Tokoh

Efraim, Si Kecapi Roh Kudus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:35 | Dilihat : 683

Teolog Sekaligus Penyair

Terpujilah Dikau yang meletakkan salib-Mu untuk menjembatani kematian, agar jiwa-jiwa boleh berlalu di atasnya dari kematian ke tempat kehidupan (Homili tentang Tuhan kita 4).

Adalah hal yang biasa orang dengar, seorang teolog sekaligus sebagai seorang filosof. Tapi rasanya kok jarang terdengar di telinga tentang seorang teolog, sekaligus memiliki talenta sebagai seorang penyair. Apa lagi syairnya itu tak lain dan tak bukan hanya dipersembahkan untuk melayani dan mengagungkan nama Tuhan. Satu nama di antaranya adalah Efraim, seorang teolog sekaligus seorang penyair, bapa gereja purba yang berasal dari Siria.

Efraim adalah seorang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Karena itulah bukan satu hal aneh jikalau dia juga diakui sebagai seorang penulis berbobot di jamannya. Pria romantis kelahiran Nisibis dekat perbatasan dengan Persia sekitar abad ke-4 ini adalah sosok yang teramat penting dalam progres perkembangan teologi Kristen di wilayah timur. Tepatnya di daerah Edessa, ibu kota kerajaan Osrhoene yang penduduknya berbahasa Siria. Di tempat itulah Efraim membaktikan dirinya bagi kekristenan, sampai ia meninggal tahun 373.

Kepindahan Efraim dari Nisibis, kota kelahirannya ke Edessa bukanlah satu hal kebetulan. Semua karena dipaksa oleh keadaan. Di mana orang Parsi yang telah berkali-kali menyerang Nisisbis itu pun akhirnya berhasil merebut kota tempat di mana Efraim menjadi rahib (nisibis) pada Tahun 338. Namun kepindahan Efraim sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya. Banyak sekali karya yang berasal dari pergumulan teologis sang pujangga ini tentang iman. Di antaranya adalah tulisannya berupa ulasan Alkitab yang populer dan banyak dibaca oleh orang di jamannya, juga beberapa tulisan penting berupa karya-karya yang bersifat dogmatis. Ditujukan untuk melawan para penyesat yang banyak bermunculan, bahkan ajaran mereka marak berkembang, sampai pada taraf mengkhawatirkan.

Tak hanya berkutat pada literatur Kristen saja, kepekaan Efraim terhadap seni dan sastra juga turut membuahkan berbagai karya berupa pusi dan syair pujian-penyembahan serta beberapa gubahan nyanyian gereja bernuansa timur, yang sangat menolong progresivitas spiritual umat. Salah satu penggalan karyanya adalah seperti tertulis di atas tadi. Karena kepekaan ini pula Efraim dijuluki sebagai “kecapi Roh Kudus”.

Tak bisa dipungkiri, berbagai karya yang telah Efraim lahirkan semua tak bisa terlepas dari jasa-jasa naradidik sekaligus bapak imannya yang telah bersedia membimbing Efraim hingga sampai seperti itu. Dialah Yakobus, seorang uskup di Nisibis sekaligus seorang pertapa yang cukup terkenal di jamannya.

Karya-karya Efraim banyak menginspirasi orang dan teolog-teolog di jamannya agar tak hanya berkutat dengan pergulatan dan diskursus teologi semata. Tapi juga dapat mengembangkan bakat dan hobi sebagai saluran berkat bagi umat. Sebab hal itu sepertinya lebih terlihat nyata, konkrit dan dapat dinikmati umat secara langsung. Karyanya juga banyak diterjemahkan ke beberapa bahasa, dua di antaranya, bahasa Yunani dan Armenia. ? Slamet Wiyono/db

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top