Sapaan Gembala

Hidup Yang Dibedah Allah

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 10 October 2017 - 16:52 | Dilihat : 363
Tags : Hidup

Kehidupan iman dibangun di atas prinsip-prinsip abadi atau prinsip-prinsip surgawi. Sedangkan kehidupan indera dibangun di atas obyek-obyek yang sementara, memudar (prinsip duniawi). Mungkinkah orang beriman kekurangan sesuatupun yang baik di dalam Dia yang adalah segalanya dan mustahil berubah? Tatkala para pelaut berlayar menuju laut, segera ia kehilangan pandangan akan daratan, sebaliknya seberapapun jauhnya ia berlayar, tidak pernah ia akan kehilangan pandangan akan langit. Jiwa orang beriman melihat hal-hal indah di dalam Allah jauh lebih banyak melampaui semua kesenangan duniawi, dan mengecap lebih banyak keindahan di dalam relasi dengan Kristus dibandingkan dengan semua persahabatan duniawi.

Anugerah Allah membedah orang percaya dari segala keinginan duniawinya sehingga membuat kecintaan mereka pada hal-hal yang bernilai kekal melampaui kecintaan mereka pada hal-hal yang bernilai fana. Bahkan melampaui kecintaan mereka pada diri mereka. Anugerah Allah memampukan orang percaya untuk membedakan mana kesenangan fana dan mana yang abadi. Apa yang Paulus nyatakan, tatkala hidupnya telah dibedah oleh Allah dari jalan hidup yang tidak pada tread-nya Tuhan. Paulus menganggap segala sesuatu yang dahulu dia anggap sebagai keuntungan ternyata semuanya hanyalah sebuah kerugian dan bahkah hanya sampah belaka. Betapa Paulus memiliki perubahan paradigma yang sangat ekstrim tentang value hidup yang telah dibedah oleh Allah.

Seseorang akan tahu kalau hidupnya telah dibedah oleh Allah dari rupa keinginan duniawi dalam dirinya adalah ketika mereka sadar dan memiliki afeksi sorgawi di tengah-tengah kepemilikan harta duniawi. Bicara soal harta duniawi tidak sekedar bicara tentang hal finansial atau materi yang berlimpah. Harta duniawi juga dapat menunjuk pada hal-hal lain yang menjadi kebanggaan diri dalam dunia ini, yang padanya seseorang bergantung dan menaruh seluruh hidup dan pengharapannya dalam dunia, entah itu jabatan, pangkat, kedudukan, kepintaran, dan lain-lainnya. Selain memiliki afesi sorgawi, maka orang akan mengetahui kalau hidupnya telah dibedah oleh Allah, ketika mereka menyadari bahwa kebahagiaan mereka ditantukan oleh buah ilahi, bukan oleh terpenuhnya kebutuhan hidup lahiriah. Terlalu banyak orang yang berpikir hidupnya akan bahagia ketika mereka merasa bahwa hal-hal lahiriah yang mereka inginkan bisa mereka capai. Kalau pencapaian hal-hal yang bersifat lahiriah adalah penentu ukuran suatu kebahagiaan hidup manusia maka hal tersebut adalah penghinaan terhadap kasih dan pemeliharaan Tuhan atas hidup orang beriman.

Selanjutnya, orang yang telah dibedah oleh Allah dari keinginan duniawi adalah mereka yang akan memilih hidup kudus, penderitaan dan kerugian lebih dari sekedar kenaikan pangkat, dosa dan kesenangan yang bersifat sesaat (Ibr. 11:24-26). Betapa tidak mudah untuk menjaga dan mempertahankan hidup yang suci dan yang berkenan pada Tuhan di tengah-tengah dunia dengan tawaran yang serba memudahkan dan menyenangkan. Tetapi ketaatan dan kerelaan pada bedahan pisau tajam dari Allahlah yang memampukan hidup tetap berada pada jalurnya Tuhan. Dan oleh iman kita mampu menghadapi baik senyuman maupun penolakan dunia. Tatkala dunia memberikan senyuman kepada kita melalui semaraknya, kehormatannya, kekayaannya, kesenangannya, kegembiraannya dan kebanggaannya, dapatkah kita memandang semua ini sebagai hal yang remeh dibandingkan dengan Kristus? Atau, apabila dunia memusuhi kita dengan memberikan salib, kerugian, penderitaan, ejekan, dapatkah kita mengatasinya dengan menyingkirkan semua ketakutan lahiriah kita dan dengan kesabaran, memandang kesesakan dan penderitaan demi Kristus sebagai kehormatan dan kebahagiaan kita?

Allah yang membedah orang percaya dari keinginan duniawi mereka, akan mengutus dan menempatkan mereka kembali dalam dunia yang berdosa. Tetapi Dia tidak membiarkan mereka dikuasai oleh dunia supaya mereka tidak menjadi serupa dengan dunia. Menjalani hidup yang tidak terpengaruh dengan semua kenikmatan, merupakan anugerah kemurahan. Kemampuan untuk melihat kebesaran hanya di dalam Allah, dan keindahan hanya di dalam kekudusan, oh ini juga adalah kemurahan luar biasa! Janganlah mengejar kenyamanan dunia ini tetapi bedahlah hidup kita dari semua itu. Pdt. Netsen

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top