawan dari penyangkalan terhadap Kristus. Apa yang dilakukan Petrus bahwa ia tidak mengenal Kristus adalah suatu penyangkalan yang tidak mencerminkan keberadaan seorang pelayan. Ia tidak sedang menyangkal diri namun sedang menyangkal Kristus itu, yang berarti menolak mengaku keberadaan Kristus di dalam hidupnya. Itu sebab yang terpenting dalam bagian penyangkalan adalah dimana seseorang belajar menaklukan diri pada Kristus. Harusnya ia sadar penuh bahwa Kristus ada di dalam dirinya dan dia ada di dalam Kristus. Kita mengakui bahwa hidup yang dijalani adalah Anugerah Kristus semata. Kita tidak terlalu penting, bila dibandingkan dengan Kristus yang Agung itu. Nama baik diri, harta, kemuliaan diri, pengakuan, jabatan dan penghargaan bukanlah segalanya jika dibandingkan dengan Kristus itu. Itu sebab, jika kita mau mengikut Kristus maka kita harus belajar menyangkal diri, menundukan diri, menaklukan keinginan diri kita dibawah kaki-Nya sebagaimana Ia telah tunduk pada kehendak dan ketetapan Bapa di Surga.

Apakah anda ingin menjadi pelayan Tuhan? Maka penyangkalan diri adalah hal yang menjadi ciri khas seorang pelayan yang sejati. Saat seseorang hanya melayani demi mempermuliakan diri, terlalu banyak membicarakan dirinya sendiri, minim berbicara tentang Kristus maka tahulah kita bahwa sebetulnya mereka bukanlah pelayan Tuhan yang sejati. Alkitab berkata, "... banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Matius 7:22-23. Itu sebab pelayan yang palsu akan tersipu malu karena pada waktunya, Ia akan menelanjangi keberadaan mereka secara berterus terang.  Dia akan membungkan mulut mereka karena mereka adalah pelaku kejahatan yang menyesatkan banyak orang. Mereka terlihat melayani Allah namun dalam realitas pelayanan sebetulnya mereka sedang melayani diri dan menolak mengakui-Nya sebagai Tuhan. Meski mereka berucap dengan mulutnya, Tuhan, Tuhan, dan Tuhan, kami sudah begini dan begitu untuk-Mu namun Kristus akan menolak mereka dan Ia berkata bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka.

Menyangkal diri, memikul Salib dan mengikut Kristus adalah ekspresi hidup yang tak mungkin dinohongi, mungkin seseorang bisa membohongi manusia namun tidak di hadapan Dia.  Suatu hari ini, cepat atau lambat semua akan terlihat jelas dan terungkap di hadapan-Nya.  Itu sebab kita tidak heran mendengar ada orang yang begitu setia beribadah, setia melayani, setia berdoa, setia memberi persembahan dan setia dalam berbagai pernah pernik ritual rohani namun di dalam hatinya yang terdalam siapa yang tahu apa yang menjadi motivasinya, apa yang ia simpan di dalamnya, itu sebab hanya Kristuslah yang tahu, apakah ia setia, tulus dan jujut atau tidak. Adalah suatu hal yang menyenangkan ketika kita memanggil nama-Nya, Ia bukan hanya mendengar kita namun Ia juga mengenal kita.  Tetapi adalah suatu hal yang menyedihkan, ketika kita merasa sudah melayani-Nya, namun kita ditolak dan dibuang dari hadapan-Nya.  Itu sebab, sangkal diri, pikul salib dan ikutilah Dia maka kita akan menemukan sukacita yang penuh dan utuh.  Layanilah Dia dan bergembiralah karena-Nya. Amin-Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top