Abdi Allah Yang Mengabdi

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Wed, 16 August 2017 - 16:46 | Dilihat : 350
gambar-sapaan-12.jpg

Mengabdikan diri kepada Tuhan bukan hanya menjadi sesuatu hal yang sangat mulia dan berharga namun lebih penting lagi bagaimana seseorang menjalani kehidupan yang terus berkenan kepada Tuhan. Karena kuliatas seseorang akan betul-betul teruji jika hidupnya tetap kokoh dan tetap berdiri disetiap gelombang dan badai yang menerpa. Kualitas hidup bagaimana dia tetap menjaga integritasnya sehingga tak ada satu pun celah bagi para lawan bisa melakukan dakwaan terhadapnya. Dia akan tetap berani berdiri dan bersaksi meski dituduhkan tuduhan yang palsu sekalipun. Karena dia tahu bahwa kebenaran tetaplah kebenaran yang berpihak pada orang benar. Tak perlu membela diri sedemikian rupa karena itu hanya menimbulkan pertikaian semata, dia hanya cukup menjalani hidup secara murni dan konsisten di tiap-tiap harinya.

Kualitas iman memang tak perlu pameran karena itulah nafas kehidupan orang yang ber-Tuhan. Di dalam iman itu seseorang percaya, seseorang melakukan dan mengalami perjumpaan bahkan pergumulan dengan Tuhannya. Namun di dalam kualitas iman itu, ia akan berdiri bersama dengan Pencipta-Nya tanpa bisa dipisahkan meski pun banyak peraturan yang berusaha membatasinya. Karena dia tahu bahwa pejumpaan dengan Tuhan adalah hal yang harus terjadi dalam hari-hari di dalam relasi dan penyembahannya. Dalam hal ini kualitas hamba bahwa ia berani menerima konsekuensi yang ada meski dimasukan ke dalam gua singa, lemparan batu atau dihadapankan pada suatu kematian, sebab bagi mereka itu tidak mengakutkan karena yang paling menakutkan adalah kalau mereka berbuat dosa kepada Bapa di Surga. Maka dari itu miliki kualitas hidup seorang hamba yang terus berjalan dengan Tuhan secara setia. “Lebih baik dihina oleh manusia daripada dihina oleh Allah.” Itu sebab Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak gentar terhadap perapian yang menyala-nyala yang telah disiapkan untuk menghukum mereka bila mereka tidak tunduk terhadap titah raja Nebukadnezar.  Mereka justru menjawab dengan jawaban yang agung dan mengagetkan raja, “Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Daniel 3:16-18

Mengabdi kepada Allah tidak berarti bahwa seseorang bebas dan tanpa masalah hidup.  Namun melalui berbagai persoalan ia tetap belajar berpegang tangan Tuhan dan imannya dibentuk.  Sampai terkadang muncul kalimat-kalimat yang agung, siapakah Engkau Tuhan? Mengapa demikian karena ternyata kita telah terlanjur merajut pemahaman tentang Tuhan yang selama ini kita anggap benar.  Namun saat Tuhan itu tampil dengan cara yang tak terduga maka kita tersentak dan gelisah.  Ternyata kita telah salah menduga tentang Tuhan dan cara kerja-Nya.  Itu sebab tidak heran ketika murid-murid yang perahunya hampir karam karena goncangan ombak, mereka menjadi takut dan merasa diambang kematian namun disanalah Tuhan menyatakan tentang siapa diri-Nya dan siapa sebetulnya murid-Nya? Demikian juga dengan Paulus yang selama ini merasa telah melakukan yang baik dan benar bahkan radikal dalam imannya, siapa sangka keluar dari ucapan bibirnya, siapakah Engkau Tuhan?  Bukankah selama ini dia sudah melayani Tuhan dan mengenal Tuhan itu?  Namun ternyata pelayanan dan pengenalannya telah salah alamat.  “Tuhan yang dilayaninya justru Tuhan yang teraniaya,” sebetulnya disanalah letak kesalahan fatal tiap-tiap pelayan Tuhan.  Mereka merasa sudah melayani Tuhan, tetapi ternyata mereka sedang menganiaya-Nya, melalui apa mereka menganiaya-Nya, yaitu melalui radikalisme yang tak berdasarkan kepada kebenaran Injil.   Mereka berusaha menerjemahkan Injil berdasarkan versi mereka sendiri.  Sebetulnya kebenaran bukanlah sekedar apa itu benar, dan kebenaran yang tertulis serta yang dikerjakan namun segala kebenaran harusnya mengerucut pada satu pusaran yang sama, yaitu Yesus Kristus sebagai Sang Kebenaran. Segala sesuatu yang lepas dari pusaran Sang Ilahi itu, maka akan kehilangan kebenaran yang sejati.  Itu sebab Yesus berkata, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.” Sang benar itu akan memimpin kita dalam jalan-Nya, kebenaran-Nya dan Kehidupan yang kekal. Pdt. Nikodemus Rindin

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top