Tokoh

Eusebius

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:26 | Dilihat : 2796

Menulis Perjalanan Sejarah Gereja

EUSEBIUS dilahirkan di Palestina awal tahun 260-an. Ia belajar dan bekerja sama dengan Pamphilus, yang bertanggung jawab atas perpustakaan Origenes di Kaisarea dan mati syahid pada 309/310. Sebagai rasa terimakasihnya, Eusebius mengambil nama Pamphilus dan menyebut dirinya Eusebius Pamphilus, seolah-olah ia anak atau budaknya. Seperti Pamphilus, Eusebius sangat mengagumi Origenes dan ber-sama-sama mereka menulis pembebasan bagi Origenes. Euse-bius seorang sarjana, tetapi pada tahun 313/314 ia menjadi uskup Kaisarea.

Eusebius terutama diingat sebagai sejarawan, sebagai bapa sejarah gereja. Ia menulis semacam kronik tentang sejarah dunia dan juga suatu sejarah tentang Para Martir Palestina di jaman penganiayaan Besar (tahun 303-313). Tetapi karyanya yang terbesar adalah Sejarah Gereja yang menelusuri perkembangan gereja dari zaman purba sampai tahun 324, ketika Constantinus menjadi kaisar tunggal dari kekaisaran timur dan Barat.

Karyanya sangat berharga, terutama karena di dalamnya ia memasukkan dokumen-dokumen yang—kecuali karena usahanya—tidak diketahui ge-nerasi kemudian. Menulis sejarah ge-reja purba tanpa Eusebius pernah disamakan dengan dengan menulis se-jarah gereja rasuli tanpa Kisah Para Ra-sul. Eusebius meli-hat tangan Tuhan di dalam perjalanan sejarah gereja—dalam kematian me-reka yang meng-aniaya orang Kris-ten dan dalam ke-menangan umat Kristen.

Esusebius juga menulis Riwayat Hidup Constantinus serta dua karya lain yang kurang penting, juga mengenai Constantinus. Ia berse-mangat sekali dalam dalam me-ngungkapkan kekagumannya terhadap Constantinus. Bagi Eusebius, pertobatan Constantinus dan pembentukan kekaisaran Kristen merupakan hasil yang wajar dan perlu dari iman Kristen. Ia tidak segan-segan menghubungkan agama Kristen dengan kekaisaran. Besar sekali keperca-yaannya terhadap monarkhi dan khusus-nya Constantinus, kai-sar beragama Kristen itu yang sangat di-tinggikannya. Ia me-lihatnya sebagai wakil Allah di bumi. Eusebius kemudian dituduh “membaptis” konsep Timur mengenai raja “ilahi” yang absolut. Kaisar-kaisar Kristen Byzantium Timur gem-bira menerima inter-pretasi mengenai status mereka ini.

Eusebius juga menulis beberapa karya apologetis, alkitabiah dan dogmatis. Sebagai seorang ahli teologi ia tidak begitu tajam dibanding sebagai ahli sejarah. Ia mendukung Arius, orang sesat itu dan untuk sementara dieksko-munikasi pada Konsili Antiokhia pada permulaan tahun 325. Kemudian pada konsili penting di Nicaea tahun itu juga ia diberi kesempatan untuk merehabilitasi diri dengan cara menandatangani Pengakuan Iman Nicaea. Ia pun melakukannya walaupun dengan dengan hati yang berat dan tidak terlepas dari tindakannya yang kurang jujur. Takut bahwa berita penanda-tanganannya mendahuluinya, ia menulis surat kepada gerejanya di Kaisarea untuk menjelaskan tindakannya. Dengan lantang ia menyepelekan arti dari pengakuan iman itu sehingga arti sebenarnya menjadi pudar.

Namun kekurangan-kekurangan Eusebius di bidang teologi tidak perlu mengurangi keberhasilannya sebagai sejarawan. Buah tangan-nya, Sejarah Gereja penulisannya belum terlalu baik, tetapi ia menjadi dasar bagi penulis-penulis sejarah gereja purba di kemudian hari.

Pada abad berikutnya Sokrates, Sozomenus dan Theodoretus menulis sambungan untuk “Sejarah”, karya Eusebius. Euse-bius, yang dikemudian hari sering juga dijuluki sebagai “bapa sejarah gereja”, meninggal di Kaisarea antara tahun 339 atau 340.

? Hans / dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top