Tokoh

Karl Rahner

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:34 | Dilihat : 2356

“Kristen Awanama”, Layak Beroleh Kasih Karunia

sudah sekian lama gereja menghidupi pengajaran tentang keselamatan “terbatas”. Yakni pengajaran yang menyatakan bahwa “tidak ada penyelamatan kecuali melalui satu-satunya Gereja Khatolik yang nyata dan terorganisasi. Tidaqk ada penyelamatan melalui gereja-gereja tandingan, selaras dengan Konsili Lateran ke empat. Hal ini dipertegas kembali oleh Paus Bonafitus VIII dalam, “Unam Sanctum” pada tahun 1302.

Tafsiran lama ini perlahan pun tak lagi sekuat dulu, dalam Konsili Vatikan kedua, dengan tegas menolak tafsiran lama ini. “Penyelamatan bukan hanya untuk orang kristen, tetapi untuk semua orang yang berkehendak baik, yang didalam hatinya kasih karunia bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. sebab karena Kristus mati untuk semua orang, dan karena panggilan pokok manusia sebenarnya satu dan ilahi, maka kita harus percaya bahwa roh kudus dengan cara yang hanya dketahui oleh Allah, menawarkan kepada setiap orang kemungkinan untuk berhubungan dengan rahasia Paskah ini” (gereja dalam dunia modern, 1:22)

Pernyataan- pernyataan diataslah yang coba Karl Rahner jelaskan kepada umat. Dengan teorinya tentang “kristen Awanama”, pria kelahiran Freiburg-im-breisgau di tahun 1904 ini menguraikan tentang kehendak Allah agar semua orang diselamatkan. Yang dimaksudkan dengan “kristen Awanama” sendiri adalah, orang yang dikatakan sebagai kafir sesudah misi kristen dimulai, yang hidup dalam kasih karunia kristus melalui iman, pengharapan dan kasih, namun ia tidak mengetahui secara jelas bahwa hidupnya berorientasi kepada Yesus kristus dalam penyelamatan yang diberikan karena kasih karunia.

Gagasan-gagasan tersebut diatas adalah, gagasan-gagasan yang pernah diluncurkan Karl Rahner dalam karyanya-karyanya, diantaranya adalah, Seri Penyelidikan Teologis, lalu Dasar-dasar iman Kristen yang diterbitkan dalam edisi Jerman pada tahun 1976. Pemikiran Rahner, teolog katolik terbesar dijamannya ini sangatlah berpengaruh dewasa ini, khususnya pandangan bahwa seseorang bisa merupakan kristen awanama tanpa suatu ikatan keagamaan.

Guru besar teologi dogmatika di universitas Innsbruck ini seolah sedang memberi pembenaran kepada “kekristenan sekuler”, yaitu penafsiran berita gereja dan misinya mnenurut pengertian yang makin bersifat duniawi. “jikalau inti kemuridan kristen diwujudkan tanpa menampakkan unsur agama secara sadar, maka gereja dibenarkan melepaskan kekhawatiran-kekhawatirannya mengenai agama dan lebih memperhatikan persoalan sosial masa kini, yang penting dan sangat mendesak” inilah yang banyak orang sebut dengan pelayanan kontekstual dan fungsional – sesuai dengan kebutuhan mereka yang terutama.

Karl Rahner memang telah meninggal sejak tahun 1984, namun tak seorang pun memungkiri bahwa gagasan-gagasannya masih tetap hidup dan terus menghidupkan dan menyemangati teolog-teolog dan mereka yang concern dengan pelayanan sosial. meskipun disisi lain tak sedikit orang yang tak setuju dengan pemikirannya. Slamet Wiyono

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top