Melayani Dewa Aku Efesus 5:5

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 30 August 2017 - 11:29 | Dilihat : 325
Tags : Efesus 55
gambar-mengenal-alkitab-23.jpg

“Api kecil jadi sahabat, Api besar jadi penjahat”. Ya, banyak orang mendapat manfaat dari nyala apai yang tidak besar.  Orang bisa mendulang kemanfaatan dari api yang kecil untuk memasak, mendapat terang dan memanfaatkan panasnya.  Ketika api itu masih dibawah kontrol manusia, maka hal itu akan mednapat manfaat bagi orang.  Dan akan sangat membahayakan ketika berubah nyalanya menjadi raksasa yang bisa menghanguskan apa saja yang ada di dekatnya.  Itu Api. bagaimana dengan dosa?

Sering terdengar di telinga, ada orang menyebut dosa kecil; sedang dan dosa besar.  Dosa kecil dianggap sesuatu yang mudah diampuni, maafkan dan maklumi.  Ya, itu hanya kekhilafan seseorang saja, demikian biasa orang berkilah.  Tapi tidak dengan dosa besar, bukan saja dianggap tidak dapat diampuni, tapi ganjarannya pun tak tanggung-tanggung, “intipe neroko” (bagian neraka terbawah), begitu kami kecil dulu menyebutnya. Tapi apa benar demikian?  Apa benar dosa kecil bisa dimaklumkan; dan dosa besar tidak bisa diampunkan?

Orang tidak lupa bagaimana Yahudi memperlakukan wanita sundal.   Bukankah mereka tidak hanya disingkirkan secara sosial, tapi juga dianggap pendosa besar, karena itu dianggap perlu di rajam batu (Yoh 8:3-11).  Tapi sepertinya hal sama tidak berlaku bagi pelanggan atau pasangan yang bertindak asusila dengan perempuan sundal itu.   Mungkin pasangan perempuan sundal itu hanya dianggap melakukan dosa kecil saja. Dianggap hanya melakukan tindakan cemar saja.

Alkitab tidaklah demikian. Di kitab suci, yang namanya dosa ya tetap saja dosa.  Tidak ada kuantitas besar-kecilnya dosa.  “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. “ (Ef 5:5)

Baik perempuan sundal ataupun yang hanya mencemarkan dirinya sama-sama melakukan tindakan dosa.  Hal itu sama saja di mata Allah, merupakan kekejian di mata-Nya.Begitu juga tiga kategori tindakan dosa yang disebut di ayat ini: laki-laki yang melanggar kesusilaan; yang tidak murni, kotor, jahat; dan orang serakah semuanya dianggap sebagai orang yang menyembah berhala.  Mengapa demikian, karena mereka hanya mengejar apa yang menjadi keinginan hati semata; hendak nafsu diri saja.  Baik secara seksual, maupun pemenuhan kebutuhan diri dengan materi.

Di ayat ini orang juga mendapat pengetahuan yang gamblang, bahwa mereka yang hidupnya berorientasi kepada diri; melayani diri sendiri; dan hendak memuaskan hasrat atau nafsu diri saja; maka sama saja sedang dengan penyembah berhala (melayani dewa/berhala).  Ya, diri bisa menjadi berhala bagi orang.  Diri bisa menjadi dewa bagi diri sendiri yang menuntut dilayani dan dipenuhi segala yang diinginkannya.   

Dengan melayani dan hidup diorientasikan hanya kepada diri, maka roang sedang menjauh dari Allah.  Allah yang harusnya dilayani sepenuh hati; Allah yang seyogyanya menjadi orientasi hidup dan pelayanan manusia justru dikesampikan, dan diri menjadi dewa.  Betapa berbahayanya. 

Karena itu penting mengawasi diri; mengintrospeksi  agar diri tak jatuh ke atas dengan menjadi dewa menggantikan Tuhan di atas sana. Pdt. Slamet Wiyono

Lihat juga

Komentar

Top