Tokoh

Polikarpus (69 - 156)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:27 | Dilihat : 8487

"Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pemah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, Juru Selamatku?"

Menjadi pengikut Kristus adalah satu anugrah yang terbesar dalam hidup orang yang dipilih-Nya. Sebab mempercayai Kristus bukanlah satu hal yang kebetulan, atau karena usaha manusia sendiri yang mencoba mencari-cari. Namun, hanya karena Kristuslah yang membuka diri lewat anugrah iman yang diberikan-Nya secara khusus kepada umat yang dikasihi-Nya maka orang pilihan itu dapat mengenal Dia. Lebih dari pada itu, alangkah teramat bahagianya jika seseorang memperoleh kekuatan khusus untuk mampu bertahan dalam kesetian dapat membela imannya, bahkan rela mati demi iman yang diyakininya itu. dan salah satu orangnya adalah polikarpus.

Pria kelahiran smirna sekitar tahun 69 ini lebih dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang teguh namun hidupnya sangat sederhana. Murid Rasul Yohanes yang juga menjabat sebagai uskup di simirna ini sangat keras dalam melwan berbagai ajaran yang menyimpang dari ajaran kekristenan. Hal ini dia buktikan dengan perjuangannya dalam membela ajaran gereja yang ortodoks serta melakukan perlawanan terhadap ajaran-ajaran sesat, secara khusus ajaran Marcion yang hidup saat itu. Sikap kerasnya terhadap aliran-aliran sesat nampak dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, antara lain berbunyi sebagai berikut, "Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, ia adalah anti-Kristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, ia adalah jahat dan ia yang berpegang kepada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri; dan berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, ia adalah anak sulung iblis"( Marcion pernah disebutnya sebagai anak sulung iblis). Radikalnya lagi, Policarpus sendiri melarang jemaatnya untuk memberi salam kepada para penyesat.

Tak cukup berhenti disitu, kesetiaan serta militansinya sebagai seorang pengikut Kristus dan pelayan yang patuh terhadap tuannya dia buktikan kembali pada saat kematian sudah didepan matanya. Peristiwa ini terjadi pada saat Polikarpus ditangkap dan digiring ke Roma oleh Kaisar. Di kota Roma, Policarpus perintahkan menyangkal Kristus serta mengutuk Kristus – oleh Kaisar – namun hal ini tentunya tak dapat dilakukannya. Sampai tiga kali Kaisar bertanya kepadanya apakah ia mau mengutuk Kristus agar sang dia dilepaskan dari hukuman mati. Namun, dengan iman yang tegas dan teguh kepada Kristus, Polikarpus menjawab Kaisar dengan perkataan sebagai berikut, "Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pernah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, Juru Selamatku?" ini adalah ucapan seorang martir yang sangat menguatkan iman. Tak sekadar kekuatan diri yang ditunjukkannya, tapi kekuatan dari dalam, yaitu kekuatan yang bersumber dari Kristus sesembahannyalah yang memampukan Policarpus mengatakan itu. Selanjutnya tubuh pengikut setia Kristus ini pun dibakar hidup-hidup, lalu sisa-sisa tubuhnya dibawa orang dan dikuburkan di Smirna.

Terdapat banyak dongeng yang diceritakan tentang mati syahidnya Polikarpus. Cerita tentang mati syahidnya ditulis oleh jemaat Smirna atas permintaan jemaat Philomenium di Phyrigia. Kemudian tulisan ini beredar dalam jemaat jemaat di Asia Kecil. Polikarpus mati syahid pada masa pemerintahan Kaisar Antonius Pius, tahun 155/156. Namun, ada juga dugaan bahwa ia mati syahid pada masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius, tahun 167.

Adalah suatu “kebanggan” jikalau seseorang dapat berkorban bagi sesembahannya, namun yang lebih bahagia lagi adalah seorang yang diberikan anugrah untuk boleh menjadi martir bagi Kristus. Karena itu, benarlah kata paulus bahwa, hidupku untuk Kristus, dan mati adalah suatu keberuntungan. SW?dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top