Tokoh

Petrus Abaelardus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:28 | Dilihat : 668

Iman yang bertanya

Percaya dulu baru mengerti atau mengerti dulu baru percaya? Banyak orang bilang, jikalau kita ingin mengenal kristus secara lebih mendalam, imani saja Yesus, maka sgala kebenaran akan disingkapkan oleh Allah. Bukan satu kebenaran yang relatif, tapi satu kebenaran yang sifatnya mutlak benar dalam tatanan dan kacamata kekristenan. Disisi lain, orang disuguhkan satu pendapat lain, sepertinya ada indikasi untuk meragukan setiap “kebenaran” – dengan jargon “mengerti dulu baru percaya”. Bagi penganut yang kedua ini, segala sesuatu haruslah dipertanyakan. Dalam hal ini, Tuhan pun coba “diragukan” untuk dapat mengenal Dia lebih dalam lagi.

Petrus Abaelardus, pria kelahiran Britania 1970 ini adalah salah satu diantara banyak tokoh dan awam yang coba menanyakan perihal iman dan ilmu (mengerti). jikalau pada masa hidupnya banyak orang, termasuk teolog yang memegang teguh doktrin percaya (beriman) dulu baru mengerti, oleh Abaelardus dibalikkan dengena meperkenalkan metode keraguan. Menurutnya, jalan untuk sampai kepada kebenaran adalah dengan meragukan. Denganb meragukan kita bertanya-tanya, - dengan demikian lalu kita dipaksa mencari jawab.

Pria penggila ilmu ini sangat senang belajar. Sekian guru telah dia kunjungi lalu menimba ilmu dari mereka. Namun demikian, ada satu hal yang sangat ironis, Abaelardus justru menjadikan dirinya sebagai saingan bagi para gurunya. Untuk menyaingi guru-gurunya, Abaelardus kemudian mengadakan kegiatan belajar. Entah kenapa, semua orang yang pernah jadi murid gurunya lebih memilih ikut dia dan menjadikannya sebagai guru.

Di tahun 1122, Abaelardus menulis karya yang sangat penting, Sic et Non (ya dan tidak). dalam esainya ini, Abaelardus mencoba mengetengahkan satu “pengajaran baru” yang bersumber dari berbagai bahan, seperti: Alkitab, tulisan Bapa-bapa gereja purba, dan dari sumber-sumber lain yang kelihatan bertentangan. Dengan metodenya ini, tak sedikitpun Abaelardus hendak mendiskreditkan setiap bahan tadi – dalam bukunya ini Abaelardus justru mencoba membandingkan, untuk dipelajari guna menambah wawasan yang sangat berguna bagi karirnya sebagai seorang teolog.

Metodenya juga dia pakai dalam doktrinj perdamaian. Esainya kli ini merupaka satu apologetic – jawaban dari pernyataan yang berkembang pada masa itu yaitu, iblis mempunyai hak atas umat manusia. pernyataan ini kemudian dijawab oleh Abaelardus dengan mengatakan, hala umat manusia digoda oleh iblis membuat kita berhak mendapatkan pembetulan. Kematian Yesus Kristus bukan ditawarkan kepada setan sebagai tebusan bagi umat manusia. tebusan itu kemudian dibayar kepada Dia yang benar benaer mempunyai hak atas kita – Allah.

Teologi memang terus bergulir dari masa ke masa. Dengan memelajari sejarah kita diajak untuk mengeryti dan lebih mendalami hal-hal apa saja yan g dialami, baik oleh gereja maupun oleh orang yang hidup pada masa itu. dengan demikian, umat juga harus diperlengklai sedemikian rupa agar tak terjatuh dalam lobang hitam menuju satu kehidupan kehampaan.

Metode yang dipakai oleh Abaelardus adalah satu dari sekian banyak teori yang dipakai untuk menyelidiki, baik secara sastra, historis, maupun since, tentunya akan sangat berguna bagi kita dalam mencari kebenaran – dengan tetap memegang prasuposisi sebagai kristen. Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top