Tokoh

Cyrillus Dari Aleksandria

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:21 | Dilihat : 2086

Melawan Ajaran Sesat Nestorius

Cyrillus menjadi uskup Aleksandria pada tahun 421, menggantikan pamannya Theophilus. Cyrillus tenar terutama karena konfliknya dengan Nestorius, uskup Constantinopel. Oleh sebab pada Konsili Constantinopel tahun 381, Constantinopel dinyatakan sebagai keuskupan kedua sesudah Roma, menggantikan Aleksandria. Maka terjadilah persaingan sengit antara kedua keuskupan tersebut. Cyrillus menentang Nestorius karena perbedaan pendapat yang mendasar mengenai pribadi Yesus Kristus.

Nestorius seorang pengkhotbah populer yang menjadi uskup Constantinopel pada tahun 428. Nestorius keberatan dengan gelar Maria sebagai theotokos atau Bunda Allah. Dalam khotbahkhotbahnya di Konstantinopel, Nestorius menyangkal bahwa Maria theotokos (“melahirkan Allah”). Menurutnya, manusia Yesus yang lahir dari Maria bukan Allah Firman. Penolakan ini berhubungan dengan ajarannya tentang kedua tabiat Kristus yang bunyinya sebagai berikut: Apabila Kristus sungguhsungguh Allah dan sungguhsungguh manusia pula, maka itu adalah suatu “keduaan”, bukan suatu “keesaan”. Sebab itu Nestorius mengajarkan bahwa Yesus seakanakan menjadi sebuah rumah kudus bagi logos Allah.

Ini berarti bahwa ia mengikuti pendekatan “manusiamanusia”, artinya ia melihat Kristus sebagai manusia Yesus yang didiami Allah Firman. Hubungan antara Yesus yang manusia itu dengan Allah Firman seerat mungkin—mereka bersatu dalam tujuan dan kehendak. Namun walaupun Nestorius berusaha mempersatukan mereka, pada akhirnya mereka tetap dua oknum. Karena pandangannya kurang diterima oleh khalayak, maka karyakaryanya hilang. Namun pada tahun 1910 karya Nestorius yang sudah lama hilang, Pasar Heraclies , ditemukan kembali. Dalam karya ini nyata bagaimana Nestorius ingin tetap berpegang pada ortodoksi, tetapi nyata pula bahwa ia tidak berhasil mencapai maksudnya.

Ajaranajaran Nestorius yang sesat ini dilawan oleh Cyrillus dan kawankawan dari golongan Aleksandria. Ia mengajarkan “keesaan dari kedua tabiat Kristus” sambil menetikberatkan tabiat ilahi. Akibatnya kemanusiaan Kristus kurang diperhatikan Cyrillus. Menurut Cyrillus, Anak Allah menyelubungi dirinya dengan tabiat manusia sehingga tabiat manusia itu lenyap bagai setitik air susu dalam samudera.

Mulamula ia menyurati Nestorius dengan sopan tapi tegas, dan mendesaknya agar menerima ajaran theotokos dan berdamai dengan dia. Tapi Nestorius bersikeras, sementara itu Cyrillus sudah mendapat dukungan Roma. Lalu ia menulis surat yang keras kepada Nestorius dan menuntut agar ia menyatakan tunduk dalam sepuluh hari. Cyrillus menyuruh Nestorius menandatangani 12 pernyataan bahwa pandangannya sesat, namun tetap ditolak Nestorius. Dalam Konsili Efesus Nestorius akhirnya dipecat.

Inti pandangan Cyrillius sangat sederhana. Yesus Kristus bukan manusia yang didiami atau atau dipersatukan dengan Allah Firman, melainkan IA adalah Allah Firman yang telah menjadi manusia. Doktrin yang diperjuangkan Cyrillus terhadap Nestroius adalah sematamata doktrin inkarnasi (penjelmaan) Allah Firman, yang diperanakkan secara kekal dari Allah Bapa, dilahirkan dari anak dara Maria sebagai manusia. Itulah sebabnya maka Maria adalah theotokos, karena Yesus yang manusia, yang lahir daripadanya adalah Allah. Kristus bukan gabungan dari Yesus manusia dan Allah Firman, tetapi Firman itu telah menjadi manusia (Yoh 1: 14_). Artinya, Allah Firman telah menyatu pada diriNya, sifatsifat manusia seutuhnya, (termasuk jiwa) dan menjadi manusia. Kesatuan ini membuat Yesus Kristus menjadi satu hypostasis, satu kepribadian. Oleh sebab itu kesatuan antara Firman dan sifatsifat kemanusiaannNya disebut “kesatuan hypostatis”.

Cyrillus juga menggunakan rumusan yang ia kira besasal dari Athanasius, tetapi sebenarnya dari Apollinaris. Ia menegaskan “satusatunya kodrat Allah Firman yang menjadi manusia”. Ternyata ini akan menjadi persoalan kemudian hari ketika ortodoksi dirumuskan sebagai kepercayaan pada dua tabiat atau kodrat Kristus. Namun Cyrillus puas melihat Yesus Kristus sebagai peersatuan “dari dua tabiat” . maksudnya, kodrat manusiawi dan kodrat ilahi berpadu tanpa diceraikan dalam diri Yesus Kristus dan menjadi satu realitas tunggal sama seperti kalau tubuh dan jiwa manusia berpadu menjadi seorang manusia. Lagi pula, “perbedaan tabiat itu tidak ditiadakan dengan penyatuan itu”.

Cyrillus meninggal tahun 444. Di masa hidupnya maupun masa sekarang ia tetap dilihat sebagai pangkal pertikaian. Bagi gereja Mesir dan banyak kalangan ia selalu dimuliakan sebagai Bapa Gereja Ortodoks pembela doktrin inkarnasi.

? Hapete/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top