Memuliakan Kejujuran

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 20 October 2017 - 11:57 | Dilihat : 108

Editorial Indonesia, Rabu   11 Oktober 2017, mengangkat topik yang sangat penting untuk kita perhatikan secara serius dan hayati secara mendalam yaitu tentang pentingnya memuliakan kejujuran.  Bagi saya ini tentu hal yang perlu untuk dibahas bukan hanya karena isunya yang actual tetapi sebetulnya sekaligus menjadi saran edukasi bagi masyarakat Indonesia secara umum agar memuliakan kejujuran di tengah-tengah kehidupan bisa tekerjakan.  Sebab kita tahu bahwa saat ini Indonesia diterpa dengan suatu kondisi, betapa desitnya kualitas moral sehingga menjadi barang mahal yang perlu dijunjung tinggi.  Kala kita berbicara keujuran, maka di dalam tatanan kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegera sangat diperlukan. 

Maraknya kasus korupsi yang justru dilakukan oleh elit-elit bangsa ini, yang dipertontonkan di depan mata  tentunya menjadi suatu hal yang sangat memalukan.  Demikian juga dengan dunia pendidikan yang harusnya sebagai tempat menyemai pengetahuan dan sumber pembentukan karakter  agar tiap-tiap generasi menjadi manusia mulia dan bermutu, kini justru menjadi tempat “memproduksi; ketidakbenaran dan kebohongan.” Parahnya adalah terkadang menjadi penebar “kejahatan.” Integritas dan martabat disingkirkan hanya demi keuntungan pribadi saja tanpa memperhitungkan dampak yang lebih besar.  Mungkin karena haus akan prestasi, populeritas dan kenyamaan diri. Harusnya pembangunan kualitas pribadi yang dididik harus dikedepankan dan diutamakan serta dijunjung tinggi, setinggi-tingginya.  Bila ingin melihat generasi ini bersinar gemilang dan berdiri tegak disepanjang masa maka tidak ada jalan lain kecuali kita mengembalikan alat yang dipergunakan untuk memproduksi kemuliaan kejujuran pada posisi yang semestinya tentu harus dibarengi dengan pengawasan dan pantauan secara ketat, terkontrol dan terus-menerus agar tidak luntur dan rusak, tidak boleh ada kata sepakat untuk ketidakjujuran apalagi ada unsur “perselingkuhan” di dalamnya hanya demi memuluskan kepentingan sementara.  Semua elemen bangsa ini harus bersatu padu, mendukung para pendidik, mendukung KPK sebagai  istrumen negara, jangan ada penggembosan dan tidak boleh dianggap remeh atau dipandang enteng dengan sebeleh mata karena ini menyangkut kehidupan orang banyak dan nama baik bangsa.    Kita harus bersikap jelas dan tegas, dimulai dari rumah, anak-anak diajaran nilai-nilai kejujuran, demikian juga dunia pendidikan, harus mengejawantahkannya.  Bila semangat ini memudar atau luntur, maka siap-siaplah suatu hari nanti ini akan panen generasi tanpa nilai hidup. Kemudian pada lembaga-lembaga negara dan lembaga swasta, bahkan termasuk ranah agama sekalipun.  Kalau ingin bersih maka semua area harus ditata, disapu dan diawasi.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka sebetulnya nama baik lebih jauh elegen dan berharga ketimbang dari prestasi yang terpuji dalam dunia ini.  Itu juga yang berpadanan dengan pesan Alkitab, Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” Amsal 22:1.  Nilai suatu kekayaan tentu sangat dicari-cari oleh banyak orang karena kita tahu mana ada orang ingin miskin dan sengsara.  Namun bagi orang bijak segala hal itu adalah urusan nomor dua, karena yang terutama adalah nama baik.  Apalah gunanya kaya raya tetapi penuh dengan tumpukan cacian dan banyak lawan.  Lebih baik sedikit harta tetapi banyak kawan.  Bila nama itu harum maka akan menjadi pembicaraan di sana sini, bahwa orang itu baik tentu semua kuping akan mendengarkan tentang orang itu.  Dari mendengar, kemudian orang tahu tentang kebajikan orang tersebut, lalu menumbuhkan persahabatan dan kasih yang hangat antara orang itu dengan ornag yang lainnya.  Namun memang sulit untuk menemukan orang yang memiliki nama yang harum, ketimbang dari menemukan orang yang memiliki kekayaan yang besar dengan kelakuan yang busuk.  Orang kaya, sangat mudah ditemukan dimana-mana, namun menemukan mereka yang berdiri dalam kejujuran, kehidupan yang benar, hidup dalam integritas, elegan, tetap bersandar pada kekuatan Tuhan ditengah godaan dan kesukaran, itu tidak mudah.  Hanya segelintir orang saja yang berani berdiri memegang prinsip kebenaran Alkitab.  Selebihnya lebih memilih untuk mengikut arus zaman, yang mengiurkan, lumrah dan menguntungkan.  Fenomena yang demikian tidak perlu kita cari jauh-jauh, itu ada di depan mata kita.  Betapa kegelimangan dunia sangat memikat dan membuat banyak orang akhirnya hanyut olehnya.  Mungkin bisa jadi kita adalah salah satu pelakunya. Karena itu, mari kita bangkit dan tersadar betapa bahayanya pusaran arus dimana kita berada.  Kita tidak boleh berdiam saja, apalagi mengikutinya.  Apalagi kita yang mengaku percaya kepada-Nya, mestinya kita bersikap jelas dan tegas dengan hidup seperti ajakan-Nya, “ Sangkal diri, pikul salin dan ikut Dia” Matius 16:24. Hiduplah menjadi terang dan bukan pecundang, sangkal diri dan bukan jual diri.  Pikul salibmu dan ikut Yesus.  Kiranya ini yang menjadi nafas hidup kita, mempraktekan kebenaran di segala area kehidupan. Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin

 

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top