Tokoh

John Mbiti

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:34 | Dilihat : 991

Menolak Westerenisasi Iman

Melakukan penginjilan adalah satu hal yang wajib hukumnya bagi umat kristen. Selain memenuhi tugas wajib dan pengejawantahan perintah Tuhan – penginjilan juga merupakan sarana untuk mensejahterakan orang dengan pelayanan holistiknya. Namun demikian, bukan berarti tak ada masalah yang siap menghadang – bahkan beribu masalah siap menghalangi dan merintangi. Salah satunya adalah masalah lintas budaya dan lintas kebiasaan antara penginjil dan target injil, yang dapat menyebabkan terciptanya jurang pemisah antara keduanya.

Persoalan ini juga yang pernah diselidiki dan disikapi secara intensif oleh John Mbiti, Seorang Teolog kawakan asal daratan Afrika. Teolog kelahiran Kitui, Kenya Afrika – 1931 ini menolak dengan keras anggapan orang tentang budaya, khususnya pola spiritualitas lokal yang dianggap sebagai penyembahan terhadap setan. Meskipun disatu sisi Mbiti, yang pernah mengenyam pendidikan di universitas Makere, Uganda dan mendapatkan PhD-nya di Uniersitas Cambridge ini, tetap mengakui bahwa ada unsur dosa didalam budaya.

Pikiran-pikiran Mbiti tentang hubungan antara agama dan budaya, secara mendalam ia tuankan dalam karya-karyanya, diantaranya: “Kepercayaan-kepercayaan dan Filsafat Afrika” (1969); Konsep-konsep tentang Allah di Afrika (1970); “Eskatologi Perjanjian Baru dengan Latar Belakang Afrika (1970 – yang sekaligus menjadi bahan tesis PhD-nya di Cambridge) dan juga “Doa-doa Agama Afrika” (1975). Mbiti adalah teolog Afrika yang paling banyak menulis – umunya tulisan-tulisan yang dihasilkannya menunjukkan perhatian yang sangat luas terhadap persoalan sosial dan spiritual, khususnya persoalan kesenjangan antara agama dan budaya – seperti yang telah .

Menurut Mbiti, Afrika memang memerlukan Injil. Sebab semua kebudayaan manusia, betapa indah dan agungnya tetap saja tercemar oleh dosa. Namun demikian Injil tidak menolak budaya, tetapi justru berperan sebagai pengubah. dalam artian, Injil melakukan Penilaian penuh rahmat atas budaya. Injil masuk ke dalam setiap kebudayaan sebagai orang asing, orang asing yang menetap disana. Dalam hal ini, Injil tidak membuang kebudayaan yang ada, sebaliknya Injil menetap di tengah-tengah kebudayaan yang ada.

Namun demikian ada satu yal yang sangat disayangkan oleh Mbiti yaitu, tentang westerinisasi iman kristiani. Injil yang dibawa ke tanah kelahirannya tidak “semurni” dan seperti apa adanya. Kekristenan yang hadir dan dibawa oleh misionaris banyak dibubuhi dengan kristalisasi budaya impor dan tentunya bercorak barat. Memmbawa budaya barat tadi dengan segala kompleksitasnya. mulai dari pakaian ala barat, lagu, bangunan bercorak barat, sampai pemikiran khas barat. Akibatnya, kekristenan yang dibawa oleh misi kristen tidak sungguh-sungguh bertemu dengan kepercayaan tradisional dan filsafat afrika.

Konteks penginjilan di Afrika ini memang tak jauh beda dengan konteks penginjilan di Indonesia. Banyak misionaris yang sedikit kolot, justru mengharuskan umat yang relatif baru untuk segera menyunat budaya lokal yang telah lama dihidupi itu. Alhasil, banyak orang undur dari pilihan religiusnya sebagai kristen – kasus seperti ini banyak terjadi kala Injil masuk ke tanah “seribu dewa” - pulau Bali. Slamet Wiyono

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top