Tokoh

Clemens Dari Aleksandria

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:22 | Dilihat : 1450

Menuju KEBENARAN Dengan Filsafat

Membedakan antara yang rohani dan duniawi seringkali dilakukan oleh segelintir orang yang mengaku diri memiliki tingkatan spiritualitas yang lebih tinggi. Hal-hal yang berhubungan dengan kitab suci, ritual keagamaan, dan bacaan-baacaan penunjang spiritualitas, seringkali dipandang sebagi hal bersifat rohani – karena itu sikap kritis perlu dijauhkan dalam menyikapinya. Sebaliknya, segala sesutau, diluar apa yang dianggap rohani, dipandang sebagai yang bersifat duniawi, sekuler (profan) – karena itu, perlu mengambil jarak agar tak terjerumus dan mendewakannya .

Berbeda dengan Titus Flavius Clemens. Pria berdarah Yunani yang lahir pada pertengahan abad ke-2 ini, justru berusaha menunjukkan bahwa apa yang dianggap banyak orang sebagai bagian dari kekafiran (filsafat) pada waktu itu, justru didalamnya tersimpan pletikan “hikmat Allah” yang menghantarkan orang kepada Yesus Kristus, KEBENARAN yang sejati itu. Bagaimana Clemens merumuskannya?

Pada abad ke-2, di daerah Mesir terdapat dua ajaran yang saling bertolak belakang yakni, ajaran Gnostik yang bersumber dari filsafat Yunani dan Kristen Ortodoks yang notabene justru berlawanan. Pada waktu itu jemaat berusaha melawan ajaran Gnostik, yang memandang pengetahuan (Gnosis) sebagai hal yang utama dan jalan satu-satunya menuju kepada KEBENARAN itu, justru dengan hidup biasa-biasa, tak ingin terlalu dikenal dan cukup hidup beriman saja, sambil mencoba menjauh dari perdebatan-perdebatan filosofis yang dapat menyesatkan mereka.

Pada masa itu, tersebutlah dua nama, yang mencoba mencari jalan tengah agar orang kristen tak dipandang hanya beriman buta saja – mengimani segala sesuatu tanpa mengerti apa yang dia imani – yakni: Titus Flavius Clemens dan Pentaenus – gurunya yang ke-6 dan terakhir – setelah perjalanan panjang pencarian ilmunya dari berbagai guru yang berbeda.

Clemens dan gurunya berusaha menyampaikan suatu corak ortodokasi baru, yang secara intelektual dapat bertahan terus. Mereka berikhtiar menunjukkan, bahwa orang dapat saja menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan filsafat dan intelek tanpa harus menjadi murtad. Ada tiga karya penting yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kekristenan waktu itu:

  1. “Nasihat kepada orang Yunani” suatu apologia yang mirip dengan pola para apologet abad ke-2 seperti Justinus.
  2. “Pendidik” karya tentang pelajaran bagi mereka yang baru masuk Kristen. Yang di dalamnya berisi tentang anjuran untuk hidup bersahaja, suatu jalan tengah antara hidup mewah dan hidup asketik yang penuh dengan penyangkalan diri.
  3. “serba-serbi (stromateis)” karanya yang berisi tentang “sayur lodeh” (kumpulan) ajaran kerohanian.

Dalam karya yang terakhir ini, Clemens mencoba memperkenalkan bentuk baru dari “evolusi” iman. Berbeda dengan Tertulianus yang menganggap iman adalah satu-satunya yang diperlukan, Bagi Clemens, Iman merupakan fase awal dan dasar bagi pembangunan pengetahuan. Clemens memperkenalkan manusia Kristen “Gnostik” ideal, manusia rohani yang telah berkembang melampaui iman ke pengetahuan. Tidak hanya pengetahuan akademis, tapi juga pengetahuan dalam bentuk persepsi spiritual yang memerlukan kemurnian etis yang bertujuan merenungkan Allah.

Sama seperti Justinus, pria pengembara, yang doyan belajar dan berguru ini, juga melihat kebenaran dalam filsafat Yunani. Baginya, filsafat mempersiapkan orang Yunani bagi Yesus Kristus - sama seperti Perjanjian Lama menyiapkan orang Yahudi.

“sebelum kedatangan Tuhan, orang Yunanai memerlukan filsafat untuk kebajikan. Dan kini ia membawa kepada kesalehan. Filsafat merupakan semacam latihan persiapan bagi mereka yang mendapatkan iman melalui pembuktian......Mungkin juga filsafat Yunani diberikan kepada orang Yunani secara langsung sampai pada saat Tuhan memanggil mereka. Sebab filsafat adalah guru yang membawa pikiran orang Yunani kepada Kristus, sama seperti Taurat (PL) membawa pikiran orang Yahudi. Jadi Filsafat merupakan persiapan bagi mereka yang dibawa ke kesempurnaan dalam Kristus”. (serba-serbi 1:5)

Akhirnya, segala kebenaran adalah kebenaran Allah sendiri. Sebab segala hikmat dan kebenaran bersumber dari Dia – Tuhan Allah kita. Dia-lah yang memberikan manusia potensi untuk berpikir dan menganalisa sesuatu. Dia-lah yang memberikan manusia akal hingga mampu menalar segala sesuatu. Biarlah pengetahuan dan akal yang diberikan Allah kepada manusia dapat dipakai sebagaimana mestinya – melayani dan menghantar manusia pada KEBENARAN yang sesungguhnya. Slamet Wiyono /Dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top