Tokoh

Boethius

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:28 | Dilihat : 2844

Belajar pada “Orang Mati”

KATA orang, “kalau kamu ingin pintar, sering-seringlah berdialog dengan orang mati”. Yang dimaksud “berdialog dengan orang mati” di sini bukanlah satu bentuk sinkretis atau upaya menyekutukan Tuhan – namun lebih kepada satu penghargaan kepada karya “orang mati” – tokoh, filsuf ataupun teolog yang telah meninggal, namun karyanya masih abadi sampai saat ini. Mengobservasi, menggali, mengkritisi, menginterpretasi dan jika memungkinkan juga turut memberikan jalan tengah atau solusi – inilah yang harus kita lakukan tatkala berdiskusi dengan “orang mati”. Hal seperti ini juga yang telah dilakukan Boenthius, seorang yang mengabdikan dirinya pada dunia filsafat.

Filsuf yang berasal dari keluarga bangsawan Roma ini, sejak kecil sudah terbiasa mandiri dalam segala hal. Sepeninggal ayahnya – Boethius kemudian diasuh dan dibesarkan oleh Symmachus. Didikan yang sangat baik dari keluarga ini, membuat Boethius menjadi semakin terbentuk – baik dari segi mental maupun pemahamannya. Bahkan dia juga mahir sekali dalam bahasa Yunani, satu hal yang sangat jarang di dunia Barat masa itu.

Pria dengan nama lengkap Anicius Manlius Saverinus Boethius ini melihat dirinya sebagai “guru dunia Barat”. Boethius menggali dan menginterpretasi karya Aristoteles maupun Plato, lalu memberikan sedikit konklusi, penjelasan, atau mencoba mengharmonisasi karya dua tokoh besar filsafat itu dalam bahasa Latin. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah demi “mendaratkan” pikiran Plato dan Aristoteles tadi kepada konteks sosial – bangsa Latin yang ada di dunia Barat. Selain itu, mereka juga memiliki tujuan dan keinginan lainnya yaitu, untuk menunjukkan pada dunia bahwa filsafat di antara Aristoteles dan Plato itu harmonis – berdampingan, tak seperti tuduhan banyak orang itu. Ide keharmonisan antara kedua filsafat besar itu didapatnya dari neo-platonisme.

Karya Boenthius nyatanya tak hanya berada dalam area filsafat yang begitu luas. Dalam karyanya yang ketiga sampai kelima ini Boenthius justru mengkhususkan diri menyoroti “teologi”. Dalam buku yang ketiga ini Boenthius kembali berdiskusi dengan “sosok“ perempuan yang dinamakan filsafat, membicarakan kebahagiaan sejati. Mereka (Boenthius dan “filsafat”) sadar bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kebahagiaan yang sejati: selanjutnya dalam bukunya yang keempat, diskusi di antara mereka semakin seru saja. Di buku ini secara khusus dibahas soal takdir. Si filsafat dihadapkan pada keberatan yang diutarakan oleh Boenthius. “Semua nasib, apakah dia baik atau buruk dimaksudkan untuk memberi ganjaran atau menertibkan orang baik dan menghukum atau mengoreksi orang yang jahat. Oleh sebab itu kita setuju bahwa nasib itu adil dan berguna. Jadi semua nasib itu baik (Hiburan 4: 7)”. Menurut filsafat bagaimana mungkin kejahatan terjadi terus-menerus tanpa ada hukuman di dalam dunia yang dikuasai oleh Allah yang baik, mahatahu dan mahakuasa.

Seolah hendak melengkapi bukunya yang keempat, dalam bukunya yang ke-5, Boenthius mengarahkan diri pada penjelasan dan dialog tentang apa itu kehendak bebas. Dalam buku ini, filsafat mencoba menyelaraskan pengetahuan awal Allah dengan kehendak bebas manusia. Pengetahuan Allah “bukanlah semacam pengetahuan awal mengenai masa depan, tetapi pengetahuan awal mengenai masa kini yang tak berkesudahan”. Allah melihat segala sesuatu dalam masa kini yang kekal mengenai segala tindakanku tidak bertolak belakang dengan kehendak bebasku.

Meski ketiga bukunya ini membahas siapa Allah dan bagaimana hubungannya dengan umat yang diciptakan-Nya, namun buru-buru menyimpulkan karyanya ini dalam ranah teologi juga tak bijak. Sebab karya Boenthius memang tak ditujukan sebagai karya teologis meskipun ditinjau dari “objek” secara fisik memang sama, tapi sudut pandangnyalah yang berbeda.

Pengaruh Boethius terhadap abad pertengahan sangat mendalam. Doa yang menjadi penghubung anatar-filsafat klasik dengan pemikiran pada abad-abad mendatang. Hal ini terbukti dari abadinya karya Boethius yang masih dapat ditemui hingga abad ke-13. ? Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top