Hindari Kata Sia-sia (Efesus 5:6-7)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 27 September 2017 - 16:16 | Dilihat : 88
gambar-mengenal-alkitab-24.jpg

Kata-kata yang terangkai indah memang membuai.  Puja-puji pun dirangkai dari pilihan-pilihan kata yang menyejukkan telinga. Syair dan puisi, juga karya sastra lainnya memiliki kekuatan dari kata-kata yang dipilih dan gunakan.   Itu tajam dan kuatnya kata-kata.  Kekuatannya tidak hanya terletak pada verbal yang mengekspresikannya semata. Tapi sejatinya ada pada kata-kata itu sendiri.  Sementara verbal adalah bagian dari ekspresi dan, tentu saja bagian dari tafsir tentang kata-kata. 

Dari ribuan bahkan jutaan kata-kata yg bisa dirangkai dalam kalimat, yang memiliki kekuatan makna di dalamnya, semestinya menjadi alasan kuat untuk menghindari bunyi, suara, atau ungkapan yang tak bermakna.  Ayat sebelumnya menggambarkan ada dalam rupa: perkataan kotor; kosong atau perkataan sembrono.  Bukan hanya karena kata-kata itu tidak pantas diucapkan (5); tapi juga karena ketiadaan makna penting di sana, selain hanya letupan ungkapan dan emosi yang tertumpah di sana.  Namun sayang, sering orang tersesat di kata-kata hampa (6).  Melontarkan kata-kata tanpa  makna.  Dan kata-kata itu yang menangkap dan “memenjarakannya.”

Tersesat di kata-kata jauh lebih berbahaya.  Bukan saja menjerat diri penggunanya, tapi juga menciderai orang lain.  Bukan itu saja, hal demikian juga mendatangkan murka Allah kepadanya.  Sebab, seperti telah disinggung dalam ayat-ayat sebelumnya, bahwa dosa karena lidah (berasal dari ungkapan kata-kata) adalah dosa yang berbahaya lantaran dampak sosialnya yang besar.  Kekristenan tidak mengenal apa yang dinamakan dosa kecil dan dosa besar.  Dari sudut kualitas, dosa apapaun itu adalah bentuk penyelewengan terhadap Allah. Dosa adalah bentuk ketidaktepatan arah dari yang Allah tujukan.  Dosa adalah meleset dari sasaran yang sudah Allah tetapkan. 

Bukan berlebihan kalau Paulus mengingatkan jemaatnya agar jangan sampai tersesat di sana.  Jangan diri tersesat oleh jeratan yang dibuat sendiri, melalui kata-kata kosong yang terucap, baik disadari atau tidak, yang kemudian berubah menjadi biasa. Pun jangan sampai disesatkan oleh kata-kata kosong yang diucapkan orang; kata-kata yang sia-sia, sembarangan, dan tanpa kebenaran (kenos {5:6}).   “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” (5:6). Di sini Paulus sepertinya juga sedang berbicara tentang GURU-GURU PALSU dengan aneka gaya retorika.  Tentang bagaimana para guru Palsu itu mampu memilih dan pilah; merangkai kata-kata dengan luar biasa, tapi sesungguhnya apa yang diajarkan hanya retorika belaka.  Hanya berisi teknik bujuk rayu persuasif semata. Hanya pandai memainkan karakter pembicara, emosional atau argumen dalam pilihan kata-kata yang ampuh, tapi menjauh dari kebenaran sejati.  Jangan, jangan terjebak di sana!  itu yang Paulus wanti-wanti betul. 

Bukan itu saja, Paulus menganggap penting agar jemaat yang dikirimi surat tidak berkawan dengan mereka (5:7).  Ini tidak melulu diartikan mengindar secara sosial dengan para pelakunya, yang dimaksud “tidak berkawan” berarti tidak menyetujui apa yang dilakukan; Tapi juga bisa berarti tidak menjadi bagian atau ikut serta dengan apa yang dilakukan (summetochos {Ef 5:7}).

Memiliki kemampuan dalam memilih kata-kata yang baik, tepat dan ampuh; apalagi ditambah kelihaian dalam ekspresi dalam mengungkapkannya, tentu satu hal yang sangat baik.  Tapi di mata Sang Kebenaran, bukan soal jagonya memilih kata-kata atau jagonya orang dalam beretorika, tapi warta, akabar atau berita apa yang diungkapkan dalam kata-kata yang dipilihnya.  Jika isinya sama sekali menjauh dari kebenaran, maka sesunggunya sia-sia, kosong dan nihil belaka. 

Kadangkala, bukan seringkali Allah mengungkapkan maksud dan keinginanNya dalam dan melalui sesuatu yang sangat sederhana, yang mudah dipahami, bukan suatu jalinaan kata-kata yang rumit dan sulit ditelaah maksudnya.  Slawi

Lihat juga

Komentar

Top