Tokoh

Pannenberg

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:34 | Dilihat : 2875

Meneliti Penyataan Tuhan dalam Sejarah

Diskursus teologi niscaya tak akan mungkin berhenti. Bukan hanya karena sifat teologi sendiri yang dinamis dan progress – tapi juga karena ilmu teologi memang bukan ilmu pasti, meskipun satu segi tetap mengandung unsure kepastian (kepastian dalam balut iman). Salah satu hal yang membuat ilmu teologi menarik dipelajari adalah karena paradox antara kepastian dan keniscayaan ilmu teologi yang terus bergulir, penuh dinamika, sejalan dengan berbagai penelitian yang terus mengupas kebenarannya.. Teologi dengan unsur yang seperti itulah yang menarik bagi Wolfhart Pannenberg.

Awal ketertarikan Pannenberg terhadap penelitian teologi diduga muncul pada saat ia bergabung dalam satu kelompok diskusi dan peneliti saat Pannenberg menjadi mahasiswa di Heidelberg. Yang selanjut kelompok tersebut terkenal dengan nama “kelompok Pannenberg”. Bukan sekadar sebuah kelompok diskusi asal-asalan. Tapi sebuah komunitas yang secara serius melakukan penelitian, bahkan menghasilkan karya bersama dengan judul “pernyataan sebagai sejarah (1961).

Pannenberg, pria yang lahir di Settin, Jerman tahun 1928 merasa perlu memperjuangkan kepastian imannya, sekaligus memperjuangkan sisi rasionalitas dari apa yang diimaninya. Pannenberg menandaskan bahwa, teologi harus didasarkan atas sejarah dan harus terbuka terhadap penyelidikan ilmu-ilmu pengetahuan lain. Artinya, ilmu teologi bukan hanya ada dalam tatanan retorika dengan kepastian yang “semu”, abstrak dalam suatu keniscayaan. Tapi suatu ilmu yang dapat dibuktikan kebenarannya – meski sebagian masih tetap misteri. Untuk persoalan ini, Pannenberg mencoba menawarkan solusi dengan mengetengahkan satu konsep radikal tentang penyataan Kristus yang dibahasnya dalam tujuh karya ilmiah-dogmatis dibawah judul “Penyataan Sebagai Sejarah”.

Dalam ketujuh karyanya, Pria yang pernah mengenyam pendidikan di universitas Berlin dan Gottingen, juga pernah belajar secara langsung dengan Karl Barth - teolog besar di jamannya – mencoba melawan ortodoksi baru dan eksistensialisme. Satu pengajaran teologi yang memisahkan antara penyataan dari sejarah.

Bagi Pannenberg – seorang guru besar teologi sistematis di universitas Munchen – penyataan itu terdapat dalam sejarah, bukan hanya dalam bagian tertentu dari sejarah yang terkenal sebagai “sejarah keselamatan”, tetapi juga dalam seluruh sejarah, sejarah universal. Hal ini berarti bahwa penyataan allah baru lengkap pada akhir sejarah. Tetapi kita tidak dibiarkan tanpa pengetahuan mengenai hal itu.

Karya teologi Pannenberg yang terpenting adalah Yesus – Allah dan manusia (1964). Karya ini menerangkan tentang dua cara mendekati Kristus, yakni kristologi dari atas, yang mendekati Kristus dari sisi kealahan-Nya (Anak Allah) sedangkan kristologi dari bawah, mencoba mendekati Kristus dengan terlebih dahulu menyelidiki kemanusiaan-Nya. Pannenberg menganggap pendekatan pertama tidak penting,. Kristologi dari atas memiliki pra-anggapan keallahan Yesus. Pendekatan model ini mengakibatkan berkurangnya perhatian terhadap Yesus historis. Menurut Pannenberg hal ini disebabkan karena perhatian yang dipusatkan pada perdebatan mengenai bagaimana “kedua kodrat” ilahi dan manusia dapat dipersatukan dalam satu pribadi.

Bukan satu kesalahan jikalau Pannenberg lebih mementingkan penyelidikan terhadap penyataan Yesus yang menyejarah. Hal ini bukan karena dia tak tertarik terhadap sisi keilahian Kristus, tapi semua karena keinginannya untuk menunjukkan bahwa apa yang dipercayainya (imani) bukanlah satu objek gelap, tapi suatu subjek yang benar-benar ada dan menyejarah.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top