Tokoh

Teresa Dari Avila

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:24 | Dilihat : 372

Menapaki Tangga Spiritualitas

Ada berbagai macam cara Allah menuntun hamba yang dipilih-Nya agar kembali, datang dan bersujud dihadapan-Nya. Mulai dengan mendengarkan pujian, membaca Alkitab, lewat penyakit, kecelakaan atau peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, sampai mengalami pengalaman spiritual dengan merenung tatkala melihat patung Yesus Kristus yang dicambuk, seperti apa yang Teresa dari Avila alami.

Sebelum mengalami peristiwa tersebut, Teresa, perempuan kelahiran Avila yang diperkirakan sekitar tahun 1515 ini mengaku, kehidupan rohaninya sangatlah sulit bertumbuh. Sampai pada suatu saat dia mengalami petobatan yang sangat mendalam tatkala memandang patung Yesus yang dicambuk di tahun 1554. Pengalaman ini membuat Teresa semakin percaya kepada Allah. Menurutnya: “dengan memikirkan pengorbanan dan kasih Allah kepadaku, kembali aku mendapat kekuatan, sebab aku tidak pernah kehilangan kepercayaan akan kemurahan-Nya”

Setelah pertobatan yang begitu mendalam, kehidupan rohani Teresa semakin mantap saja. Namun ada satu hal yang memmbuat Teresa kurang sejahtera, yakni anggapan bapa-bapa gereja yang mengira bahwa pengalamannya yang luar biasa itu datangnya dari iblis dan bukan dari Allah. Hal inilah yang menyakitkan hati Teresa. Meski demikian satu hal yang menghibur hatinya adalah, salah satu bapa meminta Teresa menuliskan pengalaman-pengalaman batinnya agar dapat dipublikasikan. Dengan rasa haru dan bangga, Teresa bersemangat sekali menyelesaikan tulisannnya tersebut yang kemudian dia persembahkan dengan judul Riwayat Hidup. Selain Riwayat Hidup Teresa juga menelorkan beberapa karya besar lainnya seperti “Jalan Menuju Kesempurnaan” yang pokok bahasannya adalah tentang doa; dan juga “Benteng Batin” merupakan karya yang ketiga dari Teresa, sekaligus merupakan karya unggul yang keluar dari “rahim” pikirnya.

Dalam karyanya yang ketiga, perempuan yang memiliki nama lengkap Teresa de Cepeda y Ahumada ini, mengupas secara lengkap dan sistematis pokok bahasan tentang spiritualitas, khususnya tentang doa. Mengenai judul “benteng Batin” sendiri, kata “benteng” Teresa maksudkan sebagai sebuah gambaran dari jiwa manusia yang di dalamnya terdapat tujuh tempat kediaman. Allah sendiri menempati tempat ketujuh, yang paling dalam. Penjelasan tentang benteng diatas Teresa maksudkan sebagai pendorong bagi umat agar memiliki kehidupan doa yang terus maju (progres), dengan melalui tujuh tempat kediaman, guna mencapai tempat ke tujuh, tempat dimana Allah “berada”.

Teresa bukanlah tipe orang yang puas hanya dengan memiliki kehidupan rohani yang mantap. Dalam lingkungan sosial pun Teresa juga meunjukkan sikap positif yang layak dijadikan teladan. Teresa nyatanya bukanlah tipe wanita yang suka merenung saja. Dalam komunitasnya, Teresa juga berjuang untuk mengubah ordonya. Pada waktu itu para Karmelit (salah satu ordo katolik) sudah mulai mengendurkan kekerasan disiplinnya. Keadaan seperti ini membuat Teresa semakin cemas saja. Dan kecemasan itu Teresa responi dengan keinginannya membangun balai Santo Yusuf di Avila, dimana peraturan asli tahun 1209 dalam ordonya dapat dipakai kembali. Setelah melalui berbagai halangan dan rintangan, akhirnya di tahun 1562 balai santo yusuf pun dapat didirikan, yang kemudian terus berkembang hingga ke daerah-daerah yang lain.

“Mari kita berupaya untuk lebih berkembang dalam pengetahuan akan diri kita sendiri. Pada hematku kita tidak pernah akan mengenali diri kita sendiri kalau kita tidak berusaha mengenal Allah. Dengan memandang kemulian-Nya kita merasakan kekejian kita; dengan memandang kemurnian-Nya kita akan melihat kecemaran kita; dengan memikirkan kerendahan hati-Nya, kita akan melihat betapa jauh kita berada dari kerendahan hati” (Benteng Batin 1:2:9). Slamet W/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top