Tokoh

Gustavo Gutierez, Berjuang Bagi Kaum Papa

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:22 | Dilihat : 486

Tak selamanya apa yang telah dipelajari di bangku sekolah bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari kita. Tak selamanya juga apa yang di dapat dari bangku kuliah sejalan dengan realitas konkret yang ada. Kadangkala situasinya justru berbalik sama sekali. Situasi semacam inilah yang pernah dialami oleh Gustavo Gutierez ,seorang teolog yang berjuang bagi kaum tertindas dan papa. Ketidakccocokan antara teologi barat yang selama ini dia pelajari dengan konteks social yang ada membuatnya menjadi tersadar, bangun dari mimpi bergerak maju untuk mencari kebenaran yang tersembunyi.

Gustavo Gutierez Merino, begitulah nama lengkap dari pria berdarah Mestizo, keturunan campuran Hispanic (spanyol) dan Indian ini. Meski dilahirkan dari keluarga yang miskin harta, bukan berarti membuat keluarganya menjadi miskin cinta. Bahkan dalam suatu wawancara Gutierez pernah berkata bahwa ia menerima begitu besar kasih sayang dari orang tua dan keluarganya.

Tatkala berada di bangku sekolah menengah, nasib buruk pernah menimpa dirinya – ia diserang penyakit Osteomiletis, yang membuat kepincangan permanen pada dirinya – namun pria kelahiran 8 juni 1928 di Monserat ini tetap tabah menjalaninya. Justru penyakit itulah yang mengantarkan Gutierez memilih jurusan farmasi di Universitas San Marcos, Lima, meskipun di kemudian hari dia memutuskan untuk masuk seminari dan belajar filsafat-teologi di Seminari Santiago de Chile.

Di akhir tahun 1951-1955, Gutierez menjalankan tugas belajar pada Universitas Katolik Louvain, Belgia. Yang di akhirinya dengan gelar master dalam bidang filsafat dan psikologi; Dilanjutkan kuliah lagi di Universitas Katolik Lyons, di Perancis, dengan memboyong gelar Master Teologi dengan tesisnya tentang kebebasan religius. Gutierez juga sempat belajar teologi di Universitas Katolik Gregoriana, di Roma. Di Roma pula ia ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 6 Januari 1959. Setelah itu dia kembali ke Amerika latin, membaktikan diri melayani kaum papa di Rimac.

Di Rimac inilah Gutierez hidup dan bersatu dengan penderitaan dan harapan kaum miskin. Di sini pula ia menggumulkan tentang ketidak cocokan antara teologi barat dengan konteks social yang ada di depan matanya. Situasi seperti ini membuat Gutierez lebih serius belajar tentang sejarah bangsanya sendiri. Dan membaca ulang Injil dan teologi dalam konteks Amerika latin. Salah satu tokoh yang berpengaruh besar terhadap Gutierez adalah Bartolome de las Casas – seorang pejuang pembela hak orang-orang Indian Amerika terhadap penjajahan Spanyol. Penjajahan Spanyol mengakibatkan banyaknya korban orang Indian yang dibunuh dan mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Karena itu menurut de las Casas Gereja di Amerika latin hendaknya mereformasi ulang konsep evangelisasi mereka – bukan mengkristenkan orang kafir, akan tetapi melakukan advokasi terhadap kaum tertindas. Satu pandangan lass Casas yang sangat berkesan di hati Gutierez adalah bahwa Kristus berbicara kepada kita dalam diri orang-orang Indian yang miskin. Hal inilah yang menurutnya relevan dengan keadaan jamannya.

Keterlibatan dalam dunia kaum miskin semakin membentuk perspektif-perspektif baru dalam pemikiran-pemikiran Gutierez. Keterlibatan itu menuntut pula pada pembacaan kembali kitab suci – bagaimana firman Tuhan berbicara dalam situasi tersebut. Pikiran-pikiran tentang penemuan kembali pesan dasar kitab suci bahwa kebenaran adalah sesuatu yang harus dilakukan – yang selama ini dikandung, lahir dengan sempurna lewat karya monumentalnya “A Theology Of Liberation” sebuah buku yang menguraikan secara sistematis dan komprehensif refleksi teologi Gutierez. Tema kemiskinan rupanya merupakan tema yang diusung secara konsisten oleh Gutierez. Hal ini nyata dilihat dari “kelahiran-kelahiran” selanjutnya karya-karya yang mengusung tema ini. Kekonsistenan dan kepedulian Gutierez tentang kaum papa tidak hanya ditunjukkannya lewat karya-karya tulis semata, namun juga diperjuangkannya dalam tindakan nyata. Salah satunya adalah perjuangannya memperjuangkan kaum papa lewat jalur konfrensi-konfrensi para uskup amerika latin (CELAM).

Siapa saja boleh tidak setuju dengan pandangan dan teologi Gutierez – tapi satu hal yang harus di lihat darinya. Siapa yang dapat menyangkali keseriusannya memperjuangkan hak orang miskin – yang nyata dibuktikan tidak hanya dalam dunia teoritis lewat teologinya, tapi juga dalam tataran praksis yang diwujudnyatakan dalam pelayanan pastoralnya.SLAMET WIYONO/dbs (Mahasiswa Fakultas Theologi – Institute Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top