Tokoh

Peter Forsyth

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:27 | Dilihat : 1600

Kristus: Antara Manusia lemah dan kemahakuasaan Allah

Doktrin kristen dari masa ke masa terus menerus mengalami perubahan. Dinamis dan bukanya statis, mandeg dan terlampau konvensional. Begitu pula dengan doktrin inkarnasi Yesus dan keberadaan-Nya sebagai manusia telah “membatasi diri” – dalam artian bagaimana Dia mengurangi atau bahkan menanggalkan sifat-sifat ke-Allahan-Nya, demi menjalankan satu tugas suci – menyelamatkan manusia.

Bicara tentang doktrin inkarnasi Yesus, ada satu teolog yang sangat mendalam mempelajarinya. Dia lah Peter Forsyth, seorang gembala jemaat yang sangat concern dengan persoalan teologi. Dalam berteologi, pria kelahiran Aberden pada tahun 1848, berpegangan penuh pada Alkitab. Bagi Peter, kewibawaan teologi kristen terletak pada berita Injil yang dicatat dalam Alkitab, dan bukanya pada Alkitab sebagai kitab.

Sebagai bekal bagi diri dan kemampuannya untuk mengolah satu teologi yang mantap, dan tentunya juga alkitabiah, maka jenjang studi yang begitu lama pun dia lalui. Dalam banyak literatur Peter dicatat pernah belajar kesusteraan klasik pada universitas Aberden. Setelah itu dia pergi ke Gottingen untuk belajar pada Ritschl. Lalu dia juga pernah mengenyam pendidikan di Hackney college. Kemudian menjadi gembala di lima jemaat yang berbeda.

Peter Forsyth menjadi terkenal karena tafsirannya tentang inkarnasi Yesus Kristus. Pada saat itu, (abad ke 19) ada pendapat umum bahwa doktrin tradisional tentang inkarnasi tidak cukup menonjolkan kemanusiaan Yesus. Konsili Chalcedon pun menyatakan bahwa kemanusiaan Yesus adalah sempurna, tetapi ajaran itu kemudian ditutupi oleh penekanan atas keallahan Yesus. Disana dinyatakan bahwa Yesus kristus mengalami kelemahan manusiawi dan pada saat yang sama sepertinya kemahakuasaan sebagai Allah, seolah merupakan kontradiksi dari keadaan Yesus sebagai manusia dngan “kelemahannya”.

Berbeda dengan itu, Peter justru menunjukkan bahwa “kelemahan” Yesus yang tercaat dalam Alkitab ( kelelahan, ketidaktahuan-Nya dll) mengarahkan kita pada pilihan: entah Dia menyembunyikan kealahan-Nya, atau Ia mengosongkan diri (kenosis). Menurut Peter, jawaban pertama sepertinya sulit diterima, jikalau dilihat dari segi moral, karena dengan demikian inkarnasi dikurangi maknanya – menjadi penipuan belaka. Sedangkan pilihan yang kedua seperttinya lebih tepat. Dalam inkarnasi, Yesus secara sukarela membatasi diri. Ia mengurangi atau menarik kembali sifat-sifat kealahan-Nya, sehingga menjadi potensial dan aktual, yaitu dapat hadir dan bukan hadir secara nyata. inilah kenosis atau pengosongan diri. Pembatasan diri-Nya dalam inkarnasi adalah pelaksanaan terbesar yang pernah terjadi dari kebebasan moral.

Sumbangsih Peter Forsyth dalam ilmu teologi tak perlu diragukan lagi. Banyak orang, bahkan sampai saat ini memakai uraian tentang kenosis yang dimilikinya, sebagai refrensi dalam ranah teologi. Dengan teologinya, pertanyaan tentang “paradoks” ke Allahan dan kesempurnaan Yesus sebagai manusia telah banyak terjawab. Dengan teologinya, sedikit banyak telah menjawab kecurigaan orang, bahwa Yesus itu bukan Allah. Namun demikian kita juga perlu terus-menerus menggali kembali, mengritisi lalu berdebat dengan “orang mati” (para teolog yang telah lama mati) yang teorinya masih hidup, bisa kita pelajarai dan kita ajak “diskusi”. Slamet Wiyono/db

Lihat juga

Komentar


Group

Top