TETAPLAH BERDOA

Penulis : Pdt Netsen | Wed, 13 September 2017 - 10:37 | Dilihat : 216
Tags : Berdoa Doa

Berdoa adalah kata yang mudah untuk di ucapkan, apalagi dalam konteks kehidupan umat beragama. Tetapi berdoa bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Karena berdoa bukan sekedar bagaimana lutut bertelut, tangan yang berlipat atau terulur, jiwa berharap, hati berbisik, mulut berucap. Doa bukan hal sesederhana yang bisa kita pikirkan. Berdoa merupakan sikap hidup sehari-hari dalam ketaatan dan penaklukan diri pada kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai kesibukan dan pekerjaan yang telah direncanakan, akankah itu mengganggu kehidupan kita dalam membangun relasi indah dengan Tuhan melalui berdoa, atau justru sebaliknya, dimana kesibukan dan jadwal pekerjaan yang padat atau banyak menyadarkan kita untuk memiliki penyerahan hidup yang total pada Tuhan.

Kehidupan orang percaya dalam dunia ini bukan kehidupan yang mudah, dimana semua indah, mulus, dan tanpa kesulitan dan beban yang berat. Tidak. Hidup orang percaya adalah hidup yang bergumul dan berjuang dalam kebenaran sehingga hidup dapat dijalani seturut dengan kehendak Tuhan dan menyukakan hati-Nya. Dalam pergumulan yang berat dan beban yang menindih hidup, Yesus mengingatkan dan mengajak orang percaya untuk datang kepada-Nya; “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Dengan kondisi kehidupan pekerjaan yang sibuk dan berat orang percaya dituntut untuk memiliki penyerahan hidup kepada Tuhan dan berdoa. Meski dengan berdoa segala kesulitan dan beratnya beban hidup belum tentu langsung terselesaikan, tetapi dengan berdoa orang percaya dituntut untuk mengerti, memahami dan menjalani hidup dalam ketaan pada Tuhan. Bisa jadi kesulitan hidup menjadi alat atau sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk memproses iman orang percaya.

Paul Miller mengatakan bahwa “Doa sama dengan ketidakberdayaan”. Allah ingin orang percaya datang kepada-Nya dengan suatu sikap hati yang jujur dihadapan-Nya, dengan ketidakberdayaan, hati letih lesu, dan berbeban berat. Sedangkan naluri manuisa ingin mengusir ketidakmampuan dan ketidakberdayaan tersebut sebelum ia datang kepada Allah. hal ini merupakan penyebab mengapa kita kesulitan berdoa dan sangat berat untuk memulai berdoa. Tetapi justru keadaan letih dan berat itulah yang Tuhan ingin kita bawa kepada-Nya.

Karena itu, apabila kita menyadari hati Allah yang sesungguhnya di dalam Injil, bahwa Dia adalah Abba, Bapa, yang mengasihi kita, maka kita akan tergerak untuk berdoa. Doa adalah cermin dari Injil. Kita yang rindu menyenangkan Tuhan, mendapatkan anugerah untuk boleh datang kepada-Nya di dalam keletihan, beban berat, dan ketidakberdayaan dan kesibukan. Kita dibebaskan oleh Kristus dari perbudakan dosa dan menjadi anak-anak Allah sehingga orang percaya memiliki keberanian untuk datang dan berdoa kepada Allah dengan hati yang terbuka di hadapan-Nya.

Hal lain yang membuat seseorang berat dalam berdoa kepada Tuhan, karena dia tidak mengerti karya Kristus melalui salib yang telah mengalahkan maut. Thimothy Keller dalam sebuah bukunya yang berjudul Gospel in Life menjelaskan bagian ini, ketika orang percaya memahami bagaimana karya Kristus yang Agung, yang menebus hidup manusia berdosa dari murka Allah. Maka kalau orang percaya sadar akan karya Kristus tersebut dalam hidupnya, maka dia tidak akan mengalami kesulitan dan berat dalam berdoa. Sebaliknya dia akan bersukacita boleh menjalani hidup dalam pemeliharaan-Nya. Kita diterima sepenuhnya di dalam Kristus bukan karena perbuatan baik kita, tapi karena kasih-Nya yang sempurna. Kita diterima sepenuhnya oleh kasih-Nya yang besar untuk mendekat ke takhta kasih karunia agar tiap-tiap hari datang kepada-Nya, memiliki relasi yang indah dengan Dia, menyerahkan hidup pada-Nya, melakukan kehendak-Nya dengan penuh sukactia. Pdt. Netsen

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top