Tokoh

Paul Tillich

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:26 | Dilihat : 4522

“Allah itu bukanlah suatu ke-adaan dalam artian yang mungkin ada atau tak ada - tetapi Allah adalah Ke-ada-an itu sendiri. Allah tidak eksis (ada). Ia adalah yang ada itu sendiri di luar esensi dan eksistensi. Karena itu berdebat dan mengatakan bahwa Allah itu eksis berarti menyangkal Dia." Bagi kita yang awam, bukan soal yang gampang mengerti apa maksud dari tulisan diatas. Berbeda dengan mereka yang telah mengenyam bangku sekolah filsafat, teologi atau yang banyak membaca buku-buku berbau teologi – sedikit banyak akan mengerti tentang yang dimaksudkan. Begitulah kalau seorang teolog atau lebih tepatnya seorang filsuf sedang “menyabdakan”, menyodorkan sebuah teori ke khalayak ramai. Siapakah teolog kenamaan itu? Dia adalah Paul Tillich – teolog yang banyak bergumul dengan persoalan kontekstualisasi teologi, dan selalu mendorong setiap teolog agar mencetuskan sebauh teologi yang “berpusat” pada konteks kekinian.

Pria kelahiran 1886 di propinsi Barandenburg (sekarang jerman timur) ini adalah seorang teolog produktif. Banyak sekali karya yang dilahirkan dari rahim nalarnya, secara khusus tentang persoalan filsafat dan teologi. Untuk menjadi produktif seperti itu, tentunya bukan persoalan mudah. Berbagai buku, khususnya buku filsafat ia lahap setiap harinya. Seperti orang pada umumnya, jenjang sekolah yang panjang pun ia lalui, meski berat. Tillich adalah seorang pembelajar yang bersemangat. Sejumlah universitas di Jerman, diantaranya, di Berlin, Tübingen, Halle, dan Breslau pun ia jajaki, sampai akhirnya gelar doktor pun berhasil ia raih di tahun 1912.

Pada tahun yang sama, Tillich juga ditahbiskan sebagai pendeta di Gereja Lutheran, lalu beralih karier menjadi seorang profesor, dan mengajar sejumlah universitas di seluruh Jerman selama dua puluh tahun kemudian. Tillich mengajar teologi di universitas Berlin, Marburg, Dresden, dan Leipzig, dan filsafat di Frankfurt. Namun sangat disayangkan, perlawanannya terhadap rezim Nazi ditahun 1933 menyebabkan ia dipecat dan kehilangan pekerjaannya itu.

Namun demikian, dia tetap bersyukur, sampai Tuhan menunjukkan jalan lain baginya untuk melayani. Dengan berbekal undangan dari Reinhold Niebuhr untuk mengajar – Tillich hijrah ke Amerika Serikat dan membaktikan hidupnya bagi teologi dan filsafat dengan mengajar di Seminari Teologi Union di Amerika Serikat. Di Seminari inilah Tillich mendapatkan reputasinya setelah menerbitkan serangkaian buku yang menguraikan sintesisnya yang khusus tentang teologi Kristen Protestan dengan filsafat eksistensialis dan menghasilkan tiga jilid bukunya yang komprehensif, yaitu Systematic Theology (Teologi Sistematika). Sebuah buku terbitan 1952 yang menguraikan pandangan-pandangannya tentang eksistensialisme, The Courage to Be, (Keberanian untuk Mengada) ternyata populer bahkan di luar kalangan filsafat dan keagamaan, yang membuatnya terkenal dan berpengaruh. Dua buku terakhir merupakan warisan Tillich dalam dunia teologi yang teramat besar. Meski dia sudah lama mangkat, namun sampai kini masih banyak orang yang mereferensikan doktrin yang di retasnya itu.

Satu lagi yang perlu dipuji dan diteladani dari Tillich adalah, usahanya menghubungkan kebudayaan dan iman dengan begitu rupa sehingga "iman tidak perlu ditolak oleh kebudayaan kontemporer dan kebudayaan tidak perlu ditolak oleh iman". Akibatnya, orientasi Tillich sangat apologetik, karena ia berusaha memberikan jawaban-jawaban teologis yang konkret sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini bukanlah satu hal yang mudah. Sebab banyak orang membedakan kedua hal ini secara radikal. Selain itu Tillich juga menganjurkan agar para teolog dan para pelayan Tuhan tak terjebak, dengan hanya sekadar menyukai debat, berteori dan hal-hal yang bersifat konseptual semata. Tapi perlu memikirkan bagaimana korelasi antara kebenaran kekal – kebenaran yang ditujukan bagi konteks tertentu first-reader, kepada konteks yang baru, yakni konteks kekinian – seperti penggalan tulisannya dalam (teologi Sistematis 1:3). Dengan itu Tillich sepertinya berharap agar setiap berita kebenaran dan teologi yang muncul hendaknya selaras antara maksud dari berita itu dalam konteks terdahulu – dengan konteks kekinian. Sehingga teologi atau berita kebenaran yang diwartakan selalu relevan, kontekstual dan fungsional. Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top