Tokoh

Simeon Dari Asia Kecil 949

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:33 | Dilihat : 490

Menolak Formalisasi Kristen Sebagai Identitas

Teologi memang unik. membincangkannya pun tak akan pernah sampai habis ditelan waktu. Teologi juga tidak statis – penuh dinamika dan akan lues dengan konteksnya. Penikmat teologi pun mengecapnya (teologi) dengan beraneka warna dan rasa. Tak sedikit orang bilang bahwa teologi itu adalah sesuatu yang rumit, sulit dan memusingkan. Tapi teologi juga memiliki sisi yang lain, yakni sisi praksis yang sifatnya mungkin lebih sederhana, lebih membumi, aktual dan selalu baru dalam praktiknya. Kira-kira teologi seperti inilah yang dihidupi oleh Simeon, seorang mistikus dari Asia kecil yang lahir pada tahun 949.

Bagi Simeon, yang terkenal di masanya dengan julukan “orang mistik yang paling menonjol, diantara para mistik dari binzantium – teologi itu haruslah dirasakan, dihidupi, dan dipraktikkan. Teologi itu bukanlah melulu soal doktrin, dogma atau ajaran. Tapi teologi juga menyangkut soal spiritualitas, rasa, hati dan buah kehidupan yang dibalut dengan tindakan iman. Karena itulah tak heran kalau Simeon pernah berkata “babtisan itu tidak ada artinya kalau tidak membuahkan kehidupan suci”. Dengan ini seolah Simeon ingin menunjukkan bahwa beragama itu bukanlah soal religositas yang melulu penuh dengan ritual dan sistem yang mengikat. Simbol kurang penting jika dibanding dengan nilai. Dalam hal ini tentunya babtisan adalah simbol dan buah kehidupan merupakan nilainya. Simbol itu tak lebih dari sekadar representatif, dan nilai itulah intinya. Namuan demikian, dibenak Simeon tak sedikitpun ada niatan hendak menafikan simbol (babtisan).

Di usia 14 tahun, Simeon muda yang juga seorang turunan bangsawan di Asia kecil ini mulai mengenyam pendidikan dengan berguru di Simeon Studies – guru spiritual penting masa itu – lalu kemudian pindah ke biara studion di constantinopel, namun di biara itu dia juga tak lama, kemudian Simeon muda pindah lagi ke biara Santo Mamos, namun tetap menjadi murid Simeon (guru spirirtual) yang juga mengajar ditempat itu.

Setelah digembleng dengan ilmu yang kuat oleh gurunya, Simeon muda telah menjadi pria yang mumpuni, konvensional, tegas, dan kritis, – sama seperti gejolak jiwa anak muda lainnya. Tak jarang Simeon terlibat pertiakaian, lebih tepatnya perdebatan dengan rahib-rahib biaranya sendiri yang menganggap dia terlalu keras. Tak tanggung-tanggung, uskup Stefanus dari Nikomedia, ahli teologi resmi dari istana kaisar pun pernah dilawannya. Sampai akhirnya Konflik ini membuatnya dibuang sejak tahun 1009-1022.

Sebenarnya pertikaian keduanya (stefanus vs Simeon) tak lebih dari sekadar perbedaan pendekatan dan ekspresi nalar-spiritual tentang persoalan teologi. Pendekatan teologi stefanus adalah pendekatan filsafat yang abstrak, layaknya pendekatan teologi skolastik barat. Sedangkan pendekatan yang Simeon miliki adalah pendekatan kebiaraan yang spiritualis. Simeon sangat menekankan perlunya umat mengalami apa yang umat bicarakan. Dalam artian, sudah seharusnya apa yang dikatakan dengan yang dilakukan itu haruslah selaras. Persetubuhan antara teori dan prkasis itu harus dikandung oleh apa yang dinamakan teologi dan spiritualitas.

Pertikaian stefanus ini juga merupakan konflik antra sesuatu yang sifatnya “institusional” dan pendekatan “kharismatik”. Seperti disinggung diatas, tentang ini Simeon sama sekali tak bermaksud untuk melecehkan institusi agama, atau orang-orang yang berada didalamnya, jangankan melecehkan, memandang sakramen yang termasuk dalam sistem sebuah institusi saja dia tak berani. Sebagai seorang spiritualis yang getol membagikan pengalaman “percintaannya” dengan Tuhan, Simeon sangat membenci formalisme – seperti orang yang namanya dan mengaku diri kristen, namun hidupnya tidak berubah.

Dalam ajaran mistiknya, simeon mengikuti tradisi pendahulunya, Dionysius orang Areopagus dan Maximus sang syahid. Simeon melukiskan Allah sebagai terang ilahi yang tak diciptakan dan tak kelihatan. “Allah adalah terang dan mereka yang oleh-Nya dianggap layak, pastilah akan melihat-Nya dalam terang yang menyejukkan itu, yakni orang yang telah menerima-Nya sebagai terang”. Kadangkala bahasa seorang spiritualis memang sedikit sulit dimengerti. Penuh dengan bahasa simbol bak puisi sang pujangga yang perlu mengernyitkan dahi untuk bisa menalarnya. Meski demikian, banyak hal bisa didapat dari seorang spiritualis seperti Simeon ini. Bukan hanya karena konvensionalitas pribadinya, tapi juga karena kontinuitas dan kegigihannya memperjuangkan apa yang dipandangnya sebagai satu kebenaran yang sifatnya final itu. namun amat sangat menyakitkan – gereja yang kala itu dekat dengan penguasa harus memakai tangan besi demi menjaga sentralitas ajaran mainstream – melawan Simeon, dengan melemparkannya ke tempat pembuangan sampai akhir hayatnya. Slamet Wiyono

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top