Tokoh

Robert Boyle (1627-1691)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:33 | Dilihat : 1681

Gabungkan Sains dengan Iman Kristen

BANYAK orang berpikir bahwa seorang ilmuwan, umumnya adalah orang yang jauh dari dunia spiritualitas. Mereka menganggap bahwa ilmuwan lebih cenderung meninggalkan Tuhan dari pada dekat dengan-Nya. Meskipun ada juga saintis yang karena pengetahuannya dan ilmunya telah banyak mengetahui rahasia jagad raya, hingga dapat mengatakan “kurang selangkah lagi aku menjadi Tuhan”, tapi pendapat seperti ini tentunya tidak dapat digeneralisir kepada seluruh ilmuwan. Toh nyatanya masih banyak kok, para ilmuwan yang semakin sadar akan kekerdilan dirinya dibanding dengan Tuhan yang telah menciptakan seluruh jagad raya dengan berbagai macam rahasianya yang kompleks dan njlimet itu.

Salah satunya adalah Robert Boyle. Pria kelahiran Castle, Country Waterford, Irlandia, 25 Januari 1627 ini justru semakin takjub akan kebesaran Tuhan di balik apa yang sudah ia temukan. Bagi ilmuwan muda yang sejak kecil sudah fasih berbahasa Yunani dan Latin ini, karya ilmiah dan segala yang ia temukan tidaklah bertentangan dengan iman Kristen. Justru keduanya sangat berkaitan erat. Bahkan dalam bukunya, The Christian Virtuoso, Boyle mengatakan bahwa mempelajari alam merupakan tugas keagamaan yang penting. Melihat Robert Boyle sebagai seorang ilmuwan dan seorang Kristen yang teguh iman ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran keluarganya yang telah mendidik dia dalam ketaatan beragama. Meskipun keluarga Boyle adalah salah satu keluarga bangsawan Cork yang kaya raya di Britania, namun tidak pernah sekalipun dia membanggakan kekayaannya. Bagi keluarga Boyle yang saleh itu, kekayaan hanyalah titipan yang asalnya dari Tuhan semata.

Salah satu karya yang cukup terkenal dan menjadi rujukan ilmu fisika dan kimia hingga saat ini adalah penemuannya yang diberi nama dengan Hukum Boyle. Hukum ini didasarkan pada penelitiannya tentang gas dan udara. Dalam eksperimen ini Boyle menekan sejumlah gas tertentu sambil memperhatikan suhunya. Dia menunjukkan bahwa ada perbandingan terbalik antara ruang yang berisi gas dan tekanan yang dikeluarkan oleh gas. Misalnya, jika volume tempatnya ditekan hingga separo, tekanan yang dihasilkan oleh gas akan menjadi dua kali lipat. Teori ini, Boyle lanjutkan dengan meneliti partikel lebih lanjut. Dari eksperimennya ini, Boyle menemukan bahwa gas terdiri atas partikel-partikel kecil (korpuskles). Dia juga berpendapat bahwa “kita bisa memahami bahwa pada mulanya Allah menciptakan benda partikel yang terlalu kecil”. Karena itulah Boyle menolak teori empat unsur yang waktu itu sudah diterima secara luas, yang menyatakan bahwa semua zat terdiri atas tanah, udara, api dan air. Sebagai gantinya dia mengajukan teori bahwa zat tersusun atas unsur-unsur yang berbeda, yang hanya dikenali melalui eksperimen. Karya Boyle inilah yang menjadi pendahulu teori unsur kimia modern. Boyle juga ilmuwan pertama yang membedakan zat asam, basa dan netral dengan melihat perubahan warna yang terjadi jika zat-zat tersebut dicampur dengan zat lain.

Tidak hanya menghasilkan karya-karya besar tentang ilmu alam yang dipakai bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang notabene dikonsumsi oleh orang yang berpendidikan, Boyle juga menghasilkan tulisan-tulisan mengenai agama, berupa renungan-renungan, yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk oleh orang awam. Satu hal yang unik dari renungannya adalah, dalam setiap renungannya, Boyle selalu saja menyisipkan gambaannya dan pengamatan sederhananya tentang alam yang dipadu-padankan untuk menjelaskan kebenaran Kristen.

Berkembangnya pemahaman dan pengetahuan seseorang seharusnya tak membatasi dirinya untuk menikmati kebesaran Tuhan. Justru dengan wawasan yang luas dan pengetahuan yang semakin matang, seseorang dapat semakin sadar akan karya besar Allah dibalik misteri jagad raya yang perlahan terus terbuka ini. ? SW

Sumber: Para Ilmuwan Mempercayai Ilahi / YKBK

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top