Tokoh

Phillipp Melanchthon (1497-1560)

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 10 October 2017 - 16:56 | Dilihat : 2630
Tags : Melanchthon Phillipp

Refleksi Mengenai Tubuh Kristus

Hidup, Pelayanan, dan Gerakan Reformasi

Phillippp Schwartzerdt yang juga dikenal dengan Melanchthon lahir di Bretten, keluraganya adalah pembuat baju zirah. Pada tahun 1511 Melanchthon mendapat gelar sarjana di Universitas Heidelberg. Setelah menyelesaikan sarjana, ia ingin melanjutkan kuliahnya untuk mengambil gelar Master of Arts di sekolah yang sama, namun karena usianya masih terlalu muda maka ia ditolak oleh pihak sekolah. Tetapi Melachthon tetap ingin melanjutkan kuliahnya, sehingga ia pindah ke Tübingen dan tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1514, Melachthon mendapat gelar Master of Arts nya.

Melanchthon adalah ganti dari nama belakang Schwartzerdt menggunakan bahasa Yunani karena ia masuk ke dalam tradisi humanisme Kristen dari pamannya, Johannes Reuchlin. Pada tahun 1518 ia mendapatkan gelar Professor of Greek Literature di Wittenberg. Di sini ia berkerabat dengan Desiderius Erasmus dan tokoh yang mencantumkan namanya dalam sejarah Reformasi, Martin Luther.

Pada tahun 1519, ada debat besar pertama antara Luther dan Roma Katolik di Leipzig. Melanchthon pun hadir dalam debat tersebut sebagai penonton dan ternyata Melanchthon mendukung Luther dalam debat tersebut melalui tulisannya, “Defensio contra Johannes Eckium”. Momentum debat tersebut merupakan salah satu titik awal Melachthon bersama dengan Luther.

Perjuangan Reformasi Melanchthon yang sering diidentikkan dengan peran akademis yang melengkapi dobrakan Luther dapat dilihat melalui ringkasan Theologi Reformed sistematis yang pertama, yang mana pendekatannya adalah pendekatan politis. Pendekatan politis tersebut membuat Melanchthon dipercayai oleh Luther untuk menulis pernyataan iman Jerman atas permintaan Kaisar Suci Romawi Charles V. Dokumen terpenting dalam sejarah Reformasi Luther ini berisi 28 artikel pernyataan iman Reformasi yang disebut Augsburg Confession (1530).

Melanchthon bekerja sangat dekat dengan Luther dalam usaha Reformasi hingga ia mengatakan lebih baik mati daripada terpisah dengannya. Luther mengajarkan Melanchthon Theologi Reformasi, sebaliknya humanisme Melanchthon memengaruhi Luther hingga ia menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Namun, kedua tokoh ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Luther adalah orang yang menggebrak, berapi-api, agresif, namun terkadang terlalu gegabah. Melanchthon seorang yang berhati-hati, cinta damai, dan tenang, namun tidak tegas. Karakteristik Melanchthon yang berbalikan dengan Luther ini berbuah dasar-dasar iman Reformasi Luther dalam bentuk yang tertulis dan sistematik. Tetapi saat yang sama, gesekan pun juga terjadi karena cara pendekatan yang berbeda. Hingga ada saat di mana Luther menulis surat yang mengkritik Melanchthon dan kekhawatirannya yang berlebihan.

Relasi antara Luther dan Melanchthon merupakan sepotong kecil mengenai gambaran akan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Konsep tubuh Kristus sangat berkaitan erat dengan konsep panggilan individual setiap anggota. Setiap anggota mempunyai fungsi yang berbeda, namun merupakan satu tubuh (1Kor. 12:12). Satu tubuh memiliki banyak anggota (Rm. 12:4-5). Setiap anggota adalah bagian tubuh Kristus dan merupakan anggota seorang terhadap yang lain. Tidak semua anggota tubuh Kristus mempunyai fungsi yang sama. Namun perlu diperhatikan bahwa setiap anggota sama pentingnya karena tubuh tidak mungkin bekerja jika hanya satu anggota yang berfungsi. Juga bahwa setiap anggota membutuhkan anggota yang lain.

Maka, Alkitab telah menggambarkan hubungan yang begitu indah dan membebaskan dalam pelayanan. Kita tidak dipanggil untuk melakukan semua pelayanan secara sendirian, namun apa yang kurang dari pelayanan seseorang akan dilengkapi oleh anggota yang mempunyai panggilan yang sesuai. Hal ini pun disadari oleh Melanchthon yang pendekatan halusnya dikritik oleh Luther. Ketika dibandingkan dengan Luther ia menjawab, “If I myself do not do my part, I cannot expect anything from God in prayer.”

Dari sini kita bisa mempelajari beberapa hal. Pertama, kita patut mengenal diri, mengerti takaran kita, dan mengetahui panggilan kita (Rm. 12:3). Jika kita melihat diri kita lebih daripada apa yang sesuai, maka kita bisa jatuh di dalam kecongkakan. Sebaliknya, bila kita melihat diri kita lebih rendah daripada yang seharusnya, kita menjadi rendah diri. Dua sisi ekstrem ini bukanlah pikiran yang “begitu rupa” yang dimaksudkan Paulus dalam Surat Roma. Dengan mengenal diri dan panggilan, Tuhan akan menempatkan kita di dalam rencana kekal-Nya untuk kita dari semenjak dunia belum dijadikan.

Kedua, kita perlu mengerti bahwa di dalam tubuh Kristus tidak ada yang lebih rendah dibanding yang lain. Semua anggota tubuh adalah manusia berdosa yang ditebus oleh Kristus. Dan bila ada anggota tubuh yang paling kecil dan lemah itu perlu diangkat (1 Kor.12:22-23). Maka dalam pelayanan kita tidak perlu iri, meremehkan, ataupun “menciut” melihat pelayanan orang lain. Karena, karunia yang dimiliki satu anggota dan lainnya berbeda-beda, namun semua tetap merupakan anggota tubuh Kristus yang diperlukan agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Dalam hal ini, gereja yang dikepalai oleh Kristus memerlukan setiap anggotanya untuk bekerja agar dapat melayani setiap zaman secara efektif.

Di dalam perbedaannya pun Luther dan Melanchthon mengerjakan bagian mereka masing-masing dan dipakai Tuhan dalam mengubah sejarah. Di tengah perbedaan pendekatan, latar belakang, dan cara pandang, mereka tetap saling mengasihi satu sama lain. Mereka sadar bahwa Tuhan tetap bekerja di dalam diri mereka masing-masing. Keindahan hubungan dalam tubuh Kristus di antara mereka terlukis ketika Melanchthon berseru saat kematian Luther, “Dead is the horseman and chariot of Israel who ruled the Church in this last age of the world!”

Kesadaran diri akan bagian dari tubuh Kristus seharusnya membuat diri kita untuk mengisi hari-hari dengan penuh tanggungjawab pada Dia dan melayaninya dengan sunguh, walau ada onak dan duri yang menusuk atau ada gesekkan tajam kadang terjadi, tetapi itu tak berarti membuat diri kita sabagai bagian dari tubuh Kristus berhenti untuk melayani dan berkarya bagi kemulian Yesus Kristus yang adalah Kepala. Amin/Pdt. Netsen

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top