Tokoh

Johannes Scotus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:33 | Dilihat : 3158

Peselisihan teologi dan filsafat di jaman pertengahan sangatlah menarik untuk disimak. Dijaman inilah pemikiran-pemikiran ekstrim muncul dan berkembang – bukan berarti masa setelah dan sebelumnya tidak ada. Berbagai perdebatan yang kurang sehat, pemikiran-pemikiran yang “melenceng” denga pusparagam yang sulit untuk dihitung mungkin mengindikasikan masa ini dikatakan sebagai abad-abad gelap. Abad di mana pencerahan (renaissance) sebentar lagi muncul. Dan Johannes Scotus Eriugena adalah satu diantaranya yang pernah mendapati bahkan mengalami perdebatan-perdebatan tak sehat dan sempat menengahi perdebatan dua teolog yang paling seru di abad itu.

Johannes Scotus, yang diperkirakan lahir di tahun 810 ini juga seorang teolog besar masa itu. Masa dimana Charles Agung, satu-satunya pemikir tulen dan teolog terbesar di abad-abad gelap eksis. Salah satu pemikiran teologi yang pernah disanggah oleh Johannes Scotus adalah pemikiran augustinisme seorang rahib bernama Gottschalk yang mengajarkan doktrin ekstrim tentang “Allah menakdirkan Kejahatan”. Meskipun ada sejumlah teolog di belakang Gottschalk, namun tak sekalipun membuat pria berdarah Scotus (Irlandia) ini gentar. Dalam karyanya yang berjudul “Predestinasi” habis-habisan dia menelanjangi Gottschalk.

Abad 9

Di abad 9, yang kemunculannya dibarengi dengan merebaknya perselisihan mengenai tubuh dan darah Kristus dalam ekaristi ini pun Johannes Scotus juga pernah melayangkan satu karya yang berjudul “pembagian alam”. Dalam karya ini, pria yang fasih berbahasa Yunani ini – sekadar untuk diketahui waktu itu sedikit sekali orang yang mengerti dengan baik bahasa Yunani – menfsirkan kekristenan dalam kerangka Neo-Platonisme yang radikal. Ia mengjukan pembagian “alam” (yaitu seluruh realitas) dalam 4 bagian: 1) alam kreatif yang diciptakan – yaitu Allah sebagai pencipta; 2) alam yang diciptakan namun toh kreatif – yaitu gagasan-gagsan sorgawi yang menjadi contoh untuk segala ciptaan; 3) alam diciptakan tetapi tidak kreatif – Allah sebagai tujuan atau sebab akhir.

Dalam karyanya itu Johannes memandang alam semesta sebagai emanasi yang berasal dari Allah. ia dengan ketat mempertahankan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, dari ketiadaan. Jika Allah pencipta sesuatu, maka ini harus diartikan bahwa Ia ada dalam segala sesuatu, maksudnya Allah adalah hakikat dari segala sesuatu. Karena itu dalam segala sesuatu hakikatnya terdapat unsur ilahi yang melekat didalamnya. Ini bukanlah bentuk panteisme, atau pengajaran tentang penyerapan total dari manusia atau entitas lainnya kedalam Allah – seperti pemikiran Neo-Platonisme pada umumnya. Untuk penegasan pemikirannya ini Johannes mengutip satu ayat dari Paulus untuk jemaat Korintus bahwa “Allah menjadi semua di dalam semua” (I Korintus 15:28). Pada akhirnya Allah adalah segala sesuatu dalam segala hal dan tidak aka nada kecuali Allah. Meskipun doktrin ini pada akhirnya membuat Johannes juga kesulitan menghindari universalisme, yaitu keyakinan bahwa semua akan diselamatkan sebagai implikasi dari doktrinnya tadi.

Kembali ke perselisihan tentang ekaristi tadi, perselisihan tersebut sepertinya tak jauh dari perselisihan yang sampai kini masih menjadi tanda tanya itu, yakni Apakah roti dan anggur dalam ekaristi benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus, atau hanya kiasan? Apakah tubuh Kristus yang hadir dalam roti itu adalah tubuh yang lahir dari maria dan disalibkan bagi umat-Nya. Dalam “pembagian alam” tadi Johannes Scotus mengungkapkan bagaimana ia lebih suka memberikan penafsiran secara spiritual atas diri Kristus, ketimbang secara fisik. Menurutnya, orang percaya makan dari tubuh kristus “bukan secara dental (dengan gigi), tetapi secara mental”. SLAWI/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top