Tokoh

Ignatius Dari Loyola

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:24 | Dilihat : 822

Tak selamanya kesusahan itu jadi halangan dalam melayani Tuhan. Kadang kala kesusahan justru dapat menjadi pintu untuk masuk dalam pelayanan Tuhan. Dengan adanya kesusahan orang akan dipaksa untuk sadar bahwa dirinya ternyata bukan apa-apa. Dengan adanya kesusahan orang diingatkan bahwa kemampuan yang ia miliki ternyata sangat terbatas, karena itu butuh orang, sesuatu atau “kekuatan” lain yang dapat memampukan atau minimal menutupi ketidak mampuannya. Mirip seperti inilah nasib dari Inigo lopez atau yang lebih dikenal dengan Ignatius dari Loyola, seorang mantan tentara kelahiran loyola, spanyol, di awal tahun-1490-an ini. Karena cacat fisik yang diderita akibat peluru meriam yang meledak tepat didekat kakinya, Ignatius tak dapat lagi menjadi tentara. Namun demikian, justru dalam kelemahannyalah Tuhan berkenan memakai Ignatius untuk menjadi pelayan-Nya.

Respon awal menuju panggilan Tuhan, Ignatius ekspresikan lewat pertobatan, yang didahului oleh pengakuan dosa dan kemudian dilanjutkan dengan menjalankan suatu bentuk kedisiplinan rohani dengan hidup sengsara selama satu tahun di Montserrat dekat Barcelona. Disanalah Ignatius digembleng oleh waktu dan keaadaan dalam intervensi Allah. Disana pula dia memperoleh suatu pengalaman spiritual yang sangat mendalam, yang kemudian dia bagikan kepada seluruh umat kedalam sebuah buku, yang bertajuk Latihan-latihan Rohani.

Pada tahun 1534 Ignatius mendirikan Serikat Yesus (Yesuit). Ia bersama enam rekannya mengangkat sumpah untuk rela hidup dalam kemiskinan dan berselibat. Kemudian, pada tahun 1537 penggagas Ordo Yesuit ini pergi ke Roma untuk menawarkan diri bekerja bagi Paus. Dan sungguh suatu berita yang menggembirakan di tahun 1540, Serikat Yesus disetujui oleh Paus Paulus III, yang selanjutnya mengangkat Ignatius pertama dalam organisasi tersebut.

Oleh karena pengejawantahan visi dan Misi dari Ignatius dan rekan-rekan yang tergabung dalam Serikat Yesus inilah banyak orang diseluruh penjuru dunia dapat mendengar berita gembuira dari Yesus. Dalam menjalankan misinya para Yesuit mempunyai tiga tujuan utama dalam hubungannya dengan pembaharuan: 1) membaharui gereja dari dalam; 2) memerang penyesatan; 3) dan membawa Injil pada dunia kafir.

Tak hanya dalam ranah praksis saja Ignatius berjuang. Putra salah satu bangsawan loyola ini juga berjuang dalam karya yang disuguhkannya. Seperti telah disinggung diatas, buku “latihan-latihan Rohani” adalah salah satu buktinya. Berbeda dengan karya-karya lain dijamannya, tulisan dari Ignatius masa itu dipandang sebagai tulisan yang sangat hebat. Sebab tak hanya menulis dengan hanya menggunakan retorika dan olah nalar semata, tapi juga dibarengi dengan olah “jiwa” dalam artian Ignatius juga benar-benar mendalaminya dalam pengalaman empiris. Meskipun usahanya ini sebenarnya dimaksudkan untuk mempersiapkan sebuah “buku manual” untuk membimbing murid-muridnya menuju pertobatan, namun sasarannya ternyata melebar dan banyak orang mendapat berkah dari apa yang ditulis Ignatius.

Selain itu, anjuran untuk mencari tahu bagaimana maksud Allah dalam hidup seseorang dan bagaimana Allah memimpin dia kepada pelayanan kepada Kristus secara ideal sebagai Yesuit juga kental mewarnai buku tersebut. Karena itu tak heran jikalau pengikutnya (Yesuit) sejak semula merupakan pekabar-pekabar Injil yang militan dan berdedikasi tinggi. Bahkan diantaranya banyak yang rela mati syahid sebagai martir bagi tersebarnya Injil Kristus keseluruh dunia.

Mungkin Ignatius dari Loyola telah lama wafat. Namun karya pelayanannya masih tetap dikenang, bahkan ditiru oleh penerus-penerusnya. Mungkin juga jiwa Ignatius tak dapat ber-reinkarnasi dijaman ini atau nanti. Tapi spirit dari Ignatius akan tetap menyala dan terus menyala bagi generasi kini dan nanti. Mungkinkah? Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top