Tokoh

Leo Agung

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:32 | Dilihat : 411

Gigih Melawan Ajaran Sesat

BENARLAH apa yang dikatakan banyak orang bahwa teologi itu sifatnya dinamis. Dalam teologi tak pernah ada satu pun yang mutlak. Dari jaman ke jaman, dari waktu ke waktu. Dari tempat yang satu ke tempat yang lain teologi terus saja beradaptasi dengan konteks sekitar. Tak hanya di jaman ini saja, jauh di awal-awal kekristenan – yang terkenal dengan jaman gereja purba pun, teologi sudah banyak berkembang. Dan perkembangan itu juga sangat mengejutkan. Yang membedakannya adalah teologi jaman itu sifatnya sangat dogmatis, dalam artian di jaman itu adalah masa-masa di mana kekristenan membentuk diri, ajaran dan dogma yang akan “dipatenkannya” nanti.

Di jaman inilah isu-isu seperti Kristus adalah Tuhan, tritunggal, kesejatian Yesus dengan dua substansi yang ada dalam diri-Nya, yakni ke-Allah-an dan manusia-Nya. Di jaman ini pula gereja mainstream (tentunya gereja Katolik) dengan begitu ketat membatasi, mengikat bahkan menggunakan cara “kekerasan” untuk melindungi keutuhan dogma. Di jaman Leo Agung, uskup Roma 440-461, juga diparaktikkan cara semacam ini untuk melindungi keutuhan gereja. Dan Eutyches adalah salah seorang “bidat” yang menyesatkan umat dengan ajarannya, yang pernah Leo Agung lawan.

Menyikapi kesesatan

Berbeda dengan uskup sebelumnya yang menggunakan banyak cara kekerasan, Leo Agung menyikapi kesesatan ini dengan membuatkan satu karya yang ditujukan sebagai jawaban, sekaligus melawan ajaran sesat, dalam satu buku yang diberi judul Tomus. Buku ini khusus untuk melawan apa yang diajarkan Eutyches, yakni suatu ajaran yang dituduh telah mengaburkan dua kodrat yang ada dalam diri Yesus yakni kealahan dan kemanusiaan Yesus, kemudian menciptakan satu campuran dari kedua kodrat tadi, sehingga muncullah satu tertium quid “sesuatu yang ketiga” yang bukan Allah dan bukan manusia, tetapi semacam blasteran dari keduanya. Logikanya seperti ilustrasi dua cat yang hendak dicampurkan, misal cat kuning dan cat biru dicampur dalam komposisi yang sama, maka hasilnya akan menjadi warna hijau. Hijau adalah warna baru yang bukan kuning dan juga bukan biru.

Sebagai seorang uskup Leo Agung sangatlah bijak dan sangat luar biasa. Leo seringkali berpikir dua sampai tiga kali untuk memutuskan sesuatu. Dia sangat ingin menjaga keutuhan gereja dalam damai seperti yang Yesus ajarkan, namun acap kali dia harus berdiri di tengah dilema di mana ia harus memutuskan dan memilih sesuatu yang lebih utama untuk menyelamatkan keutuhan gereja dan ajaran. Sama halnya seperti apa yang dia lakukan dengan Eutyches.

Dengan sangat terpaksa Leo kemudian merehabilitasi Eutyches dan tak memperbolehkannya membaca Tomus, karyanya tentang Kristus itu. Dalam Tomus, Leo menyimpulkan seluruh ajaran barat tentang kristologi hingga jamannya. Menurutnya, dalam hubungannya dengan karya penyelamatan, Yesus haruslah ada dalam dua kodrat tadi. Yesus perlu menjadi baik Allah dan juga manusia – harus lengkap dalam artian bahwa Ia harus seperti kita, tetapi tanpa dosa. Leo juga menandaskan bahwa “masing-masing kodrat itu mempertahankan sifat-sifat-Nya tanpa menafikan yang satu dengan yang lain. Menurutnya, tak boleh ada tertium quid atau “sesuatu yang ketiga”. Allah yang tak dapat menderita tidak akan merasa hina dengan menjadi manusia yang dapat menderita ? Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top